Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Semangat Tsania Rahmawati Lulusan Unisba Blitar, Keterbatasan Fisik Tidak Menjadi Hambatan untuk Mengejar Ilmu hingga Raih Gelar Sarjana

M. Subchan Abdullah • Selasa, 28 November 2023 | 17:40 WIB
GIGIH BERILMU: Tsania Rahmawati usai menjalani wisuda sarjana Unisba Blitar beberapa waktu lalu.
GIGIH BERILMU: Tsania Rahmawati usai menjalani wisuda sarjana Unisba Blitar beberapa waktu lalu.

BLITAR-Unisba Blitar telah meluluskan 750 mahasiswanya pada 18 November lalu, di Hall Kampung Coklat. Salah satu mahasiswa yang diwisuda adalah Tsania Rahmawati.

Di tengah keterbatasannya sebagai penyandang disabilitas, mahasiswi Jurusan Ilmu Administrasi Niaga di Unisba Blitar ini berhasil merampungkan masa perkuliahan dengan tepat waktu. Menjadi salah satu mahasiswi berprestasi dengan IPK 3,7.

“Saya disabilitas sejak lahir. Meski begitu, saya tetap semangat untuk terus belajar termasuk di Unisba Blitar,” katanya kepada Jawa Pos Radar Blitar, kemarin (27/11/2023).

Sejak kecil, perempuan 23 tahun ini memang semangat dalam belajar. Sejak Taman Kanak-kanak (TK) hingga Madrasah Aliyah (MA) berhasil dilalui melalui sekolah biasa. Artinya, tanpa harus di sekolah luar biasa (SLB). Semua aktivitas dilakukan menggunakan kedua kaki. Sementara untuk mobilitas menggunakan bantuan kursi roda.

Memang akan ada pandangan negatif dari orang lain. Namun, hal itu tak mengurangi rasa optimisnya. Memilih cuek dan tutup telinga menjadi pilihan untuk terus melangkah. “Kalau saya cuek-cuek aja. Selagi gak merugikan orang lain,” ujarnya.

Tsania mengaku tidak mengalami banyak kendala selama menempuh pendidikan. Sebab, banyak support dari keluarga dan teman-teman yang siap membantu. Sehingga, bangku kuliah dapat dilalui dengan penuh suka cita.

Proses pengerjaan skripsi dilakukan secara online. Pasalnya, pandemi korona mengakibatkan perkuliahan tatap muka terpaksa dihentikan. Hal itu dirasa memudahkan proses pengerjaan skripsi. Sebab, mengurangi mobilitas ke kampus.

“Setiap hari saya diantar orang tua. Kalau online jadi gak perlu bolak-balik ke kampus. Alhamdulillah bimbingan dari awal sampai akhir berjalan lancar walaupun daring,” ujar anak kedua dari empat bersaudara ini.

Kini, Tsania disibukkan dengan membantu berjualan sang Ibu di toko sederhana depan rumahnya. Sembari mencari pekerjaan. Dia mengaku, ada keinginan untuk lanjut S2. Namun, masih mengumpulkan modal sembari berburu lowongan pekerjaan.

Menurut dia, sulit mencari pekerjaan dengan kondisinya saat ini. Sebab, di Blitar belum ada tempat yang mempekerjakan orang-orang disabilitas. Sehingga, harus mencari pekerjaan yang fleksibel atau bisa dikerjakan di rumah.

Keinginan membuka usaha sendiri pun muncul. Selain bisa dikerjakan dirumah, juga tidak terikat dengan aturan-aturan seperti ketika bekerja dengan orang lain. Jasa desain pun menjadi pilihan. “Ya, ada ketertarikan buat desain-desain gitu, sekarang masih belajar,” terangnya.

Tsania berharap kepada teman-teman disabilitas lain untuk terus menjalani kehidupan seperti biasa. Sebab, setiap orang punya keistimewaan masing-masing dan punya hak yang sama dengan orang lain. “Jangan takut berbeda. Jadikan kekuranganmu menjadi suatu kelebihan. Kalian juga punya mimpi yang sama, maka kerjarlah,” tuturnya. (*/sub)

 

Editor : Doni Setiawan
#disabilitas #unisba blitar #wisuda