RADAR TULUNGAGUNG – Ajaran Manunggaling Kawulo Gusti kembali menjadi perbincangan di berbagai platform media sosial.
Filosofi Jawa yang diwariskan para leluhur tersebut dinilai masih relevan untuk menjawab kegelisahan manusia modern yang kerap terjebak dalam ambisi, gengsi, dan perlombaan mengejar materi.
Dalam sebuah tayangan yang ramai diperbincangkan, dijelaskan bahwa Manunggaling Kawulo Gusti bukanlah konsep yang mengajarkan manusia menyamai Tuhan.
Sebaliknya, ajaran ini menekankan penyatuan kesadaran batin manusia dengan cahaya kebijaksanaan dan kasih sayang Sang Pencipta.
Menurut penjelasan dalam tayangan tersebut, banyak orang salah memahami istilah manunggal.
Padahal, yang dimaksud bukanlah penyatuan fisik manusia dengan Tuhan, melainkan proses menyelaraskan rasa, kesadaran, dan perilaku agar selaras dengan nilai-nilai kebaikan.
Makna Manunggaling Kawulo Gusti dalam Filsafat Jawa
Dalam tradisi Jawa, manusia dipandang sebagai makhluk yang memiliki rasa, pikiran, dan nafsu. Ketiganya harus berjalan seimbang agar kehidupan tidak dikuasai oleh dorongan-dorongan yang merusak.
Ajaran ini mengibaratkan nafsu sebagai kuda liar. Jika dibiarkan tanpa kendali, ia dapat menyeret manusia ke dalam keserakahan, kemarahan, dan iri hati. Namun apabila diarahkan dengan benar, nafsu justru menjadi energi yang membantu seseorang mencapai tujuan hidup yang baik.
Filosofi tersebut juga sejalan dengan pitutur Jawa yang terkenal, yakni urip iku mung mampir ngombe. Hidup hanya sementara, sehingga manusia diingatkan agar tidak menghabiskan waktunya untuk saling menjatuhkan demi kepentingan duniawi.
Pentingnya Olah Rasa
Salah satu inti dari Manunggaling Kawulo Gusti adalah praktik olah rasa. Dalam pandangan leluhur Jawa, olah rasa merupakan proses menata hati dan kesadaran agar mampu mengenali serta mengendalikan nafsu.
Konsep ini diibaratkan seperti seorang petani yang mengolah sawah. Jika sawah tidak dirawat, yang tumbuh bukan tanaman bermanfaat melainkan gulma. Begitu pula batin manusia. Tanpa latihan pengendalian diri, amarah, iri hati, dan keserakahan akan mudah tumbuh.
Leluhur Jawa juga mengajarkan pepatah sopo kenal ing awake, mesthi ngerti ing Gusti, yang berarti siapa yang mengenal dirinya akan lebih mudah mengenal Tuhannya. Oleh karena itu, proses memahami diri sendiri dianggap sebagai langkah awal menuju kehidupan yang lebih bijaksana.
Relevan dengan Kehidupan Modern
Di tengah perkembangan teknologi dan media sosial, ajaran ini dinilai semakin relevan. Banyak orang berlomba-lomba mengejar popularitas, pengakuan, dan gaya hidup yang dianggap prestisius.
Fenomena tersebut sering kali memicu kecemasan, tekanan sosial, hingga perilaku konsumtif. Dalam tayangan itu disebutkan bahwa tidak sedikit orang membeli sesuatu bukan karena kebutuhan, melainkan demi gengsi atau agar tidak dianggap kalah oleh lingkungan sekitarnya.
Filosofi Jawa menawarkan pendekatan berbeda melalui prinsip alon-alon waton kelakon. Pesan ini mengajarkan pentingnya kesabaran dan ketenangan dalam menjalani proses hidup, dibanding terus-menerus terburu-buru mengejar standar kesuksesan yang ditentukan orang lain.
Selain itu, masyarakat juga diingatkan untuk selalu eling lan waspada. Eling berarti mengingat asal-usul dan tujuan hidup, sedangkan waspada berarti berhati-hati dalam setiap tindakan dan keputusan.
Bahagia Tidak Selalu Tentang Materi
Ajaran leluhur Jawa menekankan bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada jumlah harta, jabatan, maupun popularitas. Kebahagiaan lahir dari kemampuan manusia mengelola rasa dan mengendalikan nafsu.
Pesan tersebut tergambar dalam ungkapan sugih tanpo bondo, digdoyo tanpo aji, yang mengajarkan bahwa kekayaan sejati bukan sekadar materi, melainkan kelapangan hati dan kebijaksanaan hidup.
Karena itu, Manunggaling Kawulo Gusti dipandang bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga pedoman hidup yang tetap relevan di tengah perubahan zaman. Filosofi ini mengajak manusia untuk lebih mengenal dirinya, mengendalikan nafsu, serta membangun hubungan spiritual yang lebih mendalam dengan Sang Pencipta.
Editor : Muhamad Ahsanul Wildan