RADAR TULUNGAGUNG - Sejarah Astana Gedong Tulungagung kembali menjadi sorotan setelah terungkap berbagai fakta menarik terkait jejak peradaban Islam di wilayah selatan Jawa Timur. Situs makam kuno yang berada di Desa Sukodono, Kecamatan Karangrejo ini diyakini telah ada sejak abad ke-15 dan menyimpan banyak cerita penting tentang perkembangan budaya dan agama.
Dalam penelusuran sejarah Astana Gedong Tulungagung, ditemukan bahwa kawasan ini bukan sekadar kompleks pemakaman biasa. Berdasarkan inskripsi pada batu nisan kuno, situs ini diperkirakan sudah ada sejak sekitar tahun 1471 hingga 1485 Masehi. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan tersebut menjadi salah satu titik awal penyebaran Islam di Tulungagung.
Tokoh yang dimakamkan di lokasi ini dipercaya adalah Raden Lemburu atau dikenal sebagai Raden Ketawangan. Ia disebut sebagai keturunan kerajaan Mataram yang memiliki peran penting dalam dakwah Islam di wilayah tersebut.
Jejak Peradaban dan Tokoh Penting
Keberadaan Astana Gedong tidak bisa dilepaskan dari peran tokoh-tokoh penting pada masa kerajaan. Dalam tradisi lisan masyarakat, sosok Tumenggung Ketawangan disebut sebagai pemimpin yang membuka wilayah baru atau dikenal dengan istilah babad alas.
Selain itu, struktur makam yang tersusun rapi menunjukkan adanya sistem sosial yang terorganisir. Makam bagian utara diyakini sebagai tempat tokoh utama, sementara bagian lainnya merupakan area pemakaman keluarga dan masyarakat umum.
Penanda penting lainnya adalah keberadaan pohon Nogosari yang dipercaya sebagai simbol makam tokoh besar. Dalam budaya Jawa, pohon ini sering dikaitkan dengan keberadaan tokoh spiritual atau pemimpin pada masanya.
Akulturasi Budaya Hindu-Buddha dan Islam
Salah satu hal yang menarik dari sejarah Astana Gedong Tulungagung adalah adanya akulturasi budaya antara Hindu-Buddha dan Islam. Hal ini terlihat dari bentuk batu nisan dan struktur makam yang menggunakan batu andesit menyerupai bangunan candi.
Selain itu, ditemukan pula artefak seperti lingga dan yoni yang merupakan simbol kesuburan dalam kepercayaan Hindu. Keberadaan artefak tersebut menunjukkan bahwa sebelum berkembangnya Islam, wilayah ini telah memiliki peradaban yang kuat.
Namun, alih-alih menghapus budaya lama, masyarakat pada masa itu justru menggabungkannya dengan ajaran Islam. Inilah yang membuat Astana Gedong menjadi simbol transisi budaya yang harmonis.
Letak Strategis dan Perkembangan Wilayah
Secara geografis, Astana Gedong berada di kawasan yang strategis, dekat dengan pertemuan sungai. Hal ini mengindikasikan bahwa lokasi tersebut dulunya menjadi jalur transportasi penting.
Kedekatan dengan sungai seperti Kali Ngrowo dan Sungai Brantas memperkuat dugaan bahwa kawasan ini merupakan pusat aktivitas masyarakat pada masa lampau. Bahkan, wilayah tersebut diperkirakan awalnya merupakan hutan lebat yang kemudian dibuka menjadi permukiman.
Warisan Sejarah yang Tetap Terjaga
Meski telah berusia ratusan tahun, kondisi makam di Astana Gedong masih terjaga dengan baik. Penataan area tidak menghilangkan bentuk asli makam, sehingga nilai historisnya tetap terpelihara.
Selain itu, ditemukan pula arca kuno yang kini disimpan di museum sebagai bukti adanya peradaban sebelum Islam. Hal ini semakin memperkuat posisi Astana Gedong sebagai situs penting dalam sejarah Tulungagung.
Baca Juga: Misteri Legenda Roro Kembang Sore di Tulungagung, Kutukan 40 Hari yang Melahirkan Gunung Budek
Makna Sejarah bagi Generasi Kini
Sejarah Astana Gedong Tulungagung bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga menjadi pelajaran berharga bagi generasi saat ini. Nilai-nilai seperti toleransi budaya, spiritualitas, dan kebersamaan tercermin dalam perkembangan situs tersebut.
Masyarakat diharapkan dapat terus menjaga dan melestarikan situs ini sebagai bagian dari identitas budaya daerah. Dengan demikian, Astana Gedong tidak hanya menjadi tempat bersejarah, tetapi juga sumber inspirasi untuk masa depan.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula