TRENGGALEK - Weton Jumat Wage memiliki neptu 10 dalam hitungan primbon Jawa. Selain dikenal berhati lembut dan suka mengalah, Weton Jumat Wage juga dikaitkan dengan sejumlah pantangan dan hari naas yang dipercaya perlu diwaspadai.
Dalam perhitungan Jawa, Weton Jumat Wage berasal dari Jumat bernilai 6 dan Wage bernilai 4. Jumlah tersebut menghasilkan neptu 10 yang menjadi dasar sejumlah tafsir mengenai watak, keberuntungan, serta perjalanan hidup pemilik weton.
Weton Jumat Wage disebut berada di bawah pengaruh watak Laku Pandito dan Pendomudo. Karakter ini dikaitkan dengan pribadi cerdas, suka memberikan nasihat, memiliki spiritualitas tinggi, jujur, dan tidak tega melihat orang lain mengalami kesulitan.
Baca Juga: Arah Mencari Rezeki Menurut Primbon Jawa, Cek Weton dan Hari Pasaran yang Diyakini Membawa Hoki
Karakter Weton Jumat Wage
Dalam narasi primbon Jawa, pemilik Weton Jumat Wage dikenal sebagai orang yang cenderung mengalah demi menjaga kedamaian. Namun, kebaikan hati tersebut disebut terkadang membuat mereka mudah dimanfaatkan orang lain.
Kesabaran pemilik weton juga memiliki batas. Ketika merasa terus ditekan atau disakiti, mereka disebut dapat mudah naik darah. Kondisi tersebut dalam kepercayaan Jawa dianggap perlu dikendalikan agar tidak menimbulkan persoalan lebih besar.
Karakter yang sensitif tersebut kemudian dikaitkan dengan berbagai pantangan. Dalam tradisi primbon, pantangan bukan semata-mata untuk menakut-nakuti, tetapi dianggap sebagai pengingat agar seseorang lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.
5 Pantangan Weton Jumat Wage
Pantangan pertama berkaitan dengan aktivitas bisnis. Weton Jumat Wage disebut sebaiknya menghindari memulai usaha, membuka toko, meluncurkan produk, atau menandatangani kontrak besar pada Selasa Kliwon.
Menurut kepercayaan yang disampaikan dalam narasi tersebut, hari Selasa Kliwon dianggap memiliki energi yang bertolak belakang dengan peruntungan Jumat Wage. Pelanggaran pantangan dipercaya bisa memicu konflik bisnis hingga masalah keuangan.
Pantangan kedua adalah membangun rumah atau pindah rumah pada bulan Suro. Bulan Suro dianggap memiliki suasana spiritual yang kuat. Bagi pemilik Jumat Wage, memaksakan pembangunan atau perpindahan rumah pada periode tersebut dipercaya dapat memengaruhi keharmonisan keluarga.
Baca Juga: Weton Senin Legi Menurut Primbon Jawa, Ini Perjalanan Hidup dan Masa Keemasan di Usia 36-48 Tahun
Pantangan ketiga berhubungan dengan arah perjalanan. Berdasarkan perhitungan Nogo Dino atau naga hari, arah barat disebut perlu diwaspadai ketika Jumat Wage tiba. Pemilik weton disarankan menghindari perjalanan jauh ke arah tersebut jika tidak ada kepentingan mendesak.
Pantangan keempat adalah menyakiti hati ibu atau perempuan yang lebih tua. Dalam kepercayaan Jawa, tindakan tersebut disebut dapat berdampak terhadap kelancaran rezeki dan karier pemilik Jumat Wage.
Hari Naas yang Disebut Perlu Diwaspadai
Selain pantangan, Weton Jumat Wage juga dikaitkan dengan beberapa hari naas. Hari pertama adalah Jumat Wage atau hari kelahiran sendiri.
Baca Juga: Ramalan Weton Kliwon 2026: Siap-siap Banjir Rezeki dan Kejayaan Finansial Menurut Primbon Jawa
Dalam tradisi primbon Jawa, hari kelahiran dipercaya sebagai salah satu waktu ketika kondisi spiritual, mental, dan fisik seseorang berada dalam keadaan lemah. Karena itu, pemilik Jumat Wage disarankan lebih berhati-hati.
Hari berikutnya adalah Selasa Legi yang disebut sebagai hari ketika energi mudah terkuras. Kemudian ada Sabtu Pahing yang dipercaya memunculkan benturan energi, serta Kamis Pon yang dikaitkan dengan kondisi konsentrasi dan emosi yang kurang stabil.
Pada hari-hari tersebut, pemilik Weton Jumat Wage dalam narasi primbon disarankan tidak mengadakan kegiatan besar. Pernikahan, perjalanan jauh, pembelian barang berharga, hingga tindakan medis non-darurat disebut sebaiknya dipertimbangkan kembali.
Cara Menyikapi Pantangan
Meski memiliki banyak pantangan, masyarakat tidak perlu menganggap ramalan tersebut sebagai kepastian. Primbon Jawa merupakan bagian dari tradisi dan kepercayaan yang diwariskan secara turun-temurun.
Dalam narasi tersebut, pemilik Jumat Wage dianjurkan memperbanyak doa, bersedekah makanan pada Kamis malam, atau melakukan puasa weton sebagai bentuk ikhtiar.
Pada akhirnya, berbagai pantangan dan hari naas tersebut sebaiknya dipandang sebagai pengingat untuk lebih berhati-hati. Takdir dan masa depan tetap berada dalam kehendak Tuhan, sementara manusia dapat menjalani kehidupan dengan doa, usaha, dan pertimbangan yang matang.
Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al AkhbariSumber : Njowo Rato