BLITAR – Pesantren Nurul Jadid Probolinggo menjadi salah satu pondok pesantren yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan pendidikan Islam di Indonesia. Berawal dari kawasan hutan jati yang sepi pada akhir 1940-an, pesantren ini kini tumbuh menjadi lembaga pendidikan yang menampung ribuan santri dari berbagai daerah di Tanah Air.
Kiprah Pesantren Nurul Jadid Probolinggo kembali mendapat sorotan setelah ditunjuk sebagai tuan rumah peringatan Harlah Nahdlatul Ulama (NU) ke-102 tingkat PWNU Jawa Timur pada 2025. Penunjukan tersebut menjadi bukti pengakuan atas kontribusi pesantren dalam dunia pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.
Melalui video dokumenter yang mengulas sejarah berdirinya, Pesantren Nurul Jadid Probolinggo memperlihatkan bagaimana perjuangan para pendiri berhasil mengubah kawasan terpencil menjadi pusat pendidikan Islam yang terus berkembang hingga saat ini.
Hijrah KH Zaini Mun'im Jadi Awal Berdirinya Pesantren
Sejarah Pesantren Nurul Jadid dimulai ketika KH Zaini Mun'im hijrah dari Pulau Madura menuju Desa Karanganyar, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo pada 10 Muharam 1948.
Baca Juga: Ketoprak Siswa Budoyo Angkat Kisah Joko Tingkir, Ada Cinta hingga Sayembara Berdarah
Perjalanan tersebut dilakukan setelah memperoleh restu dari KH Syamsul Arifin, ayah KH As'ad Syamsul Arifin Sukorejo.
Saat itu, wilayah Karanganyar masih didominasi hutan jati dan semak belukar. Menurut penjelasan dalam video, tujuan awal KH Zaini Mun'im adalah mengasingkan diri dari situasi penjajahan Belanda yang masih berlangsung.
Namun rencana tersebut berubah setelah dua santri dari Ganding dan Sumenep datang untuk menimba ilmu. Dari peristiwa itulah cikal bakal Pesantren Nurul Jadid mulai terbentuk.
Dari Dua Santri Menjadi Ribuan
KH Zaini Mun'im kemudian membuka lahan dan mendirikan rumah sederhana beserta sebuah surau kecil sebagai tempat ibadah dan belajar.
Baca Juga: Sarwendah Keguguran Dua Kali, Trauma Jadi Alasan Tak Mau Tambah Anak
Keberadaan dua santri pertama menjadi awal berkembangnya aktivitas pendidikan di kawasan tersebut. Seiring berjalannya waktu, santri dari Madura dan berbagai daerah lain mulai berdatangan.
Untuk menampung mereka, dibangun gubuk-gubuk sederhana yang kemudian berkembang menjadi kompleks pondok pesantren dengan fasilitas yang semakin lengkap.
Perkembangan tersebut berlangsung secara bertahap hingga Pesantren Nurul Jadid dikenal sebagai salah satu pesantren besar di Jawa Timur.
Dakwah Dimulai dari Peningkatan Kesejahteraan Warga
Video tersebut juga mengungkap pendekatan dakwah yang dilakukan KH Zaini Mun'im kepada masyarakat sekitar.
Pada masa itu, sebagian warga Karanganyar masih menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Kondisi ekonomi yang belum berkembang juga memicu berbagai persoalan sosial.
Alih-alih langsung melakukan dakwah secara intensif, KH Zaini Mun'im terlebih dahulu memperkenalkan budidaya tembakau dengan membawa bibit dari Madura.
Tanaman tersebut berhasil berkembang dengan baik dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Setelah kondisi ekonomi membaik, ajaran Islam mulai diperkenalkan secara bertahap melalui pendidikan dan pembinaan keagamaan.
Nama Nurul Jadid Sarat Makna
Nama Nurul Jadid diberikan oleh KH Bakir Abdul Majid yang pernah menjadi guru KH Zaini Mun'im.
Secara harfiah, Nurul Jadid berarti "cahaya baru". Nama itu dipilih sebagai harapan agar pesantren mampu menjadi sumber pencerahan melalui ilmu pengetahuan, akhlak, dan dakwah Islam.
Semangat tersebut hingga kini masih menjadi landasan dalam proses pendidikan yang diterapkan di lingkungan pesantren.
Santri Didorong Mengabdi kepada Masyarakat
Selain memberikan pendidikan agama, Pesantren Nurul Jadid juga membekali santri dengan kemampuan mengaplikasikan ilmu yang dipelajari.
Para santri diarahkan untuk terlibat dalam kegiatan pendampingan masyarakat sehingga ilmu yang diperoleh tidak berhenti di ruang kelas maupun lingkungan pesantren.
Konsep pendidikan tersebut menjadi salah satu ciri khas Pesantren Nurul Jadid dalam mencetak lulusan yang tidak hanya memahami ajaran Islam, tetapi juga mampu memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
Dengan sejarah yang dimulai dari sebuah surau kecil di tengah hutan hingga dipercaya menjadi lokasi Harlah NU ke-102 pada 2025, Pesantren Nurul Jadid Probolinggo terus memperlihatkan perannya sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam yang berpengaruh di Indonesia.
Editor : Maylanni Diana Fitri