RADAR TULUNGAGUNG - Dari belantara Papua, tumbuh sejenis pohon liar dengan kulit batang yang sangat pahit.
Namun justru dari rasa pahit itulah khasiat luar biasa berasal, membuat kayu ini kini diburu dunia.
Kayu ular atau secara ilmiah dikenal sebagai Strychnos ligustrina, tanaman obat khas Indonesia, tengah naik daun dan jadi incaran pasar Timur Tengah hingga Eropa.
Baca Juga: Fakta Menarik Tentang Pakis, Tumbuhan Purba Kaya Gizi yang Masih Dikonsumsi hingga Kini
Kayu ular dikenal karena rasa kulit batangnya yang pahit luar biasa, namun di balik itu tersimpan manfaat besar sebagai penawar berbagai penyakit.
Dalam pengobatan tradisional, tanaman ini dipercaya mampu meredakan demam, mempercepat pemulihan pasca sakit, hingga meningkatkan daya tahan tubuh.
Khasiat ini telah menarik perhatian negara-negara di kawasan ASEAN, Afrika, Timur Tengah, hingga Eropa.
Baca Juga: Danau Kakaban di Kalimantan Timur: Ekosistem Langka, Surga Dunia di Pulau Derawan
“Permintaan ekspor meningkat signifikan dalam dua tahun terakhir,” ungkap Ahmad Rafiq, pelaku usaha herbal asal Jakarta yang kini fokus mengekspor kayu ular ke Uni Emirat Arab dan Jerman.
“Mereka mencari bahan alami dengan efektivitas tinggi, dan kayu ular memenuhi kriteria itu,” tambahnya.
Kayu ular bukan hanya komoditas biasa. Karena sifatnya yang tumbuh liar dan belum banyak dibudidayakan, pasokan tanaman ini tergolong terbatas. Hal ini menjadikannya semakin eksklusif dan bernilai tinggi di pasar internasional.
Baca Juga: Manfaat Kayu Secang, Si Merah Alami Yang Kaya Khasiat untuk Tubuh dan Kesehatan
Pakar botani dari Universitas Cenderawasih, Dr Mikael Waromi, menyebut bahwa keberadaan kayu ular bisa menjadi "emas hijau" bagi masyarakat Papua.
“Jika dikelola secara berkelanjutan, kayu ular bisa menjadi sumber ekonomi baru tanpa merusak hutan,” ujarnya.
Kementerian Pertanian sendiri mulai melirik potensi ekspor tanaman herbal asli Indonesia, termasuk kayu ular.
Beberapa inisiatif mulai digalakkan, seperti pelatihan budidaya dan pembentukan koperasi petani herbal di wilayah Papua dan Papua Barat.
Dengan potensi luar biasa yang dimilikinya, kayu ular bukan hanya sekadar obat tradisional. Ia adalah simbol dari kekayaan alam Nusantara yang kini mendunia.
Dan jika dikelola dengan bijak, ia bisa menjadi jembatan antara tradisi lokal dan kemajuan global. ****
Editor : Dharaka R. Perdana