MALANG - Ada perjalanan yang tujuannya bukan sekadar sampai.
Ada pula perjalanan yang justru membuat kita bertanya: jangan-jangan selama ini kita yang berjalan terlalu pelan.
Kamis, (6/8/2026), saya kembali ke Malang.
Kali ini bukan sekadar kembali ke sebuah kota yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup 17 tahun lalu. Saya kembali ke tempat yang pernah membentuk saya: SMK Telkom Malang atau kami sering menyebutnya "moklet".
Kenapa kami menyebutnya moklet karena di Malang terkena bahasa kebalikan. Jadi kalo Telkom dibalik jadi Moklet.
Pagi itu saya berangkat dari Tulungagung bersama Direktur Jawa Pos Radar Tulungagung, Aris Sudanang, menggunakan kereta api Majapahit.
Kereta pagi membawa kami perlahan meninggalkan Tulungagung. Tidak ada agenda yang terasa tergesa. Sampai di Malang, kami menyempatkan diri singgah di Pasar Klojen.
Ngopi.
Suasananya tua. Jadul. Tetapi justru di situlah daya tariknya.
Bangunan lama, aroma kopi, dan obrolan pagi menjadi pembuka sebelum perjalanan dilanjutkan.
Kami kemudian bertemu Direktur Disway Malang, Agung Pamujo. Bersama dua awak media, Mohammad Khakim dan Panca Rachmad Pamungkas, rombongan bergerak menuju SMK Telkom Malang sekitar pukul 09.30.
Pukul 10.00 kami tiba.
Alamatnya masih sama: Jalan Danau Ranau, Sawojajar, Kota Malang.
Tetapi ada sesuatu yang terasa berbeda.
Sekolah itu seperti sudah berlari jauh meninggalkan masa lalu.
Kami disambut Hirga Ertama Putra, staf Hubinkom SMK Telkom Malang.
Bagi saya, pertemuan itu memiliki rasa tersendiri.
Hirga bukan orang asing.
Ia teman seangkatan saya ketika sama-sama mengenakan seragam SMK Telkom.
Maka percakapan pertama tentu bukan soal kurikulum.
Bukan pula soal teknologi.
Nostalgia dulu.
Cerita masa sekolah.
Mengenang bagaimana kami pernah berada di tempat yang sama, belajar hal yang sama, dan melewati masa remaja yang sama.
Namun, nostalgia itu tidak berlangsung lama.
Pembicaraan segera membawa kami kepada wajah SMK Telkom hari ini.
Termasuk soal Penerimaan Peserta Didik Baru.
Aris Sudanang kemudian membuka percakapan.
"Kalau sekarang penerimaan siswa baru, bagaimana SMK Telkom melihat minat calon siswa? Apakah yang paling penting jumlah siswa atau memang benar-benar minatnya?" tanya jebolan Sastra Rusia, Universitas Padjajaran, Bandung itu.
Hirga Ertama Putra menjelaskan bahwa sekolah tidak ingin sekadar mengejar jumlah peserta didik.
Minat siswa menjadi pertimbangan penting karena proses pendidikan di SMK Telkom membutuhkan ketertarikan terhadap bidang teknologi dan informatika.
"Kami tentu ingin anak yang masuk memang punya minat. Kalau dari awal tidak tertarik lalu dipaksa masuk, nanti proses belajar mengajarnya juga bisa tidak maksimal," jawab alumni Moklet angkatan 15.
Sebagai sekolah swasta, SMK Telkom memang memiliki keleluasaan untuk membuka penerimaan siswa lebih awal.
Namun, bagi sekolah, penerimaan siswa bukan sekadar persoalan memenuhi kuota.
Dan siswa SMK Telkom memang datang dari berbagai penjuru.
Sekitar 60 persen berasal dari luar daerah. Ada yang dari Tulungagung, Blitar, Kediri, bahkan Bali.
Mereka datang bukan sekadar mencari sekolah.
Mereka datang mencari masa depan.
AI Sudah Masuk Ruang Kelas
Kemudian pembicaraan masuk ke sesuatu yang hari ini tidak mungkin dihindari.
Agung Pamujo ikut mengarahkan pembicaraan pada perubahan dunia pendidikan akibat AI.
"Kalau sekarang AI sudah masuk ke semua bidang, bagaimana di SMK Telkom? Apakah guru sudah menggunakan AI dalam pembelajaran dan bagaimana dengan siswanya?" tanya pria pecinta bola.
Hirga tersenyum.
Di sekolah yang sejak awal dikenal berbasis informatika, AI bukan lagi sesuatu yang sedang diperkenalkan.
AI sudah masuk ruang kelas.
"Sudah. Bahkan sekarang ada kondisi guru menggunakan AI untuk membuat soal, sementara siswa juga menggunakan AI untuk membantu menjawab soal," kata Hirga.
AI melawan AI.
Ada cerita yang membuat kami tersenyum.
Tetapi SMK Telkom tidak membiarkannya berjalan tanpa aturan.
