JAKARTA – Nama Megawati Hangestri kembali menjadi sorotan publik pecinta voli Indonesia. Kali ini, bukan karena aksi gemilangnya di lapangan, melainkan karena kabar yang menyebut dirinya gagal kembali ke Red Sparks akibat keputusan klub mempertahankan Vanja Bukilic untuk musim baru Liga Voli Korea.
Kabar tersebut memicu perdebatan di kalangan penggemar. Banyak yang menilai keputusan Red Sparks memilih Bukilic menjadi alasan utama Megawati Hangestri akhirnya berlabuh ke Hyundai Hillstate. Situasi ini pun menciptakan drama baru yang diprediksi akan memanaskan persaingan Liga Voli Korea musim depan.
Megawati Hangestri dan Vanja Bukilic sebelumnya dikenal sebagai duet maut yang membawa Red Sparks menjadi salah satu kekuatan besar di kompetisi voli Korea Selatan. Namun kini, keduanya justru berada di kubu yang berbeda dan berpotensi menjadi rival sengit.
Bukilic Disebut Menutup Jalan Megawati ke Red Sparks
Dalam beberapa pekan terakhir, banyak pendukung Red Sparks berharap Megawati kembali mengenakan seragam merah kebanggaan klub tersebut. Harapan itu muncul setelah performa impresif Megawati selama membela tim dalam beberapa musim terakhir.
Namun, situasi berubah ketika Red Sparks memutuskan memulangkan dan mempertahankan Vanja Bukilic. Keputusan itu diyakini membuat peluang Megawati kembali semakin kecil karena kedua pemain sama-sama berstatus sebagai tumpuan utama tim.
Manajemen Red Sparks disebut lebih memilih melanjutkan proyek jangka panjang bersama Bukilic dan sejumlah pemain inti lainnya. Kondisi tersebut membuat Megawati harus mencari tantangan baru dan akhirnya memilih bergabung dengan Hyundai Hillstate.
Bagi para penggemar, keputusan tersebut cukup mengejutkan. Pasalnya, duet Megawati dan Bukilic pernah menjadi salah satu kombinasi paling berbahaya di Liga Voli Korea. Keduanya sukses membawa Red Sparks bangkit dan bersaing hingga level tertinggi kompetisi.
Rivalitas Baru di Liga Voli Korea
Perpindahan Megawati ke Hyundai Hillstate diprediksi akan menciptakan rivalitas baru yang menarik perhatian publik Korea maupun Indonesia.
Jika sebelumnya Megawati dan Bukilic bermain dalam satu tim, kini keduanya akan saling berhadapan untuk membuktikan siapa yang mampu membawa timnya meraih prestasi lebih tinggi.
Media Korea bahkan mulai menyoroti potensi duel panas antara Hyundai Hillstate dan Red Sparks. Pertandingan kedua tim diprediksi menjadi salah satu laga yang paling dinantikan musim depan.
Banyak pengamat menilai persaingan ini bukan sekadar pertandingan biasa. Ada unsur pembuktian yang kuat dari kedua belah pihak. Megawati ingin menunjukkan bahwa dirinya tetap mampu bersinar bersama klub baru, sementara Red Sparks berusaha membuktikan keputusan mempertahankan Bukilic adalah langkah yang tepat.
Jung Hoyong Dicoret dari Timnas Korea Selatan
Selain kabar Megawati Hangestri, dunia voli Korea juga dihebohkan dengan absennya Jung Hoyong dari skuad utama Korea Selatan untuk AVC Cup 2026.
Keputusan tersebut mengejutkan banyak penggemar karena Jung Hoyong selama ini dikenal sebagai salah satu middle blocker terbaik yang dimiliki Korea Selatan. Kemampuannya dalam melakukan blok dan quick attack membuatnya menjadi pemain penting dalam berbagai turnamen internasional.
Absennya Jung Hoyong memunculkan berbagai spekulasi, mulai dari faktor strategi pelatih hingga proses regenerasi tim nasional. Hingga kini, keputusan tersebut masih menjadi bahan perdebatan di kalangan pencinta voli Korea.
Timnas Voli Putra Indonesia Mulai Bersiap
Sementara itu, Timnas Voli Putra Indonesia mulai menjalani pemusatan latihan untuk menghadapi AVC Nations Cup 2026.
Pelatih asal Brasil, Sergio Veloso, langsung memimpin sesi latihan perdana dengan fokus memperkuat sektor pertahanan, blocking, dan passing. Kehadiran pelatih baru ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas permainan Indonesia di level Asia.
Meski belum seluruh pemain bergabung dalam training camp, PBVSI tetap optimistis tim mampu tampil kompetitif pada turnamen mendatang.
Nizar Zulfikar Resmi Mundur dari Pelatnas
Kabar lain yang juga menyita perhatian adalah keputusan Nizar Zulfikar untuk mundur dari Pelatnas 2026.
Setter senior yang selama ini menjadi motor permainan Timnas Voli Putra Indonesia memilih memberi kesempatan kepada generasi muda untuk berkembang. Keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan kondisi fisik serta rencana pribadi ke depan.
Kepergian Nizar menjadi kehilangan besar bagi tim nasional. Namun di sisi lain, langkah tersebut membuka peluang bagi pemain muda untuk mengambil peran lebih besar dalam perjalanan voli Indonesia menuju level yang lebih tinggi.
Musim 2026 pun diprediksi menjadi tahun penuh perubahan, baik di Liga Voli Korea maupun bagi Timnas Voli Indonesia. Sorotan terbesar tetap tertuju pada Megawati Hangestri yang akan memulai babak baru kariernya bersama Hyundai Hillstate.
Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari