JAKARTA – Di tepi Danau Como, salah satu destinasi paling indah di Eropa, berdiri sebuah stadion kecil yang dahulu nyaris tak terdengar gaungnya. Dari sanalah Como 1907, klub sepak bola Italia yang lama hidup di pinggiran, perlahan membangun cerita yang kini menarik perhatian dunia. Bukan karena gelar juara atau belanja pemain besar, melainkan karena cara berbeda membangun klub sepak bola modern.
Como 1907 bukan klub besar dalam sejarah Italia. Mereka tak memiliki lemari trofi mentereng atau masa kejayaan panjang. Klub ini bahkan berkali-kali bangkrut, dilelang, ditinggalkan investor, hingga terlempar ke Serie D pada 2017. Selama puluhan tahun, Como hanya menjadi simbol klub Italia kelas dua—cukup untuk bertahan, tapi tak pernah cukup kuat untuk tumbuh.
Perubahan besar datang pada April 2019. Klub ini diakuisisi oleh SENT Entertainment, perusahaan milik Djarum Group yang dikendalikan Robert Budi Hartono dan Robert Wijaya Suwanto, dua orang terkaya di Indonesia. Nilai akuisisi Como 1907 terbilang kecil, sekitar 850 ribu euro, ditambah pelunasan utang klub. Namun yang dibawa bukan sekadar modal, melainkan visi jangka panjang.
Baca Juga: Sergio Ramos ke Persib Bandung? Rumor Transfer, Rivalitas, dan Tekanan Juara Paruh Musim
Dari Klub Bangkrut ke Proyek Berkelanjutan
Sejak diambil alih, Como tidak lagi diposisikan hanya sebagai klub sepak bola. Di bawah kepemimpinan Mirwan Suwarso sebagai Presiden klub, Como dibangun sebagai proyek terintegrasi antara olahraga, bisnis, dan identitas Danau Como. Sepak bola tetap menjadi fondasi, namun harus menopang ekosistem yang lebih luas dan berkelanjutan.
Investasi diarahkan ke infrastruktur, bukan sensasi. Pusat latihan di Mozzate dikembangkan, stadion Giuseppe Sinigaglia direnovasi, akademi diperkuat, dan standar teknologi Serie A dipenuhi. Struktur klub dirombak menjadi empat pilar utama: akademi, retail, properti, dan hiburan. Hasilnya, Como 1907 menjelma menjadi “klub butik” dengan identitas kuat.
Filosofi Sepak Bola Modern ala Como
Di atas lapangan, Como 1907 menolak jalan pintas. Klub ini tidak mengejar promosi instan atau membeli pemain bintang mahal. Rekrutmen dilakukan berbasis data, mencari pemain yang sesuai sistem, bukan sekadar nama besar. Filosofi ini sejalan dengan model klub seperti Brentford dan Brighton yang sukses karena efisiensi dan disiplin.
Kehadiran Cesc Fabregas pada 2022 menjadi bagian dari desain jangka panjang. Fabregas datang bukan sebagai bintang pensiun, melainkan bagian dari proyek. Setelah gantung sepatu, ia masuk staf pelatih dan pada 2024 ditunjuk sebagai pelatih kepala. Di bawah filosofi penguasaan bola dan pressing terorganisir, Como tampil berbeda di Serie B.
Statistik mendukung pendekatan ini. Pada paruh pertama musim 2023–2024, Como mencatat rata-rata penguasaan bola 58 persen dengan akurasi umpan sekitar 84 persen. Angka tersebut lebih lazim dimiliki klub Serie A mapan, bukan tim promosi. Promosi ke Serie A pada Mei 2024 pun bukan keajaiban, melainkan hasil kerja terukur.
Tidak Sekadar Bertahan di Serie A
Berbeda dari banyak klub promosi Italia, Como mempertahankan sekitar 70 persen skuadnya saat naik ke Serie A. Keputusan ini membuat transisi berjalan mulus. Pada musim 2024–2025, Como tampil kompetitif, berani bermain terbuka, dan tidak sekadar bertahan hidup.
Menariknya, Como juga berkembang pesat di luar lapangan. Klub ini membangun citra sebagai lifestyle brand melalui kolaborasi fashion, merchandise eksklusif, hospitality matchday, hingga pengalaman wisata Danau Como. Pendapatan retail melonjak tajam, dan hampir separuh pemasukan tiket kini berasal dari wisatawan internasional.
Blueprint Baru Sepak Bola Italia
Como 1907 kini dipandang sebagai salah satu proyek paling prospektif dalam sepak bola modern. Dengan kombinasi modal kuat, kesabaran, struktur bisnis modern, dan lokasi geografis unik, Como membuktikan bahwa masa depan sepak bola tidak selalu ditentukan trofi dan belanja besar.
Como tidak mencoba menjadi Juventus atau AC Milan versi kecil. Mereka membangun versi terbaik dari diri mereka sendiri. Dari klub bangkrut menjadi studi kasus global, Como 1907 bukan dongeng, melainkan blueprint baru sepak bola modern.
Editor : Natasha Eka Safrina