RADAR TULUNGAGUNG – Legenda bulu tangkis Indonesia, Hendra Setiawan, dipastikan akan comeback di Kejuaraan Dunia Senior 2025.
Turnamen resmi BWF yang bertajuk Amazing Thailand-Pattaya BWF World Senior Championships ini dijadwalkan berlangsung pada 7–14 September 2025 di Pattaya, Thailand.
Keikutsertaan Hendra Setiawan menjadi sorotan besar, mengingat ini adalah penampilannya kembali di ajang resmi setelah pensiun pada Desember 2024.
Baca Juga: Juara Asia Mixed Team Championship 2025 di Qingdao, Badminton Indonesia Ukir Sejarah!
Dalam ajang ini, Hendra Setiawan comeback di Kejuaraan Dunia Senior 2025 tidak hanya di satu nomor, melainkan dua nomor sekaligus.
Ia akan tampil di nomor ganda putra bersama legenda hidup Tony Gunawan, yang merupakan idolanya sejak awal karier, dan di nomor ganda campuran bersama mantan pebulutangkis nasional Debby Susanto.
Keputusan ini memantik antusiasme publik, khususnya pecinta bulu tangkis tanah air yang rindu menyaksikan aksi elegan Hendra di lapangan.
Bagi banyak orang, Hendra Setiawan comeback di Kejuaraan Dunia Senior 2025 adalah momen berharga yang menghidupkan kembali nostalgia masa kejayaan bulu tangkis Indonesia.
Kehadirannya di lapangan menjadi pengingat perjalanan panjang seorang juara dunia dan peraih emas Olimpiade yang tetap menjaga semangat kompetitifnya, bahkan setelah resmi pensiun dari turnamen profesional level utama.
Baca Juga: Alwi Farhan Tersingkir di Babak 16 Besar Japan Open 2025 Usai Duel Sengit Lawan Alex Lanier
Hendra Setiawan adalah salah satu ganda putra terbaik yang pernah dimiliki Indonesia dan bergelimang gelar juara.
Prestasinya mencakup medali emas Olimpiade Beijing 2008 bersama Markis Kido, tiga gelar juara dunia (2007 dengan Kido, 2013 dan 2015 bersama Mohammad Ahsan), serta berbagai gelar Superseries dan Super 1000.
Gaya bermainnya yang tenang, cerdas, dan penuh perhitungan membuatnya menjadi inspirasi bagi banyak atlet muda.
Usai menjalani karier lebih dari dua dekade, Hendra memutuskan pensiun dari kompetisi utama pada Desember 2024, tepat setelah tampil di Indonesia Masters.
Namun, kecintaannya pada bulu tangkis membuatnya tetap aktif berlatih dan mencari peluang untuk tetap mengayunkan raket di turnamen khusus seperti Kejuaraan Dunia Senior.
Keputusan Hendra tampil di dua nomor sekaligus bukan tanpa alasan. Di nomor ganda putra, ia akan berpasangan dengan Tony Gunawan, sosok yang selama ini ia kagumi.
Tony sendiri adalah juara dunia 2001 dan peraih emas Olimpiade Sydney 2000 bersama Candra Wijaya. Kolaborasi dua legenda ini diyakini akan menjadi daya tarik besar, bahkan sebelum turnamen dimulai.
Baca Juga: Comeback Pahit, Anthony Ginting Tersingkir di Babak Awal Japan Open 2025
Di nomor ganda campuran, Hendra akan berduet dengan Debby Susanto, mantan pemain ganda campuran papan atas yang pernah berjaya di All England dan SEA Games.
Meski tidak pernah berpasangan secara resmi di level senior utama sebelumnya, pengalaman keduanya di level dunia diharapkan bisa membuahkan hasil manis di ajang ini.
Kejuaraan Dunia Senior merupakan turnamen resmi BWF yang dikhususkan untuk atlet berusia 35 tahun ke atas, dengan pembagian kategori usia seperti 35+, 40+, 45+, dan seterusnya.
Meskipun atmosfernya lebih santai dibanding turnamen elit, persaingan tetap ketat karena diikuti mantan pemain profesional yang sarat pengalaman dan teknik mumpuni.
Tahun ini, ajang akan digelar di Pattaya, Thailand, dengan fasilitas dan arena berstandar internasional.
Banyak negara sudah mengirimkan wakil terbaiknya di kategori senior, termasuk Indonesia yang akan menurunkan beberapa nama legendaris selain Hendra.
Baca Juga: Usai Cedera Panjang, Anthony Ginting Siap Comeback Juli 2025
Kabar Hendra akan turun di Kejuaraan Dunia Senior langsung menjadi perbincangan hangat di media sosial.
Banyak penggemar menyambut gembira, membagikan cuplikan video lama saat Hendra beraksi, dan menunggu momen ia kembali berpasangan dengan Tony Gunawan.
Sebagian fans juga penasaran melihat chemistry Hendra dengan Debby Susanto di nomor ganda campuran.
Pelatih nasional era Hendra, yang kini menjadi pengamat, mengatakan bahwa kehadiran pemain sekelas Hendra akan memberi semangat bagi generasi muda.
“Dia menunjukkan bahwa bulu tangkis bisa tetap dimainkan secara kompetitif meskipun sudah melewati usia emas. Itu inspirasi besar,” ujarnya.
Dalam wawancara singkat, Hendra menyebut bahwa motivasinya ikut kembali bukan sekadar untuk menang, tetapi untuk menikmati permainan dan bertemu kembali dengan rekan-rekan lama di dunia bulu tangkis.
“Saya ingin main lagi tanpa beban, menikmati suasana, dan kalau bisa tetap memberikan performa terbaik untuk Indonesia,” ungkapnya.
Hendra juga menambahkan bahwa bermain di Kejuaraan Dunia Senior memberikan tantangan tersendiri.
Meski intensitas pertandingan tidak setinggi level Super 1000, faktor stamina, koordinasi, dan kekompakan pasangan tetap menjadi kunci untuk meraih kemenangan.
Meski comeback ini lebih banyak disorot dari sisi emosional dan nostalgia, peluang Hendra meraih gelar di Kejuaraan Dunia Senior 2025 tetap terbuka lebar.
Pengalamannya membaca permainan, kontrol net yang presisi, serta kemampuan bertahan yang luar biasa bisa menjadi modal besar menghadapi lawan-lawan seangkatan.
Baca Juga: Jonatan Christie Angkat Koper pada Hari Pertama Japan Open 2025
Di nomor ganda putra, kombinasi Hendra–Tony Gunawan diyakini akan menjadi salah satu favorit juara.
Sementara di ganda campuran, kolaborasinya dengan Debby Susanto bisa memberikan kejutan, terutama jika mereka mampu beradaptasi cepat dengan gaya bermain lawan.
Hendra Setiawan comeback di Kejuaraan Dunia Senior 2025 bukan hanya berita tentang seorang atlet yang kembali bertanding, melainkan cerita tentang semangat, persahabatan, dan kecintaan terhadap olahraga.
Publik Indonesia kini menunggu aksi sang legenda di lapangan, sambil berharap ia bisa menambah koleksi gelarnya, meski di panggung yang berbeda.
Turnamen ini akan menjadi momen spesial bagi penggemar bulu tangkis, bukan hanya di Indonesia, tetapi di seluruh dunia.
Dan ketika Hendra kembali mengayunkan raketnya, kita semua tahu — kelas seorang juara sejati tidak akan pernah pudar. ****
Editor : Dharaka R. Perdana