Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Red Sparks Disebut Rugi Rp55 Miliar Setelah Gagal Rekrut Megawati Hangestri, Sponsor hingga Media Sosial Ikut Terdampak

Divka Vance Yandriana • Senin, 11 Mei 2026 | 11:04 WIB
Red Sparks disebut rugi miliaran rupiah setelah gagal mempertahankan Megawati Hangestri dan kehilangan pasar Indonesia.
Red Sparks disebut rugi miliaran rupiah setelah gagal mempertahankan Megawati Hangestri dan kehilangan pasar Indonesia.

JAKARTA - Kepergian Megawati Hangestri dari Red Sparks menuju Hyundai Hillstate disebut membawa dampak besar bagi klub voli Korea Selatan tersebut. Bukan hanya dari sisi performa tim, Red Sparks juga dikabarkan mengalami kerugian komersial dan penurunan interaksi digital setelah gagal mempertahankan Megawati Hangestri pada musim 2026.

Nama Megawati Hangestri memang menjadi magnet tersendiri selama bermain di Liga Voli Korea. Popularitas pevoli asal Indonesia itu tidak hanya mendongkrak performa Red Sparks di lapangan, tetapi juga memperluas pasar klub hingga Asia Tenggara, terutama Indonesia.

Dalam sejumlah pembahasan di media sosial dan komunitas voli, Red Sparks bahkan diperkirakan mengalami kerugian jutaan dolar Amerika akibat kehilangan efek besar dari popularitas Megawati Hangestri. Dampak tersebut disebut menyentuh sektor sponsor, hak siar internasional, penjualan merchandise, hingga engagement media sosial klub.

Baca Juga: Kepiawaian dan Kemenangan Iran dalam Negosiasi dengan Amerika

Megawati Hangestri Dinilai Jadi Magnet Sponsor

Selama dua musim terakhir, Megawati Hangestri dianggap sukses meningkatkan nilai komersial Red Sparks. Kehadirannya membuat klub Korea Selatan itu mendapat sorotan besar dari penggemar voli Indonesia dan Asia Tenggara.

Popularitas Mega dinilai membuka peluang sponsor baru bagi Red Sparks, termasuk dari brand luar Korea Selatan yang ingin masuk ke pasar Asia Tenggara. Karena itu, ketika Red Sparks gagal merekrut kembali Megawati, banyak pihak menilai daya tarik sponsor klub ikut menurun.

Dalam narasi yang beredar, nilai sponsor Red Sparks diprediksi turun sekitar 20 hingga 30 persen pada kuartal pertama setelah Megawati hengkang. Penurunan tersebut dikaitkan dengan hilangnya audiens besar dari Indonesia, Malaysia, hingga Singapura yang sebelumnya aktif mengikuti pertandingan Red Sparks.

Baca Juga: Review Uwinfly Q1S Bekas dan Modifikasi Viral, Sepeda Listrik Mini Rasa Motor yang Bisa Ngebut hingga 70 Km/Jam

Meski angka tersebut belum dikonfirmasi secara resmi oleh pihak klub, besarnya pengaruh Megawati terhadap popularitas Red Sparks memang sulit dipungkiri.

Hak Siar dan Penonton Internasional Ikut Menurun

Selain sponsor, dampak lain yang ramai dibicarakan adalah penurunan nilai siaran internasional Liga Voli Korea, khususnya pertandingan Red Sparks.

Selama Megawati bermain di Korea Selatan, laga-laga Red Sparks selalu menjadi perhatian publik Indonesia. Banyak penggemar rela menonton pertandingan secara langsung maupun melalui platform digital hanya untuk menyaksikan aksi opposite hitter asal Jember tersebut.

Baca Juga: Rodalink Serpong Pamer Deretan E-Bike Premium, Harga Mulai Rp17 Juta hingga Polygon Colossus Rp115 Juta

Kepergian Megawati disebut membuat minat penonton internasional menurun. Beberapa analisis memperkirakan audiens internasional Red Sparks bisa turun hingga 15 sampai 20 persen pada musim depan.

Jika hal itu benar terjadi, maka potensi pendapatan klub dari kontrak penyiaran juga ikut terdampak. Bahkan muncul estimasi kerugian siaran mencapai 1 juta hingga 2 juta dolar Amerika dalam 12 bulan pertama pasca Megawati hengkang.

Penjualan Merchandise Red Sparks Ikut Terdampak

Megawati Hangestri juga menjadi salah satu pemain dengan penjualan merchandise tertinggi di Red Sparks. Jersey, poster, hingga atribut bertema Mega diketahui laris di kalangan penggemar Indonesia.

Karena itu, banyak pihak memperkirakan penjualan merchandise Red Sparks bakal mengalami penurunan cukup besar tanpa kehadiran Megawati.

Dalam pembahasan yang ramai di media sosial, penjualan merchandise klub diprediksi turun sekitar 25 hingga 30 persen dalam setahun. Nilai kerugiannya diperkirakan mencapai 500 ribu dolar Amerika.

Fenomena ini menunjukkan bahwa Megawati bukan hanya berperan sebagai pemain inti, tetapi juga aset branding penting bagi klub.

Media Sosial Red Sparks Disebut Kehilangan Ribuan Pengikut

Dampak lain yang paling terlihat terjadi di media sosial Red Sparks. Setelah kabar Megawati tidak kembali ke klub muncul, akun Instagram resmi Red Sparks disebut mengalami penurunan jumlah pengikut.

Dalam tiga hari, akun tersebut dikabarkan kehilangan sekitar 13 ribu followers. Selain itu, interaksi seperti like, komentar, dan share pada unggahan klub juga disebut mengalami penurunan hingga 20 sampai 30 persen.

Turunnya engagement digital ini dinilai dapat memengaruhi pendapatan iklan media sosial serta nilai kerja sama sponsor digital yang biasanya bergantung pada jumlah audiens dan tingkat interaksi.

Total Kerugian Red Sparks Jadi Sorotan

Jika seluruh sektor digabungkan mulai dari sponsor, hak siar, merchandise, hingga digital, total estimasi kerugian Red Sparks disebut mencapai 2,2 juta hingga 3,4 juta dolar Amerika atau setara lebih dari Rp55 miliar.

Meski angka tersebut masih berupa estimasi dan belum ada konfirmasi resmi dari Red Sparks maupun KOVO, besarnya pengaruh Megawati Hangestri terhadap popularitas klub memang menjadi fakta yang tidak bisa diabaikan.

Kini perhatian publik tertuju pada bagaimana Red Sparks bertahan tanpa Mega, sementara Hyundai Hillstate justru diprediksi menjadi klub yang paling diuntungkan berkat kehadiran pevoli Indonesia tersebut pada musim baru Liga Voli Korea.

Editor : Divka Vance Yandriana
#Megawati Hangesti #Red Sparks #Megawati Hangesti Pertiwi