Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

5 Hal yang Membuat Orang Tulungagung Masih Suka Nonton Kesenian Tradisional Ketoprak dan Ludruk, Paling Akhir Ada Hal Tak Terganti

Yoga Dany Damara • Senin, 15 September 2025 | 04:10 WIB

Jadi, jangan heran kalau di Tulungagung seni ketoprak dan ludruk masih bertahan. Bukan hanya soal hiburan, tapi juga soal identitas, nostalgia, dan kebersamaan.
Jadi, jangan heran kalau di Tulungagung seni ketoprak dan ludruk masih bertahan. Bukan hanya soal hiburan, tapi juga soal identitas, nostalgia, dan kebersamaan.

RADAR TULUNGAGUNG - Di tengah gempuran hiburan modern dari drama Korea, YouTube, sampai TikTok masih ada satu hal yang bikin orang Tulungagung betah duduk berjam-jam di panggung terbuka: ketoprak dan ludruk.

Seni tradisional Jawa ini ternyata masih punya tempat istimewa di hati masyarakat lokal.

Baca Juga: Bukan di Kalangbret, Ketoprak Siswo Budoyo Tulungagung Justru Dibentuk di Desa Ini

1. Bukan Sekadar Hiburan, tapi Nostalgia

Buat banyak orang tua di Tulungagung, ketoprak dan ludruk bukan hanya tontonan, tapi juga kenangan masa kecil.

Dulu, setiap ada hajatan atau acara kampung, panggung ketoprak dan ludruk jadi hiburan utama warga. Nonton bareng keluarga sambil duduk di tikar, rasanya susah tergantikan oleh layar TV atau HP.

Baca Juga: Inilah Sosok Pendiri Ketoprak Siswo Budoyo Tulungagung, Dia Sampai Minta Ganti Nama ke Orang Tuanya

2. Bahasa dan Humor yang Dekat dengan Warga

Kalau ketoprak lebih sering mengangkat cerita sejarah atau legenda, ludruk justru penuh komedi dan kritik sosial. Bahasa yang dipakai sederhana, khas Jawa Timuran, dan sering diselipi guyonan segar.

Tak jarang penonton sampai ngakak karena celetukan pemain yang terasa “ngena” dengan kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Ketoprak Tulungagung Harus Dihidupkan Kembali untuk Membangkitkan Seniman yang Mati Suri lewat Lakon Gayatri Rajapadni–Gajah Mada Sumpah Palapa

3. Ruang Bertemunya Warga

Pentas ketoprak dan ludruk biasanya digelar di balai desa, alun-alun, atau lapangan terbuka. Bukan cuma soal menonton, tapi juga jadi ajang berkumpul, ngobrol, dan mempererat hubungan sosial antarwarga. Rasanya lebih hidup dibanding sekadar scrolling media sosial sendirian.

 4. Identitas Budaya yang Terjaga

Di era serba digital, keberadaan ketoprak dan ludruk jadi pengingat bahwa budaya lokal masih layak dijaga.

Anak muda mungkin datang karena penasaran, tapi dari situ mereka belajar nilai sejarah, bahasa, hingga cara orang tua dulu bersenang-senang tanpa gadget. 

5. Sensasi yang Nggak Bisa Diganti

Lampu panggung, musik gamelan, kostum tradisional, sampai interaksi langsung antara pemain dan penonton semua itu menghadirkan pengalaman yang nggak bisa digantikan Netflix atau TikTok.

Ada rasa kebersamaan yang hanya muncul saat nonton bareng di panggung terbuka.

Jadi, jangan heran kalau di Tulungagung seni ketoprak dan ludruk masih bertahan. Bukan hanya soal hiburan, tapi juga soal identitas, nostalgia, dan kebersamaan.

Seni tradisional ini membuktikan bahwa meski zaman berubah, warisan budaya tetap punya ruang di hati masyarakat. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#tulungagung #ludruk #ketoprak