RADAR TULUNGAGUNG - Surabaya dikenal sebagai kota pahlawan dengan sejarah panjang, bukan hanya soal perjuangan kemerdekaan, tapi juga modernisasi transportasi di masa lalu.
Salah satu moda transportasi yang pernah eksis dan jadi kebanggaan Surabaya pada masa kolonial adalah trem.
Bayangkan, jauh sebelum MRT atau LRT hadir, masyarakat Surabaya sudah menikmati transportasi umum berbasis rel yang modern untuk masanya.
Kini, trem di Surabaya tinggal kenangan, namun sejarahnya tetap menarik untuk ditelusuri.
Baca Juga: Pabrik Tertua di Tulungagung: Sejarah, Peran, dan Warisannya Hingga Kini
Trem pertama kali hadir di Surabaya pada 1889, dibangun oleh perusahaan Belanda bernama Oost-Java Stoomtram Maatschappij (OJS).
Pada awalnya, trem dioperasikan dengan tenaga uap, sebelum akhirnya berkembang menjadi trem listrik pada tahun 1923.
Kehadiran trem membuat Surabaya terlihat lebih maju dibandingkan kota-kota lain di Indonesia kala itu.
Trem jadi alat transportasi favorit warga karena mampu menghubungkan berbagai titik penting kota dengan cepat dan nyaman.
Baca Juga: Simak 4 Stasiun Kereta Api Aktif di Ngawi, Nomor 3 dan 4 Tak Layani Naik Turun Penumpang
Pada era 1920–1940, trem menjadi moda transportasi utama di Surabaya. Setiap hari, ribuan penumpang naik trem untuk bekerja, berbelanja, atau sekadar bepergian.
Kehadiran trem juga mendukung pertumbuhan ekonomi kota, karena akses antarwilayah menjadi lebih cepat.
Pada masa jayanya, trem memiliki rute yang cukup luas, meliputi Jalur Tunjungan – Pasar Turi – Jembatan Merah, Jalur Darmo – Wonokromo, dan Jalur Simpang – Gubeng – Ngagel
Jaringan trem ini bukan hanya menghubungkan pusat perdagangan, tapi juga kawasan pemukiman, sehingga memudahkan mobilitas warga dan pekerja.
Setelah Indonesia merdeka, trem masih sempat beroperasi beberapa dekade. Namun, pada 1970-an, keberadaan trem mulai tergeser oleh moda transportasi lain seperti bemo, bus kota, hingga kendaraan pribadi.
Infrastruktur yang menua serta biaya perawatan yang mahal membuat trem akhirnya berhenti beroperasi secara resmi pada 1978.
Baca Juga: Yuk Kenalan dengan 4 Stasiun Kereta Api di Madiun Raya, Nomor 2 dan 4 Hanya untuk Persilangan
Sejak saat itu, rel-rel trem di Surabaya banyak yang dicabut, meski beberapa bekas jalurnya masih bisa dikenali hingga sekarang.
Meskipun sudah tiada, jejak trem masih dapat ditemukan di beberapa sudut kota. Ada yang berupa bekas jalur, arsip foto, hingga cerita nostalgia warga tua yang pernah merasakan naik trem.
Bahkan, hingga kini ada wacana untuk menghidupkan kembali sistem transportasi berbasis rel di Surabaya, meski dalam bentuk modern seperti LRT atau kereta perkotaan.
Sejarah trem di Surabaya adalah bukti bahwa kota ini pernah menjadi salah satu pusat modernisasi transportasi di Indonesia.
Trem mungkin sudah tiada, tetapi kisahnya tetap abadi dalam ingatan. Bagi masyarakat Surabaya, mengenang trem sama artinya dengan menghargai warisan sejarah transportasi yang pernah membanggakan Kota Pahlawan ini. ****
Editor : Dharaka R. Perdana