Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Makna Sumeleh dalam Filsafat Jawa, Bukan Menyerah, Tapi Rahasia Ketenangan Batin yang Membuat Hidup Lebih Damai di Tengah Ketidakpastian

Muhamad Ahsanul Wildan • Sabtu, 13 Juni 2026 | 18:28 WIB
Makna sumeleh dalam filsafat Jawa ternyata bukan menyerah, melainkan jalan menuju ketenangan batin dan kebijaksanaan hidup. (Ilustrasi Gemini AI)
Makna sumeleh dalam filsafat Jawa ternyata bukan menyerah, melainkan jalan menuju ketenangan batin dan kebijaksanaan hidup. (Ilustrasi Gemini AI)

RADAR TULUNGAGUNG - Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tekanan, banyak orang merasa kehilangan arah karena terlalu sibuk mengejar hasil dan membandingkan hidup dengan orang lain.

Dalam kondisi seperti itu, filosofi Jawa tentang sumeleh kembali menarik perhatian karena dianggap mampu menjadi jalan menuju ketenangan batin.

Dalam pandangan filsafat Jawa, sumeleh bukan berarti menyerah tanpa usaha.

Sebaliknya, sumeleh adalah kemampuan untuk tetap berikhtiar sambil menyerahkan hasil akhirnya kepada Tuhan.

Konsep ini menjadi salah satu warisan kebijaksanaan Jawa yang hingga kini masih relevan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Makna sumeleh lahir dari kesadaran bahwa tidak semua hal dalam hidup dapat dikendalikan manusia.

Namun, setiap peristiwa tetap bisa diterima dengan hati yang lapang dan penuh keyakinan kepada Gusti Allah.

Baca Juga: Siapa Veda Ega Pratama? Kisah Pembalap Muda Indonesia yang Mencuri Perhatian Dunia dan Digadang-Gadang Jadi Bintang Masa Depan

Sumeleh dan Keseimbangan antara Usaha serta Doa

Filosofi Jawa mengajarkan bahwa manusia harus tetap bekerja, berjuang, dan melakukan yang terbaik. Namun setelah itu, manusia diajak untuk tidak terlalu terikat pada hasil.

Orang yang sumeleh tidak berhenti melangkah ketika menghadapi kegagalan. Mereka tetap bergerak maju, tetapi tidak membiarkan pikirannya dikuasai rasa cemas dan ketakutan berlebihan.

Prinsip ini sejalan dengan ajaran Jawa yang dikenal dengan ungkapan eling lan waspodo, yaitu selalu mengingat Tuhan dan berhati-hati dalam setiap langkah kehidupan.

Menurut pandangan para leluhur Jawa, ketenangan bukanlah tanda kelemahan. Justru ketenangan merupakan bentuk kecerdasan batin yang tinggi. Sebab, banyak orang mampu mengendalikan dunia di luar dirinya, tetapi hanya sedikit yang mampu mengendalikan gejolak dalam hati.

Laku Batin Menuju Ketenangan

Dalam tradisi ngelmu kejawen, sumeleh dipandang sebagai sebuah laku batin yang harus dilatih secara terus-menerus. Ketenangan tidak datang secara instan, melainkan tumbuh melalui proses penerimaan, kesabaran, dan keikhlasan.

Orang Jawa dahulu menjalani berbagai laku prihatin untuk melatih pengendalian diri. Mereka belajar mengurangi keinginan yang berlebihan agar tidak mudah dikuasai nafsu dan kegelisahan.

Melalui proses tersebut, seseorang dapat mencapai kondisi batin yang lebih jernih. Ia tidak mudah marah ketika menghadapi masalah, tidak mudah iri melihat keberhasilan orang lain, dan tidak mudah putus asa ketika mengalami kegagalan.

Filosofi ini juga tercermin dalam pepatah Jawa urip iku mung mampir ngombe, yang berarti hidup hanyalah persinggahan sementara. Karena itu, manusia diajak untuk tidak terlalu menggantungkan kebahagiaannya pada hal-hal duniawi yang dapat hilang kapan saja.

Beda Sumeleh dan Pasrah

Salah satu kesalahpahaman yang sering terjadi adalah menyamakan sumeleh dengan pasrah tanpa daya.

Padahal, keduanya memiliki makna yang berbeda. Pasrah sering dipahami sebagai berhenti berusaha karena kehilangan harapan. Sementara sumeleh berarti tetap berjalan, tetap berjuang, tetapi dengan hati yang percaya kepada kehendak Tuhan.

Dalam analogi yang digunakan filsafat Jawa, hidup diibaratkan seperti aliran sungai menuju samudra. Manusia boleh berenang dan menentukan arah, tetapi tidak bisa memaksa arus untuk berbalik.

Karena itu, orang yang sumeleh memahami kapan harus berusaha dan kapan harus melepaskan sesuatu yang memang berada di luar kendalinya.

Relevansi Sumeleh di Era Modern

Di era digital yang penuh persaingan dan kebisingan informasi, filosofi sumeleh menjadi semakin penting. Banyak orang mengalami stres karena merasa harus selalu berhasil, selalu produktif, dan selalu lebih baik daripada orang lain.

Padahal, kebahagiaan sejati tidak selalu datang dari pencapaian. Kebahagiaan juga dapat lahir dari kemampuan menerima kehidupan apa adanya tanpa kehilangan semangat untuk terus berkembang.

Sumeleh mengajarkan bahwa ketenangan bukan muncul karena semua masalah telah selesai, tetapi karena seseorang mampu tetap damai meski badai kehidupan belum berlalu.

Pada akhirnya, inti dari sumeleh adalah membangun kepercayaan kepada Tuhan setelah melakukan usaha terbaik. Dengan hati yang tenang dan lapang, manusia dapat menjalani hidup tanpa kehilangan arah, sekaligus menemukan makna terdalam dari kebahagiaan yang sesungguhnya.

Baca Juga: Siapa Veda Ega Pratama? Kisah Pembalap Muda Indonesia yang Mencuri Perhatian Dunia dan Digadang-Gadang Jadi Bintang Masa Depan

Editor : Muhamad Ahsanul Wildan
#sumeleh #kebijaksanaan Jawa #ngelmu kejawen #ketenangan batin #Filsafat Jawa