TULUNGAGUNG - Dua puluh empat jam. Seratus kilometer. Satu tujuan. Para runner Tulungagung menantang batas fisik sembari mengubah setiap kilometer menjadi bentuk kepedulian.
Jalanan perkotaan Tulungagung pada Kamis (3/9) menjadi ruang untuk menguji satu hal yang tak bisa diukur dengan medali, seberapa jauh seseorang mampu bertahan.
Puluhan runner bergantian melangkah. Ada yang berlari, berjalan, berhenti untuk mengambil napas, kemudian kembali melanjutkan perjalanan.
Bukan karena mereka mengejar podium. Bukan pula karena ada garis finis dengan hadiah besar yang menunggu.
Konsepnya sederhana, tetapi tantangannya tidak ringan. Peserta kategori 24 jam ditargetkan menempuh 100 kilometer. Ada pula kategori 12 jam dengan target 50 kilometer serta kategori lainnya dengan target 30 kilometer.
Namun, “tanpa henti” dalam event tersebut bukan berarti peserta harus terus berlari selama 24 jam tanpa boleh berhenti menyesuaikan diri masing-masing.
Justru di situlah tantangannya. Runner harus mengenali tubuh sendiri. Kapan harus berlari, kapan harus memperlambat langkah, dan kapan harus berhenti untuk memulihkan tenaga.
“Bisa berhenti-berhenti, yang penting nanti targetnya tercapai,” ujar Event Director Tulungagung RunFest 2026, Yulius Rahma Isworo.
Konsep itu sejalan dengan tagline yang dibawa panitia yakni “urus dirimu”. Peserta dituntut mandiri.
Tidak ada dukungan khusus yang disiapkan untuk memenuhi seluruh kebutuhan pelari. Mereka harus menyiapkan makanan, minuman, perlengkapan, hingga kebutuhan pribadi masing-masing.
Tetapi semakin malam, tantangannya bukan lagi sekadar soal kaki. Rasa lelah mulai mengambil alih.
Jalan yang pada siang hari terasa biasa, perlahan menjadi ujian ketika tubuh sudah kehilangan banyak tenaga.
Di titik itulah setiap pelari berhadapan dengan dirinya sendiri. Ada batas kemampuan yang harus dikenali.
Ada keputusan untuk berhenti sebelum tubuh benar-benar menyerah. Ada pula keputusan untuk kembali melangkah setelah tenaga pulih.
Menariknya, seluruh perjuangan tersebut tidak berhenti pada pencapaian jarak.
Di balik setiap kilometer yang ditempuh, ada tujuan lain, kepedulian. Kegiatan tersebut menggandeng yayasan yatim piatu.
Masyarakat yang tidak ikut berlari pun dapat mengambil bagian dengan memberikan dukungan donasi.
Jadi, mereka yang berlari menyumbangkan tenaga. Mereka yang tidak berlari bisa menyumbangkan kepedulian.
“Target utamanya donasi untuk charity, sambil kita berlari,” kata Yulius.
Hingga kegiatan berlangsung, lebih dari 50 runner tercatat ikut ambil bagian. Jumlah itu masih memungkinkan bertambah. Panitia bahkan berharap peserta bisa mencapai sekitar 100 orang.
Rute yang dipilih pun bukan lintasan tertutup. Para pelari menyusuri sejumlah ruas jalan dalam kota dengan sistem loop sekitar 3,3 kilometer.
Artinya, mereka tidak berlari di dunia yang terpisah dari masyarakat. Mereka berbagi jalan dengan pengendara dan pengguna jalan lainnya.
Karena itu, ketika malam tiba, pelari diwajibkan menggunakan red lamp atau penanda agar keberadaan mereka mudah terlihat.
Pesan yang ingin dibangun juga sederhana, berlari di jalan umum boleh, tetapi keselamatan dan ketertiban tetap menjadi yang utama.
“Bisa lari di jalan, tapi kita harus tetap tertib lalu lintas dan berbagi jalan dengan pengguna jalan yang lain,” jelas Yulius.
Bagi panitia, kegiatan tersebut sekaligus menjadi perjalanan menuju Tulungagung RunFest 2026.
Namun, jauh sebelum event besar itu tiba, para runner lebih dulu diajak merasakan bahwa lari tidak selalu tentang siapa yang paling cepat.(sri/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri