RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Ribuan penggemar jejepangan atau wibu saling menuangkan ekspresinya dalam Arashi Ratu No Matsuri yang dihelat di GOR Lembupeteng minggu kemarin (13/8). Di sisi lainnya, event tersebut juga sebagai pengungkit roda perekonomian di Tulungagung agar semakin kencang.
Manager event Jawa Pos Radar Tulungagung, Yan Christanto menjelaskan event kolaborasi antara Jawa Pos Radar Tulungagung bersama Arashi Project Tulungagung tersebut mencoba untuk mencoba untuk mewadahi siapa saja yang menyukai jejepangan. Karena selama beberapa tahun terakhir, para wibu utamanya di Tulungagung harus menahan diri untuk berkekspresi karena minimnya event yang ada. “Makanya ini kita wadahi, supaya mereka bisa berekspresi sebagaimana yang diinginkan. Seperti memakai kostum-kostum atau hal lainnya yang berhubungan dengan jejepangan,” jelas pria asal Desa/Kecamatan Pucanglaban itu.
“Informasinya terakhir pada 2018 silam event semacam ini diadakan di Tulungagung. Jadi Arashi Ratu No Matsuri ini menjadi yang pertama setelah pancemi Covid-19,” sambungnya.
Melihat antusiasme peserta yang hadir, dia mengaku kaget karena mendapatkan atensi yang luar biasa meski masih event pertama. Tentunya didukung dengan pemilihan lokasi yakni di GOR Lembupeteng yang berada di dekat pusat kota Tulungagung. “Karena tempatnya strategis, membuat para pecinta jejepangan dari luar daerah bisa dengan mudah mengakses,” jelasnya.
Menurut dia, Arashi Ratu No Matsuri dikemas dengan konsep yang fun namun tetap berdampak jika dilihat dari segi perekonomian. Disana, ada beberapa stand bazar yang berdiri yang bisa mengakomodir pengunjung yang datang. “Harapannya bisa menjadi pengungkit roda perekonomian di Tulungagung. Bazarnya ramai, di depan petugas parkirnya juga bisa mendapatkan rezeki,” ujarnya.
Sementara Ketua Pelaksana Arashi Ratu No Matsuri, Sony Yahya membeberkan ternyata tidak hanya wibu asal Tulungagung saja yang hadir dalam event tersebut. Melainkan ada pecinta jejepangan se-eks Karesidenan Kediri yang hadir, ditambah wibu asal Malang, Jombang, sampai Mojokerto. Konsepnya sendiri, Arashi Ratu No Matsuri mengangkat lokal konten dari Tulungagung seperti marmer maupun pantai. “Nama maskot kita dalam event ini adalah Minami Arashi yang artinya adalah badai selatan. Istilahnya adalah Lasbas (laskar badai Selatan) kita,” jelasnya dengan tertawa.
Dia memastikan para wibu yang hadir akan dimanjakan pada event tersebut. Seperti adanya delapan stand food and beverage (F&B) yang menjual berbagai makanan Jepang serta sembilan stand merchandise yang menjual aneka oleh-oleh jejepangan. Event yang dilaksanakan selama seharian tersebut, diisi dengan J-Song atau lagu bernuansa Jepang dan Coswalk atau peragaan cosplay di atas karpet merah. “Juga ada J-Band dan penampilan dari cosplayer-cosplayer lokal Tulungagung,” katanya.
“Kalau antusiasmenya sih di luar ekspektasi ya. Acara ini bisa terselenggara karena semangatnya temen-temen wibu, kerinduan selama ini seakan terobati,” tuntas Yahya.(nul/rka)
Editor : Anggi Septian A.P.