TULUNGAGUNG-Bulan Suro dalam kalender Jawa memiliki makna yang sangat mendalam bagi masyarakat Tulungagung.
Sebagai bulan pertama dalam kalender Jawa, Suro, di Tulungagung dianggap sebagai bulan yang penuh dengan makna spiritual dan budaya.
Di Tulungagung, banyak tradisi dan upacara adat yang masih dilakukan hingga kini untuk menyambut dan memperingati bulan Suro.
Berbagai budaya dan tradisi di bulan Suro yang masih dilestarikan oleh masyarakat Tulungagung, serta bagaimana nilai-nilai luhur dari tradisi tersebut tetap relevan di era modern ini.
1. Upacara Sedekah Laut: Ungkapan Syukur dan Harapan Baru
Salah satu tradisi yang sangat khas di bulan Suro di Tulungagung adalah Upacara Sedekah Laut.
Upacara ini dilaksanakan oleh masyarakat pesisir yang menggantungkan hidupnya pada hasil laut.
Tujuan dari upacara ini adalah sebagai bentuk rasa syukur atas hasil laut yang melimpah dan sebagai permohonan keselamatan bagi masyarakat agar terhindar dari bencana alam serta mendapatkan hasil tangkapan yang lebih baik di tahun mendatang.
Upacara sedekah laut di Tulungagung biasanya diawali dengan doa bersama di pantai, diikuti dengan kirab yang membawa hasil bumi, seperti nasi tumpeng, ikan, dan berbagai jenis makanan lainnya.
2. Peringatan Hari Raya Muharram: Doa Bersama dan Refleksi Diri
Selain Sedekah Laut, bulan Suro juga identik dengan peringatan Hari Raya Muharram yang jatuh pada tanggal 1 Suro.
Dalam konteks Tulungagung, peringatan Muharram ini sering kali dilaksanakan dengan doa bersama, tahlil, dan berbagai kegiatan keagamaan lainnya sebagai bentuk penghormatan kepada perjalanan sejarah Islam.
Bagi masyarakat Tulungagung yang mayoritas beragama Islam, bulan Suro menjadi waktu untuk melakukan refleksi diri, memperbaiki hubungan dengan Tuhan, dan memperbaharui niat untuk menjalani hidup yang lebih baik.
Pada bulan ini, banyak masjid dan musholla yang mengadakan acara khataman Al-Qur'an, doa bersama, serta perayaan yang melibatkan masyarakat setempat.
Upacara peringatan Muharram ini menjadi penting karena selain sebagai sarana untuk memperkuat ibadah, juga untuk mempererat tali persaudaraan.
3. Ritual Pengajian dan Selametan di Desa
Selain upacara besar seperti Sedekah Laut, banyak desa di Tulungagung yang masih melaksanakan ritual pengajian dan selametan pada malam 1 Suro.
Selametan ini dilaksanakan di rumah-rumah warga atau di balai desa, dengan tujuan untuk memohon keselamatan, keberkahan, dan perlindungan dari Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam ritual ini, warga berkumpul untuk bersama-sama membaca doa, tahlil, dan berdoa bagi keselamatan diri dan keluarga.
Selametan ini juga menjadi ajang silaturahmi antar tetangga dan mempererat hubungan sosial di dalam masyarakat.
4. Tradisi Mandi Sumber Air: Membersihkan Diri dan Rohani
Sebagian masyarakat Tulungagung juga masih menjalankan tradisi mandi sumber air atau yang sering disebut dengan mandi keramat pada bulan Suro.
Mandi ini dilakukan di sumber mata air yang dianggap memiliki kekuatan spiritual untuk membersihkan diri baik secara fisik maupun rohani.
Tradisi ini biasanya dilaksanakan di lokasi-lokasi tertentu yang diyakini memiliki aura spiritual tinggi, seperti di mata air desa atau lokasi yang dikenal dengan kisah-kisah mistis.
Masyarakat yang mengikuti ritual mandi ini percaya bahwa dengan membersihkan diri di tempat tersebut, mereka akan memperoleh keberkahan dan terhindar dari bahaya di tahun yang akan datang.
5. Ritual Nyadran: Ziarah ke Makam Leluhur
Nyadran adalah tradisi ziarah ke makam leluhur yang masih dilakukan oleh sebagian masyarakat Tulungagung pada bulan Suro.
Tradisi ini merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur dan permohonan doa agar diberi kesehatan serta rezeki yang lancar.
Ziarah ke makam ini biasanya dilakukan secara berkelompok, dengan membawa berbagai sesaji seperti bunga, buah-buahan, dan makanan sebagai tanda penghormatan.
Selain itu, tradisi ini juga berfungsi untuk mempererat hubungan antar keluarga dan menjaga keberlangsungan nilai-nilai kekerabatan.
Jadi, bulan Suro di Tulungagung bukan hanya sekadar pergantian bulan, tetapi juga merupakan waktu yang penuh makna bagi masyarakat setempat untuk melakukan refleksi diri, memohon keselamatan, dan menjaga tradisi yang telah diwariskan oleh leluhur.
Dari upacara sedekah laut yang sakral hingga ritual Nyadran yang penuh makna, bulan Suro di Tulungagung tetap menjadi waktu untuk memperkuat hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah