TULUNGAGUNG- Sebagai guru bimbingan konseling (BK) di salah satu SMP negeri di Tulungagung, Isti Neti Rahayu, ternyata adalah sosok yang selama puluhan tahun menjaga bara seni tari tetap menyala.
Bukan sekadar hobi, seni tari bagi Isti Neti Rahayu, adalah cara untuk menyampaikan rasa, merekam perjalanan hidup, dan memberi makna baru pada dunia pendidikan di Tulungagung yang digeluti.
“Saya mulai menari sejak usia 4 tahun, didampingi orang tua di Tulungagung yang juga punya darah seni tradisi,” kenang perempuan kelahiran 1990 ini.
Meski sempat terputus saat SMP karena keterbatasan fasilitas dan dukungan, cintanya pada tari tak pernah padam. Dia kembali menari saat SMA dan sejak itu tak pernah benar-benar berhenti.
Kini, selain aktif mengajar, Neti juga menjadi pembina di salah satu sanggar tari. Dia tak hanya melatih gerak, tetapi menanamkan nilai. Baginya, tari bukan sekadar pertunjukan.
“Setiap gerak itu punya cerita. Lewat tari, saya bisa mengekspresikan rasa, bahkan yang sulit saya ucapkan dalam kata,” ujarnya.
Dalam berbagai proyek seni, nama Neti tak asing lagi. Dia pernah menggarap pertunjukan besar hingga ke tingkat nasional bahkan internasional.
Salah satu yang paling membanggakan adalah saat tampil di Singapura melalui kerja sama dengan sanggar seni setempat.
Dia juga menjadi bagian dari tim penyambutan budaya Indonesia di Filipina melalui proyek KAI.
Namun, salah satu momen paling berkesan adalah saat dipercaya memimpin pertunjukan seni dalam rangkaian P5 di sekolahnya, hingga tampil di hadapan Bupati Tulungagung.
“Saya memang senang kerja lapangan. Rasanya lebih hidup. Proyek itu saya kerjakan bersama tim pelatih. Mengonsep bersama, mengajak teman-teman sanggar yang sudah profesional, dan mendampingi anak-anak latihan hingga tampil. Capek iya, tapi puasnya luar biasa,” tutur ibu satu anak itu.
Baca Juga: SMPN 2 Tulungagung Gelar Tari Nusantara Massal di Titik 0 KM, Bupati Bilang Begini
Neti juga menyuarakan kegelisahannya akan minimnya wadah formal seni di Tulungagung. Dia berharap kelak ada sekolah seni setara SMKI seperti di Surabaya atau Solo.
“Tulungagung punya potensi seni yang luar biasa, tapi masih kurang ruang yang benar-benar mendukung anak-anak untuk berkembang di jalur ini secara profesional,” harapnya.
Di tengah derasnya arus digital dan perubahan zaman, Neti tetap berjuang. Dia percaya bahwa seni, terutama tari, adalah jembatan untuk mendidik generasi muda agar lebih peka, kreatif, dan punya karakter.
“Kalau anak punya minat, akan mudah dibimbing. Tapi lebih menantang adalah anak berbakat, tapi enggan berkembang. Di situ perjuangannya,” katanya.
Ketika ditanya apa makna tari baginya, dia menjawab pelan tapi penuh keyakinan.
“Tari adalah sebuah pengungkapan ekspresi dan rasa yang divisualisasikan melalui gerak dan musik yang dinamis. Dengan tari, saya bisa berbagi rasa kepada orang lain melalui gerak tubuh yang mendukung, sehingga orang lain dapat mengetahui cerita dan makna dari tari tersebut,” ujarnya.
Untuk para siswa yang tertarik pada seni, pesannya sederhana namun dalam. “Berkesenian itu bebas, tapi tetap harus tahu batas,” tutupnya. (*/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah