Radar Tulungagung – Fenomena gerhana bulan total sering menjadi perhatian masyarakat di berbagai belahan dunia. Selain dijelaskan secara ilmiah oleh astronomi, gerhana bulan juga melahirkan banyak cerita mistis dan mitos yang diwariskan turun-temurun oleh berbagai budaya.
Di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, gerhana bulan sering dikaitkan dengan legenda makhluk raksasa yang menelan bulan. Sementara di wilayah lain seperti Amerika hingga Amerika Selatan, masyarakat kuno juga memiliki cerita berbeda tentang penyebab munculnya fenomena langit tersebut.
Berikut lima mitos gerhana bulan total yang berkembang di berbagai budaya di dunia.
Batara Kala yang Memakan Bulan
Salah satu mitos paling terkenal di Indonesia adalah kisah Batara Kala dalam kepercayaan masyarakat Jawa. Gerhana bulan sering dianggap sebagai pertanda bahwa raksasa Batara Kala sedang memakan bulan.
Untuk mengusir makhluk tersebut, masyarakat biasanya menabuh lesung atau alat penumbuk padi secara bersama-sama. Suara keras dari lesung diyakini dapat membuat Batara Kala ketakutan sehingga memuntahkan kembali bulan yang ditelannya.
Tradisi ini pernah dilakukan secara luas di berbagai daerah pedesaan Jawa pada masa lalu. Meski kini semakin jarang dilakukan, cerita Batara Kala tetap menjadi bagian dari budaya dan mitologi masyarakat Jawa.
Larangan bagi Wanita Hamil Saat Gerhana
Selain kisah Batara Kala, masyarakat Jawa juga memiliki mitos lain terkait gerhana bulan total, yaitu larangan bagi wanita hamil untuk keluar rumah.
Menurut kepercayaan tersebut, wanita hamil yang melihat gerhana bulan dikhawatirkan akan melahirkan bayi dengan kondisi tertentu, seperti kulit kemerahan atau tanda lahir yang tidak biasa.
Beberapa orang tua zaman dahulu bahkan menyarankan agar wanita hamil mengoleskan abu dapur pada perut mereka saat gerhana terjadi. Ritual tersebut dipercaya sebagai bentuk perlindungan agar bayi yang dikandung tidak terkena pengaruh buruk dari fenomena tersebut.
Meski begitu, hingga kini tidak ada bukti ilmiah yang mendukung kepercayaan tersebut.
Mitos Jaguar Memakan Bulan dari Bangsa Inka
Di kawasan Amerika Selatan, bangsa Inka kuno memiliki cerita berbeda tentang gerhana bulan. Mereka percaya bahwa fenomena blood moon terjadi karena seekor jaguar raksasa sedang memakan bulan.
Menurut catatan penjelajah Spanyol pada masa kolonial, masyarakat Inka sangat takut jika jaguar berhasil menghabiskan bulan. Mereka percaya bahwa setelah memakan bulan, jaguar tersebut akan turun ke bumi dan memangsa manusia.
Untuk mencegah hal tersebut, masyarakat biasanya membuat suara keras atau melakukan ritual tertentu agar jaguar melepaskan bulan dari gigitannya.
Kepercayaan Suku Hupa di California
Suku Hupa yang tinggal di wilayah utara California, Amerika Serikat, juga memiliki kisah unik tentang gerhana bulan.
Dalam kepercayaan mereka, gerhana terjadi karena bulan sedang terluka akibat diserang oleh hewan peliharaannya sendiri. Suku Hupa percaya bahwa bulan memiliki banyak istri serta hewan peliharaan seperti ular dan singa.
Jika bulan terlambat memberi makan hewan-hewan tersebut, mereka akan menyerangnya hingga menyebabkan bulan tampak merah seperti berdarah di langit.
Cerita ini menjadi salah satu contoh bagaimana masyarakat tradisional mencoba menjelaskan fenomena alam dengan simbol dan cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Penampakan “Ibu Bulan” dalam Kepercayaan Amerika Asli
Sementara itu, beberapa suku penduduk asli Amerika memiliki pandangan yang lebih spiritual terhadap gerhana bulan.
Mereka percaya bahwa gerhana bulan darah merupakan pertanda kemunculan sosok yang disebut sebagai Ibu Bulan. Dalam kepercayaan tersebut, kemunculan Ibu Bulan dipercaya membawa energi pembersihan bagi jiwa, emosi, dan spiritual manusia.
Fenomena ini juga dianggap memiliki hubungan khusus dengan perempuan karena bulan sering dikaitkan dengan siklus kehidupan dan energi feminin.
Fenomena Alam yang Dijelaskan Secara Ilmiah
Terlepas dari berbagai cerita mistis yang berkembang di masyarakat, para ilmuwan menjelaskan bahwa gerhana bulan total adalah fenomena astronomi yang terjadi ketika bumi berada di antara matahari dan bulan.
Posisi tersebut membuat bayangan bumi menutupi permukaan bulan sehingga cahaya matahari tidak dapat langsung menyinarinya.
Saat fase totalitas terjadi, bulan sering tampak berwarna kemerahan. Fenomena ini dikenal sebagai blood moon dan terjadi karena cahaya matahari yang melewati atmosfer bumi mengalami pembiasan sebelum mencapai bulan.
Walaupun mitos tentang gerhana bulan masih dikenal di berbagai budaya, ilmu astronomi modern kini mampu menjelaskan fenomena tersebut secara ilmiah.
Namun demikian, cerita-cerita kuno tentang gerhana bulan tetap menjadi bagian penting dari warisan budaya manusia yang menunjukkan bagaimana nenek moyang mencoba memahami misteri alam semesta.
Editor : Auliya Nur'Aini Khafadzoh