Pesantren Nurul Jadid Probolinggo Kini Tampung Ribuan Santri, Berawal dari Dua Murid di Tengah Hutan

Maylanni Diana Fitri • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 19:05 WIB
Pesantren Nurul Jadid Probolinggo berawal dari dua santri di tengah hutan pada 1948. Kini menjadi pesantren besar yang dipercaya menjadi tuan rumah Harlah NU ke-102.(SC Youtube)
Pesantren Nurul Jadid Probolinggo berawal dari dua santri di tengah hutan pada 1948. Kini menjadi pesantren besar yang dipercaya menjadi tuan rumah Harlah NU ke-102.(SC Youtube)

BLITAR – Pesantren Nurul Jadid Probolinggo memiliki perjalanan panjang yang sarat nilai perjuangan. Berawal dari sebuah kawasan hutan di Kabupaten Probolinggo dengan hanya dua santri, kini pesantren tersebut berkembang menjadi salah satu lembaga pendidikan Islam terbesar di Jawa Timur yang dihuni ribuan santri dari berbagai penjuru Nusantara.

Kisah perkembangan Pesantren Nurul Jadid Probolinggo diungkap melalui sebuah video dokumenter yang mengulas sejarah berdirinya pesantren, peran pendirinya, hingga kontribusinya dalam membangun masyarakat. Kiprah pesantren ini juga mendapat pengakuan ketika dipilih sebagai lokasi pelaksanaan Harlah Nahdlatul Ulama (NU) ke-102 tingkat PWNU Jawa Timur pada 2025.

Perjalanan Pesantren Nurul Jadid Probolinggo tidak hanya berkaitan dengan pendidikan agama. Pesantren ini juga dikenal berhasil mengubah kondisi sosial dan ekonomi masyarakat sekitar melalui dakwah yang dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan.

Bermula dari Hijrah KH Zaini Mun'im

Pesantren Nurul Jadid didirikan oleh KH Zaini Mun'im setelah hijrah dari Pulau Madura menuju Desa Karanganyar, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo.

Baca Juga: Kenaikan Gaji PNS 2027 Belum Dipastikan, Ini Fakta Terbaru dari Pemerintah dan Taspen

Perjalanan tersebut dilakukan pada 10 Muharam 1948 setelah mendapat restu dari KH Syamsul Arifin, ayah KH As'ad Syamsul Arifin Sukorejo.

Saat pertama kali tiba, wilayah Karanganyar masih berupa hutan jati dan semak belukar yang belum banyak dihuni masyarakat. Awalnya KH Zaini Mun'im berencana mengasingkan diri dari situasi penjajahan Belanda.

Namun, kedatangan dua santri dari Ganding dan Sumenep mengubah rencana tersebut. Kehadiran mereka menjadi awal dimulainya kegiatan belajar mengajar yang kemudian berkembang menjadi Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Dari Surau Sederhana Menjadi Pesantren Besar

Selama tahun pertama, KH Zaini Mun'im membuka lahan dan membangun rumah sederhana beserta sebuah surau kecil sebagai tempat ibadah sekaligus mengaji.

Baca Juga: Ketoprak Siswa Budoyo Angkat Kisah Joko Tingkir, Ada Cinta hingga Sayembara Berdarah

Sedikit demi sedikit kawasan hutan berubah menjadi permukiman dan pusat pendidikan Islam.

Semakin banyak santri datang dari Madura maupun daerah lain sehingga dibangun gubuk-gubuk sederhana sebagai tempat tinggal mereka. Perkembangan itu terus berlanjut hingga lahirlah kompleks Pesantren Nurul Jadid yang dikenal saat ini.

Dakwah Dimulai dari Pemberdayaan Ekonomi

Salah satu kisah menarik dalam perjalanan Pesantren Nurul Jadid adalah strategi dakwah yang dilakukan kepada masyarakat.

Saat itu sebagian warga Karanganyar masih dipengaruhi kepercayaan animisme dan dinamisme. Kondisi ekonomi yang sulit juga memicu berbagai persoalan sosial, seperti perjudian, perampokan, hingga praktik prostitusi.

KH Zaini Mun'im kemudian memperkenalkan budidaya tembakau dengan membawa bibit dari Madura. Tanaman tersebut berkembang dengan baik dan menjadi sumber penghasilan baru bagi masyarakat.

Setelah kondisi ekonomi warga mulai membaik, pendidikan agama dan pembinaan akhlak dilakukan secara lebih intensif sehingga perlahan kehidupan masyarakat mengalami perubahan.

Nama Nurul Jadid Bermakna Cahaya Baru

Nama Nurul Jadid diberikan oleh KH Bakir Abdul Majid, salah seorang guru KH Zaini Mun'im.

Nama tersebut memiliki arti "cahaya baru" yang mencerminkan harapan agar pesantren menjadi pusat penyebaran ilmu pengetahuan, nilai-nilai Islam, dan perubahan positif bagi masyarakat.

Semangat itulah yang hingga kini terus dipertahankan dalam sistem pendidikan Pesantren Nurul Jadid.

Fokus Mencetak Santri yang Siap Mengabdi

Pesantren Nurul Jadid tidak hanya mengajarkan teori keislaman kepada para santri.

Santri juga dibimbing untuk mengamalkan ilmu melalui kegiatan pendampingan dan pengabdian kepada masyarakat. Pendekatan tersebut menjadi bagian penting dalam proses pendidikan di lingkungan pesantren.

Seiring berkembangnya waktu, Pesantren Nurul Jadid berhasil memperoleh kepercayaan dari berbagai pihak. Salah satunya dengan menjadi tuan rumah penyelenggaraan Harlah NU ke-102 tingkat PWNU Jawa Timur pada 2025.

Kepercayaan tersebut memperkuat posisi Pesantren Nurul Jadid Probolinggo sebagai salah satu pesantren yang memiliki kontribusi besar dalam pengembangan pendidikan Islam, pemberdayaan masyarakat, serta pembentukan generasi yang berilmu dan berakhlak.

Editor : Maylanni Diana Fitri
Pesantren Nurul Jadid Probolinggo Pondok Pesantren Nurul Jadid KH Zaini Mun'im Pesantren Probolinggo Harlah NU 2025