TULUNGAGUNG - Tulungagung sebuah kabupaten di Jawa Timur yang dikenal dengan marmer dan pantainya yang indah, ternyata juga menyimpan kekayaan budaya yang tak kalah menarik.
Di balik kehidupan masyarakat Tulungagung yang sederhana, terdapat sejumlah tradisi unik Tulungagung yang masih lestari hingga kini.
Tradisi ini bukan hanya menjadi kebanggaan warga lokal, tetapi juga magnet bagi wisatawan budaya dari berbagai daerah, ini deretan tradisi unik di Tulungagung:
1. Tradisi Larung Sesaji Pantai Popoh
Salah satu tradisi paling dikenal adalah Larung Sesaji yang rutin digelar di Pantai Popoh, Tulungagung bagian selatan.
Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan dan penghormatan terhadap penjaga laut (Nyi Roro Kidul menurut kepercayaan lokal).
Warga membawa sesaji seperti hasil bumi, ayam, dan kepala kerbau yang kemudian dilarung ke laut.
Waktu pelaksanaan: Bulan Suro (penanggalan Jawa), biasanya pada malam 1 Suro atau hari tertentu yang dianggap sakral.
Lokasi: Pantai Popoh, Kecamatan Besuki, Tulungagung.
Daya tarik wisata: Prosesi larung sesaji yang meriah, pertunjukan seni tradisional, dan pasar rakyat.
2. Kebo-Keboan Sendang
Meskipun lebih dikenal di Banyuwangi, tradisi serupa juga ada di Tulungagung, tepatnya di Desa Sendang. Tradisi ini menampilkan warga yang berdandan menyerupai kerbau dan berparade keliling desa.
Tujuannya adalah memohon kesuburan tanah dan hasil panen yang melimpah.
Keunikan: Warga "kerbau" akan bermain lumpur dan membajak sawah secara simbolik.
Lokasi: Desa Sendang, Kecamatan Sendang, Tulungagung.
Waktu: Sekitar bulan September–Oktober, menjelang musim tanam.
3. Tradisi Nyadran Makam Leluhur
Nyadran adalah tradisi ziarah ke makam leluhur yang dilakukan secara massal, diiringi kenduri dan doa bersama. Di Tulungagung, tradisi ini menjadi ajang silaturahmi antarkeluarga besar dan sarana melestarikan nilai gotong-royong.
Tempat terkenal: Makam Ki Ageng Buwono di Kalidawir dan beberapa situs leluhur lain.
Kegiatan: Membersihkan makam, membawa makanan tumpeng, doa bersama, dan pertunjukan reog atau campursari.
Waktu: Menjelang bulan Ramadan atau pada bulan Ruwah (penanggalan Jawa).
4. Upacara Bersih Desa
Setiap desa di Tulungagung memiliki ritual bersih desa yang berbeda, namun intinya adalah membersihkan lingkungan secara spiritual dan fisik. Acara ini biasanya dirayakan dengan hiburan rakyat seperti wayang kulit, jaranan, dan pasar malam.
Nilai budaya yang menjaga keharmonisan dengan alam dan roh penjaga desa.
Waktu pelaksanaan: Bervariasi antar desa, namun umumnya di pertengahan tahun.
Dampak pariwisata: Menarik wisatawan untuk mengenal kehidupan pedesaan dan kearifan lokal.
Mengapa Tradisi di Tulungagung Layak di kunjungi? Selain keindahan alamnya seperti Pantai Gemah, Pantai Sine, dan Air Terjun Alas Kandung, wisatawan juga bisa mendapatkan pengalaman budaya otentik dengan menyaksikan langsung tradisi-tradisi ini. (rin)
Editor : Didin Cahya Firmansyah