
RADAR TULUNGAGUNG - Cara menjaga lahan tetap produktif saat debit air irigasi berkurang perlu menjadi perhatian petani, terutama ketika memasuki musim kemarau.
Penyesuaian waktu tanam dan pengaturan penggunaan air dapat membantu tanaman tetap tumbuh tanpa bergantung pada pasokan irigasi dalam jumlah besar.
Cara menjaga lahan tetap produktif saat debit air irigasi berkurang tidak cukup hanya dengan mengurangi volume pengairan. Petani perlu menyesuaikan pola budidaya dengan ketersediaan air, mulai dari menentukan waktu tanam, memilih tanaman yang sesuai, hingga menjaga kelembapan tanah.
Cara menjaga lahan tetap produktif saat debit air irigasi berkurang menjadi relevan di Tulungagung setelah Dam Pacar mengalami kerusakan.
Bangunan tersebut berfungsi sebagai suplesi atau penambah debit Sungai Kalidawir menuju saluran sekunder Lodoyo. Tambahan debit itu sebelumnya mendukung pengairan jaringan sekunder Lodoyo hingga sekitar 925 hektare.
Baca Juga: Pola Tanam Palawija Musim Kemarau, Pilih Tanaman Sesuai Kebutuhan Air agar Irigasi Tak Terbebani
Sesuaikan Waktu Tanam dengan Ketersediaan Air
Langkah pertama adalah menyesuaikan kalender tanam dengan kondisi air yang tersedia. Jangan sampai fase pertumbuhan tanaman yang membutuhkan banyak air justru bertepatan dengan periode ketika pasokan irigasi paling terbatas.
Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) menjelaskan bahwa penyesuaian waktu tanam dapat menjadi bagian dari strategi meningkatkan produktivitas air.
Pengaturan tersebut memungkinkan fase pertumbuhan tanaman diselaraskan dengan kondisi ketersediaan air dan cuaca.
Karena itu, petani perlu memperhatikan informasi mengenai awal dan perkembangan musim kemarau sebelum menentukan waktu tanam. Kalender tanam juga sebaiknya tidak hanya mengikuti kebiasaan dari musim sebelumnya karena kondisi ketersediaan air dapat berubah.
Kementerian Pertanian pada 2026 turut mendorong percepatan tanam, penguatan pengelolaan air, penggunaan teknologi hemat air, serta varietas yang lebih adaptif sebagai bagian dari persiapan menghadapi musim kemarau.
Baca Juga: Pasca Dam Pacar Ambrol, BBWS Brantas Siapkan Jumbo Bag untuk Mempertahankan Tambahan Debit Air Menuj
Pilih Tanaman dan Atur Air Berdasarkan Kebutuhan
Jenis tanaman menjadi faktor penting ketika debit irigasi menurun. Tanaman palawija dapat menjadi pilihan pada kondisi tertentu karena kebutuhan airnya secara umum tidak sebesar padi, meski kebutuhan setiap komoditas tetap berbeda.
Kondisi tersebut juga terjadi di Tulungagung. Sebagian besar tanaman saat ini telah memasuki musim palawija sehingga kebutuhan air relatif lebih rendah dibandingkan tanaman padi.
Dengan kondisi itu, berkurangnya tambahan debit tidak serta-merta membuat pertanian mengalami gangguan besar.
Namun, kebutuhan air tetap harus dihitung berdasarkan fase pertumbuhan. FAO menekankan pentingnya pengaturan irigasi pada periode ketika tanaman paling sensitif terhadap kekurangan air.
Pemberian air yang tepat waktu dapat meningkatkan produktivitas air dibandingkan pengairan tanpa mempertimbangkan fase tanaman.
Petani juga dapat membuat prioritas pengairan berdasarkan kondisi tanaman. Lahan yang membutuhkan air lebih mendesak dapat didahulukan, sementara pemberian air pada lahan dengan kelembapan tanah yang masih memadai dapat ditunda.
Baca Juga: Dam Pacar Tulungagung Ambrol, Pengairan Sawah Perlu Penanganan Segera
Jaga Kelembapan Tanah dan Kurangi Pemborosan
Selain mengatur waktu tanam dan jadwal pengairan, menjaga air tetap berada di zona perakaran juga penting. Air yang cepat menguap atau hilang akibat aliran permukaan membuat pasokan yang terbatas menjadi kurang efektif.
FAO menyebut konservasi kelembapan tanah, perbaikan distribusi air di lahan, irigasi tambahan dalam jumlah terbatas, dan pengelolaan tanah sebagai beberapa pendekatan untuk meningkatkan produktivitas air.
Penggunaan mulsa juga dapat dipertimbangkan pada tanaman yang sesuai. Lapisan penutup permukaan tanah membantu mengurangi penguapan sehingga kelembapan dapat bertahan lebih lama. Pengelolaan gulma juga penting karena gulma ikut menggunakan air yang tersedia bagi tanaman utama.
Kondisi saluran irigasi tidak boleh diabaikan. Kebocoran pada saluran atau distribusi yang tidak merata dapat mengurangi jumlah air yang benar-benar sampai ke lahan. FAO menempatkan peningkatan efisiensi distribusi air sebagai bagian penting dari pengelolaan irigasi.
Di Tulungagung, upaya mempertahankan pasokan juga dilakukan melalui penanganan darurat Dam Pacar menggunakan jumbo bag.
Cara tersebut ditujukan untuk menjaga tambahan debit agar tetap dapat masuk ke saluran sekunder Lodoyo sembari perbaikan bangunan disiapkan.
Tambahan debit dari Sungai Kalidawir memang bukan sumber utama pengairan, tetapi keberadaannya membantu mengurangi kebutuhan air dari Bendungan Wlingi.
Karena itu, setiap pasokan tambahan tetap perlu dimanfaatkan secara efisien, terutama ketika memasuki periode kering.
Pada akhirnya, cara menjaga lahan tetap produktif saat debit air irigasi berkurang bertumpu pada pengaturan, bukan sekadar penambahan air.
Waktu tanam harus disesuaikan, tanaman dipilih berdasarkan kondisi lahan dan air, sementara pasokan yang tersedia digunakan pada fase pertumbuhan yang paling membutuhkan.
Strategi tersebut sejalan dengan pendekatan pengelolaan air pertanian yang menekankan produksi lebih banyak dengan penggunaan air yang lebih efisien.
Dengan pengelolaan yang tepat, lahan tetap berpeluang produktif meski menghadapi keterbatasan pasokan selama musim kemarau.
Editor : Vidya Sajar Fitri
Sumber : Diolah dari berbagai sumber