RADAR TULUNGAGUNG - Rabu terakhir atau kerap disebut Rebo Wekasan, Rebo Pungkasan, atau Rebo Kasan, adalah sebuah tradisi yang dilaksanakan setiap Rabu terakhir di bulan Safar dalam kalender Hijriah.
Tradisi ini telah mengakar di berbagai daerah di Indonesia, khususnya di Jawa, dan selalu dipenuhi dengan doa, ibadah, serta ritual tertentu yang dipercaya sebagai upaya tolak bala.
Istilah "wekasan" dalam bahasa Jawa berarti akhir atau penutup, sehingga Rabu Wekasan berarti Rabu terakhir di bulan Safar.
Dalam tradisi masyarakat Jawa, bulan Safar kerap dipandang sebagai bulan penuh ujian, di mana musibah atau bala diyakini banyak terjadi.
Tradisi ini diperkirakan muncul sejak masa Wali Sanga, khususnya di Jawa, sebagai bentuk akulturasi budaya Islam dengan kepercayaan lokal.
Baca Juga: Tradisi Larung Sesaji di Pantai Kedung Tumpang Tulungagung, Simbol Persembahan ke Penguasa Laut
Sebagian catatan sejarah juga mengaitkannya dengan ritual masyarakat pada abad ke-17, ketika masyarakat melakukan doa bersama untuk menolak bala, termasuk ancaman penjajahan Belanda
Ulama tasawuf menyebut pada hari itu banyak bala diturunkan, sehingga amalan seperti sholat sunnah empat rakaat, membaca doa khusus, hingga berbagi sedekah makanan dianjurkan dilakukan.
Semua kegiatan itu memiliki tujuan sama memohon perlindungan sekaligus mempererat kebersamaan.
Meski ada perbedaan pandangan di kalangan ulama tentang ritual khusus Rabu Wekasan, banyak yang menekankan bahwa doa bersama, sedekah, dan shalat sunnah tetap sah selama diniatkan ibadah umum.
Baca Juga: Tradisi Unik Manten Kucing di Campurdarat Tulungagung, Warisan Budaya yang Masih Lestari
Nahdlatul Ulama (NU) melihat tradisi ini sebagai kearifan lokal yang bernilai positif, selama tidak diyakini wajib secara agama.
Di masa kini, Rabu Wekasan tidak hanya dimaknai secara spiritual, tetapi juga sebagai warisan budaya yang memperkuat solidaritas.
Tahun 2025, Rabu Wekasan jatuh pada 20 Agustus, dan sejumlah pesantren serta komunitas masyarakat telah menyiapkan acara doa bersama dan sedekah massal.
Dengan makna yang menyatukan aspek spiritual dan sosial, Rebo Wekasan kini bukan hanya ajang doa, tetapi juga wujud nyata kebersamaan masyarakat dalam menjaga harmoni dan warisan tradisi Nusantara.
Editor : Dharaka R. Perdana