Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Pendidikan Karakter Indonesia Disorot, Filsafat Nicolaus Driyarkara Disebut Relevan di Tengah Kritik Sistem Pendidikan dan Program Sekolah Rakyat

Cholifatun Nisak • Selasa, 10 Maret 2026 | 13:40 WIB

 

Pendidikan Karakter Indonesia Disorot, Filsafat Nicolaus Driyarkara Disebut Relevan di Tengah Kritik Sistem Pendidikan dan Program Sekolah Rakyat
Pendidikan Karakter Indonesia Disorot, Filsafat Nicolaus Driyarkara Disebut Relevan di Tengah Kritik Sistem Pendidikan dan Program Sekolah Rakyat

RADAR TULUNGAGUNG– Isu pendidikan karakter Indonesia kembali menjadi sorotan dalam sebuah diskusi publik yang membahas kondisi pendidikan nasional, mulai dari sistem belajar, kualitas guru, hingga tantangan moral di kalangan elite politik.

Dalam diskusi tersebut ditegaskan bahwa pendidikan sejatinya bertujuan menggali potensi dan bakat yang ada dalam diri setiap manusia. Namun proses pengembangan bakat itu tidak bisa dilakukan secara instan karena perkembangan pengetahuan dan psikologis anak berlangsung secara bertahap.

Konsep pendidikan karakter Indonesia menjadi penting karena proses belajar harus berjalan melalui tingkatan yang jelas, mulai dari pendidikan keluarga, sekolah dasar, hingga perguruan tinggi. Setiap tahap memiliki kurikulum yang berbeda karena kemampuan berpikir siswa berkembang secara bertahap.

“Anak yang masih di tingkat SD tidak bisa langsung diberi pengetahuan tingkat SMP. Pendidikan itu punya proses bertahap karena perkembangan psikologis manusia juga bertahap,” ujar salah satu pembicara dalam diskusi tersebut.

Kritik terhadap Program Akselerasi Pendidikan

Diskusi tersebut juga menyinggung program akselerasi yang memungkinkan siswa melompat kelas karena dianggap memiliki kecerdasan di atas rata-rata.

Menurut pandangan yang disampaikan, sistem tersebut dinilai bermasalah karena hanya menilai kecerdasan intelektual tanpa mempertimbangkan perkembangan karakter.

Padahal pendidikan tidak hanya membangun kecerdasan akademik, tetapi juga membentuk karakter dan kedewasaan sosial.

Karena itu, pendidikan seharusnya mengikuti tahapan alami perkembangan manusia dan tidak sekadar mengejar prestasi akademik.

Pemikiran Driyarkara tentang Manusia

Dalam diskusi itu juga disinggung pemikiran filsuf Indonesia Nicolaus Driyarkara yang menekankan bahwa manusia memiliki dua dimensi penting, yaitu akal budi dan rohani.

Menurut pemikiran tersebut, manusia tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga hati nurani yang menjadi dasar moral dalam bertindak.

Jika pendidikan hanya mengembangkan kecerdasan tanpa membangun karakter, maka manusia berpotensi menyalahgunakan pengetahuan untuk kepentingan pribadi.

“Orang yang cerdas tetapi tidak memiliki hati nurani bisa saja menjadi koruptor,” ungkap pembicara dalam diskusi tersebut.

Pemimpin yang Tercerahkan

Diskusi juga menyinggung konsep pemimpin yang disebut sebagai “manusia tercerahkan”. Pemimpin seperti ini tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga kesadaran moral untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Sebagai contoh disebutkan tokoh pergerakan nasional seperti Sukarno dan Mohammad Hatta.

Keduanya memiliki pendidikan tinggi, tetapi memilih menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Mereka bahkan rela keluar masuk penjara demi memperjuangkan kemerdekaan karena memandang pendidikan sebagai alat untuk membebaskan masyarakat dari penindasan.

Kualitas Guru Jadi Sorotan

Kondisi pendidikan Indonesia saat ini juga dikritik, terutama terkait kualitas tenaga pendidik.

Disebutkan bahwa guru pada masa lalu sering menjadikan profesi mengajar sebagai panggilan jiwa. Mereka mengajar dengan dedikasi tinggi untuk mendidik generasi muda.

Namun saat ini sebagian guru dianggap menjalankan profesinya hanya sebagai pekerjaan untuk mendapatkan gaji bulanan.

Kondisi ini dinilai menjadi salah satu penyebab munculnya kasus siswa SMP yang tidak mampu membaca atau menulis.

Jika hal itu terjadi, maka tanggung jawab tidak hanya berada pada siswa, tetapi juga pada sistem pendidikan dan kualitas pengajar di sekolah.

Program Sekolah Rakyat

Dalam diskusi tersebut juga dibahas program pendidikan yang sedang dikembangkan pemerintah, termasuk program Sekolah Rakyat yang digagas Presiden Prabowo Subianto.

Program ini bertujuan memberikan akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin agar dapat memperoleh pendidikan yang layak.

Namun keberhasilan program tersebut dinilai sangat bergantung pada kualitas guru yang mengajar.

Jika guru hanya melihat profesinya sebagai pekerjaan tanpa panggilan untuk mendidik, maka program pendidikan apa pun berpotensi gagal.

Selain itu, pemerintah juga merencanakan pembangunan sekolah unggulan yang dikenal sebagai Sekolah Garuda untuk mengembangkan potensi siswa berprestasi.

Pentingnya Pendidikan Karakter

Diskusi tersebut juga menyoroti pentingnya pendidikan karakter dalam sistem pendidikan nasional.

Menurut pandangan yang disampaikan, pendidikan tidak boleh hanya menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga harus membentuk manusia yang memiliki moral dan tanggung jawab sosial.

Jika pendidikan hanya berfokus pada kecerdasan intelektual tanpa karakter, maka potensi penyalahgunaan kekuasaan dan korupsi akan terus muncul di berbagai sektor.

Karena itu, para pembicara menekankan bahwa reformasi pendidikan harus dimulai dengan menyeimbangkan antara pengembangan ilmu pengetahuan dan pembentukan karakter.

Tanpa keseimbangan tersebut, pendidikan dikhawatirkan hanya melahirkan generasi yang pintar secara akademik tetapi lemah dalam nilai moral dan tanggung jawab sosial.

 

Editor : Cholifatun Nisak
#Sekolah Rakyat Prabowo #guru dan pendidikan karakter #krisis pendidikan Indonesia #pendidikan karakter Indonesia #pemikiran Driyarkara