RADARTULUNGAGUNG,JAWAPOS.COM- Weton Jawa kembali dibahas dalam kelas metafisika Javanica yang memasuki bab kedua. Pembahasan kali ini memperkenalkan dasar perhitungan weton, mulai dari hari lahir dan pasaran hingga penggunaannya untuk membaca karakter, rezeki, peruntungan, asmara, jodoh, bahkan arah tempat usaha dan rumah tinggal.
Kelas tersebut dikemas dalam suasana santai. Para pembicara menjelaskan bahwa materi weton tidak hanya berkaitan dengan karakter seseorang, tetapi juga menggunakan angka dan rumusan tertentu yang perlu dipahami secara bertahap.
Baca Juga: TKA SMP Makin Dekat, Ini Trik Cepat Taklukkan Soal Pecahan hingga Geometri
Dasar Perhitungan Weton Jawa
Dalam penjelasan kelas, perhitungan weton Jawa menggunakan dua unsur utama. Pertama adalah hari yang terdiri atas tujuh hari, mulai Minggu hingga Sabtu. Kedua adalah pasaran Jawa yang terdiri dari Kliwon, Legi, Pahing, Pon, dan Wage.
Kedua unsur tersebut memiliki nilai atau angka tertentu. Nilai hari dan pasaran kemudian digunakan dalam proses perhitungan untuk mendapatkan hasil weton seseorang. Pembicara menggambarkan sistem tersebut seperti penggunaan konstanta dalam ilmu pengetahuan dan matematika.
Materi kemudian dikaitkan dengan konsep arah mata angin. Penjelasan di papan tulis menunjukkan adanya pembagian ruang, termasuk arah utara, timur, selatan, barat, serta pusat atau pancer. Konsep tersebut juga dikaitkan dengan istilah sedulur papat limo pancer.
Pembicara menekankan bahwa angka-angka dalam perhitungan weton memiliki makna masing-masing. Hasil perhitungan selanjutnya dapat digunakan sebagai dasar untuk menerjemahkan karakter maupun kecenderungan seseorang.
Baca Juga: TKA SMP, 6 Model Soal Ini Wajib Dikuasai, Ada Pecahan hingga Pythagoras !
Weton untuk Membaca Karakter dan Rezeki
Salah satu bagian yang dibahas adalah hasil perhitungan yang berkaitan dengan karakter serta rezeki. Dalam contoh yang diberikan, seseorang dengan karakter tertentu disebut memiliki peluang mendapatkan rezeki melalui hubungan dan koneksi dengan banyak orang.
Karena itu, kemampuan membangun jaringan, bertanggung jawab, dan menjaga kepercayaan disebut menjadi hal penting. Sebaliknya, karakter yang tidak memiliki pendirian atau sulit dipercaya dinilai dapat menjadi hambatan dalam membangun koneksi.
Pembahasan juga menyebut adanya kategori yang dikaitkan dengan bakat atau potensi besar seseorang. Orang dalam kategori tersebut digambarkan memiliki kemampuan memimpin atau mengayomi. Namun, pembicara mengingatkan pentingnya tetap rendah hati dan tidak melupakan orang lain ketika sudah berada dalam posisi yang lebih tinggi.
Sementara itu, hasil perhitungan yang berkaitan dengan kondisi sulit tidak selalu dimaknai sebagai sesuatu yang bersifat permanen. Pembicara menjelaskan bahwa pengalaman sulit dapat menjadi bagian dari proses menuju kondisi yang lebih baik.
Weton Bukan Penentu Segalanya
Dalam kelas tersebut juga disampaikan bahwa hasil perhitungan weton tidak seharusnya dipercaya secara mutlak. Pembicara menyebutnya sebagai rambu-rambu untuk mengenali diri dan mempersiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan.
Pembahasan bahkan menyinggung pasangan dan kecocokan jodoh. Peserta nantinya diminta mencoba menghitung berdasarkan tanggal lahir sendiri dan pasangan. Materi berikutnya akan membahas perhitungan asmara, kecocokan pasangan, serta pemilihan hari pernikahan.
Di bagian akhir, pembicara menegaskan bahwa hasil hitungan weton bukan akhir dari segalanya. Ketika ditemukan hasil yang dianggap kurang baik, peserta diminta tidak berkecil hati. Doa, kekuatan, serta restu orang tua disebut tetap menjadi hal penting.
Baca Juga: 3 Tim Pamekasan Amankan Tiket Semifinal Bahlil Mini Soccer Zona 8 Madura, 1 Slot Milik SMAN Ambunten
Editor : Fadhilah Salsa BellaSumber : Pinterest