Mengapa Jalur SUTET Sulit Dipindahkan? Ini Alasan Relokasi Bisa Memakan Waktu Bertahun-tahun

Vidya Sajar Fitri • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 10:44 WIB
Pemindahan jalur SUTET membutuhkan tahapan panjang. Ini alasan relokasi jaringan listrik bisa memakan waktu hingga bertahun-tahun.(ILUSTRASI AI)
Pemindahan jalur SUTET membutuhkan tahapan panjang. Ini alasan relokasi jaringan listrik bisa memakan waktu hingga bertahun-tahun.(ILUSTRASI AI)

RADAR TULUNGAGUNG – Pemindahan jalur SUTET bukan pekerjaan sederhana yang bisa dilakukan ketika sebuah proyek pembangunan membutuhkan ruang baru. Pemindahan jalur SUTET berkaitan dengan jaringan transmisi tenaga listrik, sehingga perubahan trase harus memperhatikan aspek teknis, keselamatan, lahan, serta keberlangsungan sistem kelistrikan.

Pemindahan jalur SUTET juga membutuhkan perencanaan yang matang karena jaringan transmisi tidak berdiri sendiri. Jalur tersebut terdiri atas konduktor, menara atau tower, serta infrastruktur pendukung yang harus tetap memenuhi ketentuan keselamatan setelah perubahan dilakukan.

Pemindahan jalur SUTET menjadi salah satu pertimbangan dalam pembangunan Sekolah Rakyat (SR) di Desa Ringinpitu, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung. Sebagian lahan proyek berada di bawah lintasan jaringan sehingga pilihan yang diambil adalah menyesuaikan desain bangunan, bukan menunggu jaringan dipindahkan.

Baca Juga: Usia Bangunan Sekolah Jadi Perhatian, Ini Alasan Gedung Puluhan Tahun Perlu Diperiksa dan Direnovasi

Pemindahan SUTET Membutuhkan Perencanaan Jalur Baru

Jaringan transmisi memiliki fungsi penting dalam sistem kelistrikan. Karena itu, perubahan jalur tidak bisa dilakukan hanya dengan menggeser posisi kabel dari satu titik ke titik lain.

Peraturan Menteri ESDM Nomor 13 Tahun 2025 mengatur ruang bebas dan jarak bebas minimum jaringan transmisi tenaga listrik. Ketentuan tersebut berlaku untuk berbagai pihak, termasuk pemilik jaringan dan pihak yang memiliki atau menguasai tanah, bangunan, atau tanaman di bawah ruang bebas. Tujuan utamanya adalah memastikan instalasi tetap andal dan aman sekaligus melindungi manusia serta makhluk hidup lainnya.

Artinya, setiap perubahan jalur harus tetap menghasilkan konfigurasi jaringan yang memenuhi ketentuan teknis. Pemindahan juga tidak dapat mengabaikan kondisi lahan dan lingkungan yang akan menjadi lokasi baru jaringan.

Pengalaman proyek transmisi PLN menunjukkan persoalan jalur dapat melibatkan proses pengadaan atau pembebasan lahan. Dalam salah satu proyek transmisi 150 kV, misalnya, PLN mencatat pembangunan sejumlah tower membutuhkan proses pembebasan lahan dan koordinasi dengan pihak yang terdampak.

Baca Juga: Bangunan Sekolah Berusia Puluhan Tahun Wajib Diperiksa, Ini Alasan Konstruksi Lapuk Berbahaya

Mengapa Waktu Pemindahan Bisa Sangat Lama?

Pembangunan jaringan transmisi sendiri dapat berlangsung dalam waktu panjang. PLN pernah mencatat pembangunan SUTET 500 kV Suralaya-Balaraja dirintis sejak 2008 dan baru selesai pada 2016. Dalam proyek tersebut, pembebasan lahan, jalur, serta persoalan teknis dan sosial selama konstruksi menjadi bagian dari tantangan pembangunan.

Contoh tersebut menunjukkan bahwa jaringan transmisi memiliki rangkaian pekerjaan yang tidak singkat. Ketika trase berubah, kebutuhan pekerjaan juga dapat bertambah karena titik-titik jaringan harus disesuaikan dengan lokasi baru.

Dalam regulasi terbaru, pemenuhan ruang bebas dan jarak bebas minimum bahkan menjadi bagian dari kegiatan perencanaan, pembangunan dan pemasangan, pengoperasian, serta pemeliharaan jaringan transmisi. Ketentuan ini menunjukkan bahwa aspek keselamatan harus diperhitungkan sejak tahap perencanaan. 

Karena itu, perkiraan waktu hingga dua tahun untuk pemindahan jalur SUTET di lokasi pembangunan SR Ringinpitu menjadi pertimbangan penting. Jika proyek sekolah harus menunggu perubahan jaringan, jadwal pembangunan berpotensi ikut terdampak.

Baca Juga: Tanda Bangunan Sekolah Tak Layak Digunakan, Kenali Kerusakan Atap, Penyangga, dan Dinding

Menyesuaikan Desain Bisa Menjadi Pilihan untuk Proyek

Kondisi tersebut membuat penyesuaian desain menjadi alternatif yang dipilih dalam pembangunan SR di Ringinpitu. Jaringan SUTET tetap dipertahankan, sedangkan fungsi lahan di bawah lintasan diarahkan untuk kebutuhan yang tidak membutuhkan bangunan tinggi.

Area tersebut direncanakan dapat dimanfaatkan untuk fasilitas pendukung seperti lapangan olahraga, instalasi pengolahan air limbah (IPAL), dan dapur. Jika digunakan untuk bangunan, ketinggiannya direncanakan maksimal dua lantai dengan tetap memperhatikan jarak aman 5 meter dari kabel sesuai skema proyek.

Sementara itu, gedung utama SR yang dirancang tiga hingga empat lantai ditempatkan di sisi selatan lahan yang tidak dilintasi jaringan SUTET. Dengan pola tersebut, pembangunan tetap dapat dilanjutkan tanpa harus menunggu proses pemindahan jaringan.

Pembangunan fisik SR ditargetkan dimulai Oktober 2026 dan berada di bawah Kementerian Pekerjaan Umum. Sekolah tersebut diproyeksikan menampung 1.000 hingga 2.000 siswa, sedangkan pendataan awal telah mencatat sekitar 700 calon peserta didik.

Pilihan mempertahankan jaringan dan mengubah tata letak bangunan juga menunjukkan pentingnya memperhitungkan keberadaan infrastruktur listrik sejak awal perencanaan proyek. Terlebih, regulasi yang berlaku menetapkan ruang bebas dan jarak bebas minimum sebagai bagian dari persyaratan keselamatan ketenagalistrikan. 

Dengan demikian, pemindahan jalur SUTET membutuhkan waktu karena menyangkut perencanaan teknis, kebutuhan lahan, keselamatan jaringan, serta tahapan pembangunan. Ketika sebuah proyek berada di bawah lintasan transmisi, penyesuaian desain dapat menjadi pilihan agar pembangunan tetap berjalan tanpa mengabaikan ketentuan keselamatan dan keberlangsungan jaringan listrik.

Editor : Vidya Sajar Fitri
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
keselamatan ketenagalistrikan pemindahan jalur sutet relokasi sutet jaringan transmisi listrik pembangunan sutet