Radar Tulungagung – Di tengah perubahan zaman yang serba modern, sebagian masyarakat Tulungagung masih memegang teguh kepercayaan lama, termasuk larangan menggelar pernikahan di bulan Selo dalam penanggalan Jawa.
Larangan ini bukan sekadar kebiasaan, tetapi dilandasi oleh mitos yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Bulan “Tengah-tengah” yang Penuh Pantangan.
Dalam kalender Jawa, bulan Selo adalah bulan ke-11, datang setelah Rejeb dan sebelum Suro.
Bulan ini dianggap sebagai waktu transisi atau masa "lungguh" (duduk diam), yang tidak baik untuk memulai sesuatu yang besar, termasuk pernikahan.
Mitos: Pengantin yang Membawa Kesialan
Salah satu cerita yang sering diceritakan turun-temurun berasal dari daerah perbatasan Tulungagung dan Trenggalek.
Konon, dahulu ada sepasang kekasih yang tetap nekat menikah di bulan Selo meski sudah dilarang orang tua. Di hari pernikahan, hujan deras mengguyur tiada henti.
Sesudah pesta selesai, pengantin pria tiba-tiba jatuh sakit parah dan meninggal dunia tujuh hari kemudian.
Sejak kejadian itu, warga setempat percaya bahwa bulan Selo “tidak ramah” untuk pernikahan, karena diyakini menjadi bulan di mana arwah, pasangan hidup yang belum berjodoh, dan bisa “ikut” dalam pernikahan jika tidak hati-hati.
Mitos ini berdampak langsung pada perilaku sosial masyarakat. Jasa rias pengantin, sewa tenda, hingga katering biasanya sepi order selama bulan Selo.
Antara Mitos dan Kehati-hatian Budaya
Meski tak semua orang percaya, banyak pasangan memilih menunda pernikahan demi menghormati tradisi
Bulan Selo, dengan segala mitos dan pantangannya, menjadi potret unik bagaimana warisan budaya dan cerita rakyat masih membentuk keputusan penting dalam hidup masyarakat Tulungagung.Baca Juga: Terapkan Kabel Listrik Bawah Tanah, Pemandangan di Kota Magelang Berubah Total. Tulungagung Kapan?
Di antara nalar dan kepercayaan, masyarakat berjalan di dua kaki: menjaga tradisi, sekaligus menapaki masa depan
Editor : Sandy Sri Yuwana