Ada siasat.
Ada batas.
Ada etika.
"AI ini tidak mungkin kita larang begitu saja. Yang penting bagaimana penggunaannya diatur. Anak-anak harus tahu kapan AI boleh digunakan dan bagaimana menggunakannya dengan bertanggung jawab," jelas Hirga.
Sebab teknologi tanpa etika hanya akan melahirkan manusia yang pandai menggunakan alat, tetapi belum tentu memahami tanggung jawab.
Di titik itu saya mulai memahami sesuatu.
SMK Telkom bukan hanya mengajarkan teknologi.
Sekolah ini sedang mengajarkan bagaimana manusia hidup berdampingan dengan teknologi.
Kurikulum yang Datang Lebih Dulu
Aris kemudian bertanya mengenai kurikulum.
"Kalau melihat perkembangan industri sekarang, seberapa jauh kurikulum SMK Telkom menyesuaikan kebutuhan industri?" tanyanya.
Hirga kemudian bercerita tentang pengalamannya sendiri.
Kurikulum yang diajarkan di SMK Telkom, menurutnya, memang banyak bersinggungan dengan kebutuhan dunia industri.
"Saya sendiri ketika kuliah S1 sampai semester tujuh masih menemukan materi yang dulu sudah saya pelajari di SMK Telkom," ujar Hirga.
Cerita itu membuat kami cukup terdiam.
Hirga bahkan mengaku pengalaman tersebut membuat dirinya relatif lebih siap ketika memasuki dunia perkuliahan.
"Teman-teman saya dulu sampai bilang, kok saya seperti sudah belajar lebih dahulu. Karena beberapa materi yang mereka baru dapat di kampus, saya sudah pernah dapat ketika masih SMK," katanya.
Saya kemudian berpikir.
Mungkin ukuran keberhasilan sebuah SMK bukan hanya berapa banyak siswa yang lulus.
Tetapi seberapa lama ilmu yang mereka dapatkan tetap relevan setelah meninggalkan sekolah.
Dan SMK Telkom tampaknya sedang mengejar ukuran itu.
Belajar Bekerja Sebelum Lulus
Kami kemudian diajak melihat co-working space.
Di tempat ini saya benar-benar terdiam.
Konsep sekolahnya terasa berbeda.
Siswa tidak hanya belajar tentang pekerjaan.
Mereka mulai merasakan pekerjaan.
Siswa kelas XI dan XII terlibat dalam berbagai proyek. Mereka menghadapi tantangan yang dibuat menyerupai dunia industri.
Ada target.
Ada proyek.
Ada tanggung jawab.
Agung kemudian kembali bertanya.
"Di co-working space ini, anak-anak statusnya masih belajar atau sudah benar-benar mengerjakan pekerjaan seperti di industri?" tanyanya kepada Waka SMK Telkom Malang bidang Hubinkom, Qodri Akbar Wajdi.
Qodri menjelaskan bahwa konsep tersebut memang dirancang agar siswa mendapatkan pengalaman kerja nyata sejak masih bersekolah.
"Di sini anak-anak sudah mengerjakan project. Mereka mendapatkan challenge, punya target, kemudian bekerja dan menyelesaikan project seperti layaknya orang bekerja," jelas Qodri.
Yang menarik, proses tersebut tidak berhenti pada pengalaman.
Siswa juga mendapatkan kompensasi dari pekerjaan yang dilakukan.
"Jadi mereka juga mendapatkan kompensasi dari project yang dikerjakan. Kompensasi itu kemudian bisa diarahkan menjadi beasiswa," terang Qodri.
Saya tiba-tiba membayangkan begitu banyak lulusan sekolah yang baru mengenal dunia kerja setelah menerima ijazah.
Di sini, mereka sudah mencicipinya sebelum lulus.
Bukan sekadar teaching factory.
Ini seperti jembatan.
Sekolah di satu sisi.
Dunia kerja di sisi lainnya.
Dan siswa mulai belajar menyeberang sebelum benar-benar dilepas.
Qodri kemudian menjelaskan berbagai pengembangan lain yang dilakukan SMK Telkom.
Salah satunya Agrotekno, termasuk gagasan peternakan komunal berbasis teknologi.
Aris tampak tertarik.
"Berarti konsep teknologi di sini tidak hanya berhenti pada informatika?" tanya pria asal Ngawi.
"Betul. Teknologi itu bisa masuk ke banyak sektor. Karena itu kami juga mengembangkan Agrotekno. Jadi teknologi tidak hanya digunakan untuk komputer, tetapi juga bisa diterapkan di pertanian, peternakan, dan kebutuhan lainnya," jawab Qodri.
Saya kembali dibuat berpikir.
Ternyata sekolah teknologi tidak harus hanya bicara komputer.
Teknologi bisa masuk ke peternakan.
Bisa masuk ke pertanian.
Bisa masuk ke kehidupan sehari-hari.
Robotik, Mesin dan Ruang untuk Bereksperimen
Dari sana kami bergerak menuju laboratorium robotik.
