TULUNGAGUNG – SPMB SD Tulungagung tetap berlangsung sesuai jadwal yang telah ditetapkan dengan mekanisme pendaftaran secara offline.
Berbeda dengan jenjang SMP, SPMB SD Tulungagung tidak membuka gelombang kedua meski Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Tulungagung menyiapkan tahapan lanjutan bagi SMP negeri yang belum memenuhi pagu.
Kebijakan tersebut menegaskan adanya perbedaan mekanisme penerimaan peserta didik baru antara jenjang SD dan SMP pada tahun ajaran 2026.
Jika SPMB SD Tulungagung tetap berjalan sesuai jadwal awal, jenjang SMP diberi kesempatan tambahan untuk mengisi kursi yang masih kosong melalui gelombang kedua pada 1–4 Juli 2026.
Disdik memastikan gelombang kedua hanya berlaku bagi SMP negeri yang daya tampungnya belum terpenuhi setelah pelaksanaan tahap pertama. Sementara itu, proses penerimaan peserta didik baru jenjang SD tetap dilaksanakan secara offline tanpa penambahan tahapan pendaftaran.
Gelombang Kedua Hanya Dibuka untuk SMP
Panitia Pelaksana SPMB Disdik Tulungagung, Rifka Zuyun Umadah, menjelaskan bahwa pendaftaran gelombang kedua dimulai pada Selasa (1/7). Tahapan tersebut hanya diperuntukkan bagi sekolah yang masih memiliki kekurangan peserta didik.
"SPMB gelombang kedua diselenggarakan untuk sekolah-sekolah yang pagunya belum terpenuhi. Pendaftarannya mulai tanggal 1 Juli," ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (29/6).
Pelaksanaan gelombang kedua dilakukan karena masih banyak SMP negeri yang belum memenuhi kuota penerimaan siswa baru.
Dari total 48 SMP negeri di Kabupaten Tulungagung, baru delapan sekolah yang berhasil memenuhi pagu 100 persen pada gelombang pertama. Delapan sekolah tersebut yakni SMPN 1 Campurdarat, SMPN 1 Gondang, SMPN 1 Kauman, SMPN 1 Ngunut, SMPN 1 Sumbergempol, SMPN 1 Tulungagung, SMPN 2 Tulungagung, dan SMPN 3 Tulungagung.
Sementara itu, puluhan SMP negeri lainnya masih menyisakan banyak kursi kosong. Di antaranya SMPN Satap Sendang yang baru memperoleh dua siswa dari pagu 32 peserta didik, SMPN 2 Ngantru dengan tujuh siswa dari kuota 96 siswa, hingga SMPN 2 Pucanglaban yang baru menerima sembilan siswa dari pagu 64 siswa.
Selain itu, SMPN 2 Kedungwaru baru memperoleh 48 siswa dari kuota 192 siswa, SMPN 2 Karangrejo sebanyak 65 siswa dari pagu 160 siswa, SMPN 1 Pucanglaban 63 siswa dari kuota 128 siswa, SMPN 2 Besuki 73 siswa dari pagu 160 siswa, serta SMPN 2 Kalidawir yang juga baru menerima 73 siswa dari kuota 128 siswa.
Jalur Domisili Dioptimalkan untuk Mengisi Kuota
Menurut Zuyun, Disdik memberikan perhatian khusus kepada sekolah yang jumlah peserta didiknya masih sangat sedikit, terutama SMPN Satap Sendang.
Pada pelaksanaan gelombang kedua, calon peserta didik yang belum mengikuti seleksi ataupun belum diterima akan diarahkan mendaftar ke sekolah terdekat melalui jalur domisili.
"Untuk sekolah-sekolah seperti di Sendang, nanti anak-anak di wilayah tersebut yang belum mendaftar pada gelombang pertama akan diarahkan ke sana melalui jalur domisili. Harapannya ada tambahan peserta didik sehingga pagunya bisa bertambah terisi," jelasnya.
Skema tersebut juga diterapkan pada sekolah lain yang masih kekurangan siswa, seperti SMPN 2 Ngantru, SMPN 2 Rejotangan, dan sejumlah SMP negeri lainnya yang tingkat keterisian pagunya masih rendah.
Pelaksanaan SPMB Berjalan Lancar
Disinggung mengenai penyebab perbedaan tingkat keterisian kuota setiap tahun, Zuyun mengatakan jumlah lulusan SD yang tidak selalu sama menjadi salah satu faktor yang memengaruhi jumlah pendaftar ke SMP negeri.
"Setiap tahun kondisinya tidak selalu sama. Jumlah lulusan berbeda-beda sehingga sangat berpengaruh terhadap penerimaan peserta didik baru di SMP," terangnya.
Meski demikian, pelaksanaan SPMB 2026 secara umum berjalan lancar. Hingga memasuki tahapan daftar ulang, Disdik mengaku tidak menemui kendala berarti dalam proses penerimaan peserta didik baru.
"Alhamdulillah sejauh ini tidak ada kendala. Saat ini tinggal proses daftar ulang selama dua hari," katanya.
Zuyun kembali menegaskan bahwa penerimaan peserta didik baru jenjang SD tetap berlangsung sesuai jadwal dengan sistem pendaftaran offline dan tanpa gelombang kedua. "Gelombang kedua hanya untuk SMP, khusus sekolah yang pagunya belum terpenuhi. Jalurnya juga melalui domisili agar kursi yang masih kosong bisa segera terisi," pungkasnya.(sri)
Editor : Vidya Sajar Fitri