BLITAR – Pesantren Nurul Jadid Probolinggo kembali menjadi perhatian publik setelah dipercaya menjadi lokasi pelaksanaan peringatan Harlah Nahdlatul Ulama (NU) ke-102 tingkat PWNU Jawa Timur pada 2025. Kepercayaan tersebut menjadi bukti kiprah panjang pesantren yang telah berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam terbesar di Jawa Timur.
Dalam video yang diunggah di YouTube, Pesantren Nurul Jadid Probolinggo diceritakan memiliki sejarah perjuangan yang penuh tantangan. Berawal dari kawasan hutan di Desa Karanganyar, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, pesantren ini kini menampung ribuan santri dari berbagai daerah di Indonesia.
Tak hanya dikenal sebagai lembaga pendidikan, Pesantren Nurul Jadid Probolinggo juga memiliki peran besar dalam membangun kehidupan sosial, ekonomi, dan keagamaan masyarakat sekitar sejak pertama kali didirikan.
Didirikan KH Zaini Mun'im pada 1948
Sejarah Pesantren Nurul Jadid bermula pada 10 Muharam 1948 ketika KH Zaini Mun'im hijrah dari Madura menuju Desa Karanganyar, Kecamatan Paiton.
Baca Juga: Peringatan HUT Ke-81 RI di Ngunut Tulungagung Resmi Dimulai, Ribuan Warga Hadiri Pembukaan PHBN
Perpindahan tersebut dilakukan setelah beliau memperoleh restu sekaligus perintah dari KH As'ad Syamsul Arifin melalui ayahnya, KH Syamsul Arifin Sukorejo.
Saat pertama kali tiba, kawasan Karanganyar masih berupa hutan jati dan semak belukar yang dihuni berbagai binatang liar. Menurut penuturan KH Abdul Hamid dalam video tersebut, awalnya KH Zaini Mun'im berniat mengasingkan diri dari kekejaman penjajahan Belanda.
Namun, niat tersebut berubah setelah dua santri dari Ganding dan Sumenep, Madura, datang untuk belajar kepadanya. Kehadiran dua santri itu dianggap sebagai amanah yang harus dijaga sehingga menjadi awal berdirinya Pesantren Nurul Jadid.
Berawal dari Surau Kecil di Tengah Hutan
Selama sekitar satu tahun, KH Zaini Mun'im membuka lahan dengan menebangi pepohonan dan membangun rumah sederhana.
Baca Juga: Ketoprak Siswa Budoyo Angkat Kisah Joko Tingkir, Ada Cinta hingga Sayembara Berdarah
Ia juga mendirikan sebuah surau kecil yang menjadi tempat belajar agama bagi para santri pertama. Kawasan hutan perlahan berubah menjadi lahan pertanian sekaligus permukiman.
Seiring waktu, santri dari berbagai daerah mulai berdatangan, terutama dari Pulau Madura. Gubuk-gubuk sederhana kemudian dibangun sebagai tempat tinggal para santri hingga akhirnya berkembang menjadi kompleks pesantren yang semakin besar.
Mengubah Wajah Masyarakat Karanganyar
Perkembangan Pesantren Nurul Jadid membawa perubahan besar bagi masyarakat sekitar.
KH Abdul Hamid menjelaskan bahwa sebelum pesantren berdiri, sebagian masyarakat Karanganyar masih memegang kepercayaan animisme dan dinamisme. Praktik perjudian, perampokan, hingga prostitusi juga disebut masih ditemukan karena kondisi ekonomi yang lemah.
KH Zaini Mun'im kemudian memperkenalkan tanaman tembakau dengan membawa bibit dari Madura. Tanaman tersebut ternyata cocok dengan kondisi tanah di Karanganyar dan berhasil meningkatkan perekonomian masyarakat.
Setelah kesejahteraan warga mulai membaik, dakwah Islam dilakukan secara bertahap melalui pendidikan, pengajian, dan pembinaan akhlak sehingga kehidupan masyarakat mengalami perubahan yang signifikan.
Nama Nurul Jadid Punya Makna Mendalam
Nama Nurul Jadid memiliki sejarah tersendiri.
Dalam video dijelaskan bahwa nama tersebut diberikan atas saran KH Bakir Abdul Majid, salah seorang guru KH Zaini Mun'im.
Nama Nurul Jadid bermakna "cahaya baru", yang menjadi simbol harapan agar pesantren mampu menjadi penerang bagi masyarakat melalui pendidikan, dakwah, dan penguatan nilai-nilai Islam.
Fokus Cetak Santri yang Siap Mengabdi
Kini, Pesantren Nurul Jadid dikenal sebagai salah satu pesantren besar di Indonesia dengan ribuan santri dari berbagai daerah.
Selain membekali santri dengan ilmu keagamaan, pesantren juga menekankan pentingnya penerapan ilmu dalam kehidupan bermasyarakat.
Para santri diarahkan agar mampu mengamalkan ilmu yang dipelajari melalui kegiatan pendampingan dan pengabdian kepada masyarakat. Pendekatan tersebut menjadi salah satu ciri khas pendidikan di Pesantren Nurul Jadid.
Dipilihnya pesantren ini sebagai lokasi penyelenggaraan Harlah NU ke-102 semakin mempertegas peran strategis Pesantren Nurul Jadid Probolinggo sebagai lembaga pendidikan Islam yang tidak hanya mencetak generasi berilmu, tetapi juga berkontribusi dalam pembangunan sosial dan keagamaan di Indonesia.
Editor : Maylanni Diana Fitri