Robotik memang bukan mata pelajaran wajib. Ia menjadi bagian dari pengembangan minat siswa.
Namun fasilitasnya membuat kami kembali tercengang.
Ada mesin 3D printing yang bisa digunakan untuk membuat produk secara custom. Ada pula perangkat dan prosesor dengan nilai investasi yang tidak kecil.
Agung kembali memperhatikan fasilitas tersebut.
"Kalau fasilitas seperti ini digunakan siswa, berarti mereka memang diberikan ruang untuk membuat dan bereksperimen sendiri?" tanyanya.
Qodri mengangguk.
"Memang kami berikan ruang. Robotik ini bukan pelajaran wajib. Ini lebih kepada pengembangan minat. Anak-anak yang tertarik bisa bereksperimen, membuat sesuatu, mencoba, kemudian melihat hasilnya," jelasnya.
Yang menarik bukan sekadar mahalnya peralatan itu.
Melainkan keberanian sekolah menghadirkannya di ruang belajar.
Sebab teknologi tidak akan benar-benar dipahami hanya dengan membaca buku.
Ia harus disentuh.
Dicoba.
Dibuat.
Gagal.
Kemudian diperbaiki.
Di situlah proses belajar yang sesungguhnya terjadi.
Dari Secangkir Kopi, Membicarakan Masa Depan Website
Setelah berkeliling, kami kemudian duduk di Wikusama Coffee Shop.
Kopi ditraktir Qodri.
Rasanya seperti sedang ngopi bersama keluarga besar alumni.
Wikusama—Widyaloka Kusuma Samekta Makarya—memang menjadi salah satu ruang bagi keluarga alumni SMK Telkom.
Di tempat itu, pembicaraan kembali kepada AI.
Kali ini pertanyaannya sangat dekat dengan dunia kami sebagai pekerja media.
Aris membuka pembicaraan.
"Kalau sekarang orang bisa langsung bertanya kepada AI dan mendapatkan jawaban tanpa membuka banyak website, bagaimana sebenarnya masa depan website?" tanya pecinta Dahlan Iskan.
Pertanyaannya sederhana.
Jawabannya justru dalam.
Qodri menjelaskan bahwa AI tetap membutuhkan sumber informasi.
"AI itu alat. Kalau tidak ada website atau sumber informasi yang terus diperbarui, AI juga tidak punya bahan untuk memberikan jawaban. Jadi website tetap penting," jawabnya.
Aris kembali mengejar.
"Berarti di era AI ini manusianya tetap menjadi faktor paling penting?"
"Betul. Yang paling penting tetap manusianya. AI bisa membantu memberikan jawaban, tetapi manusia yang harus memastikan jawabannya benar atau tidak. Manusia yang mengecek, mengoreksi, dan bertanggung jawab," tegas Qodri.
Kalimat itu seperti menemukan titik temu antara sekolah dan media.
Sebab dunia jurnalistik pun menghadapi pertanyaan yang sama.
AI bisa menulis.
AI bisa merangkum.
AI bisa mencari pola.
Tetapi siapa yang memastikan informasi itu benar?
Manusia.
Dan siapa yang bertanggung jawab ketika informasi itu salah?
Tetap manusia.
Itulah yang kemudian saya pahami sebagai etika berteknologi.
Ada saatnya teknologi digunakan.
Ada saatnya teknologi harus dikendalikan.
Sebab pintar menggunakan teknologi tidak otomatis berarti bijak dalam menggunakannya.
Pulang sebagai Alumni, Kembali Menjadi Murid
Pukul 11.30 kami berpamitan.
Hampir dua jam berada di sekolah.
Namun rasanya terlalu cepat.
Saya datang sebagai alumni.
Tetapi pulang seperti seorang murid lagi.
Hanya saja, ada yang berubah.
Dulu saya datang ke SMK Telkom untuk belajar teknologi.
Hari ini saya datang untuk belajar bagaimana teknologi mengubah cara manusia belajar.
Di perjalanan pulang, saya terus memikirkan satu hal.
Sekolah yang baik bukanlah sekolah yang paling sibuk mengejar teknologi terbaru.
Sekolah yang baik adalah sekolah yang mampu mengajarkan muridnya kapan harus menggunakan teknologi dan kapan harus menggunakan pikirannya sendiri.
Sebab masa depan bukan tentang manusia melawan mesin.
Masa depan adalah tentang manusia yang mampu menggunakan mesin tanpa kehilangan kemanusiaannya.
SMK Telkom mungkin sedang berjalan ke arah sana.
Mereka tidak sedang melawan AI.
Mereka sedang menyiapkan manusia agar tidak kalah oleh AI.
Dan mungkin, itulah pendidikan yang paling kita butuhkan hari ini.
Penulis adalah Anggi Septian, Jurnalis Ai Radar Tulungagung dan juga alumni SMK Telkom Malang angkatan ke-15. (*)
Editor : Anggi Septian A.P.