TULUNGAGUNG - Banda Neira, sebagai bagian dari perairan Laut Banda di Kepulauan Maluku, sering dianggap berada di jalur potensial migrasi paus.
Khususnya paus besar seperti paus biru kerdil (pygmy blue whale).
Namun, apakah paus benar-benar melewati Banda Neira setiap Oktober–November?
Artikel ini mengulas temuan ilmiah terbaru, pemodelan migrasi, serta pengamatan lapangan untuk melihat seberapa kuat bukti bahwa migrasi paus melewati Banda Neira di musim tersebut.
Dasar Ilmiah: Migrasi Paus Biru Kerdil dan Rute Migrasi
1. Jalur migrasi paus biru kerdil Indonesia–Australia
Penelitian satelit telah menunjukkan bahwa paus biru kerdil bermigrasi antara perairan selatan Australia dan perairan Indonesia seperti Laut Banda melalui rute seperti Savu Sea.
Namun, perjalanan kembali ke Australia (migrasi selatan) baru sedikit tercatat karena keterbatasan masa pakai alat pelacak dan skala penelitian.
2. Pemodelan Migrasi & “Pinch Points”
Studi “Modelling Migratory Pinch Points” menggunakan metode teori sirkuit menunjukkan bahwa selama musim migrasi (termasuk periode SON = September–Oktober–November) terdapat jalur konektivitas tinggi di sekitar perairan Savu, Selat Sumba‑Sape, Selat Alor, dan Selat Ombai sebagai rute migrasi paus biru kerdil.
Model tersebut menyimpulkan bahwa kawasan laut di antara Indonesia dan Australia, termasuk Laut Banda, memiliki peran sebagai koridor konektivitas migrasi paus biru.
Namun, model ini tidak menjamin bahwa migrasi paus melewati tepat lokasi Banda Neira setiap tahun selama Oktober–November; hanya menunjukkan kemungkinan jalur di kawasan yang lebih luas.
3. Home Ranges & Nilai Perlindungan Kawasan
Analisis home range paus biru kerdil dari Australia ke Indonesia menunjukkan bahwa koridor migrasi mencakup bagian timur Savu Sea dan Laut Banda, meskipun tumpang tindih dengan kawasan lindung (MPA) di Indonesia sangat kecil.
Metode BBMM (Brownian Bridge Movement Model) dan a-LoCoH (adaptive Local Convex Hull) dalam studi tersebut menunjukkan bahwa koridor migrasi melewati wilayah yang lebih luas, termasuk Laut Banda.
Aktivitas paus berdasarkan data musiman
Dalam studi “Pygmy blue whale movement, distribution and important areas in the Eastern Indian Ocean”, ditemukan bahwa paus biru kerdil memiliki kehadiran yang signifikan di perairan Australia antara November–Desember, dan mereka menghabiskan sekitar 124 hari di perairan Indonesia (≈ 34% dari siklus tahunan migrasi).
Meski demikian, periode dominan migrasi ke utara (Australia → Indonesia) sering terjadi sebelumnya, sementara perjalanan kembali ke selatan dimulai sekitar pertengahan September.
Dengan demikian, Oktober–November termasuk dalam periode transisi migrasi selatan dari Indonesia ke Australia, tapi intensitas migrasi mungkin sudah menurun dibanding puncak musim migrasi.
Observasi Lapangan & Laporan Lokal
1. Catatan cetacea di perairan sekitarnya
Studi “Biodiversitas dan Tingkah Laku Kemunculan Cetacea di Perairan Laut Sawu, Nusa Tenggara Timur” menyebut bahwa beberapa jenis paus dan lumba-lumba menggunakan jalur migrasi melalui perairan timur Indonesia yang meliputi Laut Banda.
Jadi, tidak secara tepat menyebut bahwa migrasi tersebut melewati Banda Neira pada Oktober–November secara teratur.
2. Catatan satelit terbaru
Dalam publikasi “The first record of the southbound movements of satellite‑tagged pygmy blue whales from Savu Sea to subantarctic waters”, dua paus diberi tag di Savu Sea pada November 2021, lalu dilacak pergerakan mereka ke selatan melewati jalur migrasi kembali ke perairan Australia.
Meskipun demikian, pelacakan tidak secara eksplisit menyebut bahwa paus melewati Banda Neira secara langsung dalam bulan Oktober–November, melainkan rute lebih luas yang melibatkan Savu dan Laut Banda.
3. Catatan lokal Banda & Maluku
Saat ini, saya tidak menemukan laporan publik (ilmiah) yang menyebut secara spesifik bahwa paus terekam melewati Banda Neira pada periode Oktober–November setiap tahun sebagai fenomena rutin.
Laporan pengamatan paus di Banda sering bersifat sporadis atau bagian dari studi yang lebih luas di Laut Banda, tanpa penekanan waktu Oktober–November.***
Editor : Vidya Sajar Fitri