RADAR TULUNGAGUNG - Atmosfer panas mewarnai laga Persib Bandung vs Ratchaburi FC pada leg kedua babak 16 besar AFC Champions League 2 musim 2025/2026 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Rabu (18/2).
Kemenangan 1-0 Persib Bandung justru berakhir dengan kekecewaan mendalam setelah mimpi lolos ke babak berikutnya pupus akibat kekalahan agregat.
Pertandingan Persib Bandung vs Ratchaburi FC bukan hanya meninggalkan catatan skor, tetapi juga kontroversi besar yang memicu emosi ribuan Bobotoh.
Seusai peluit panjang dibunyikan, sejumlah suporter turun ke lapangan sebagai bentuk protes terhadap kepemimpinan wasit yang dinilai merugikan tuan rumah.
Situasi memanas ketika beberapa oknum melempar benda ke arah lapangan.
Aparat keamanan bersama steward langsung membentuk pagar manusia demi melindungi pemain dan perangkat pertandingan yang bergegas menuju lorong ruang ganti.
Kemenangan yang Terasa Pahit
Secara hasil, Persib berhasil menang tipis melalui gol tunggal yang sempat menjadi harapan kebangkitan.
Namun kemenangan tersebut tidak cukup membalikkan keadaan setelah pada leg pertama di Thailand mereka kalah telak 0-3.
Agregat 1-3 memastikan langkah Persib Bandung terhenti di babak 16 besar AFC Champions League 2.
Sepanjang pertandingan, GBLA sebenarnya dipenuhi energi positif. Ribuan Bobotoh menyanyikan dukungan tanpa henti. Namun suasana berubah drastis setelah laga usai.
Ledakan emosi pertama muncul dari tribun selatan. Sejumlah suporter melompati pembatas stadion dan berlari ke tengah lapangan.
Beruntung tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Petugas keamanan berhasil mengendalikan situasi secara bertahap dan memukul mundur massa kembali ke tribun.
Kontroversi Wasit Jadi Pemicu
Kemarahan suporter disebut tidak muncul tanpa alasan. Banyak pihak menilai kepemimpinan wasit sepanjang laga penuh keputusan kontroversial.
Sorotan utama tertuju pada kartu merah yang diterima salah satu pemain Persib setelah tekel keras dinilai terlambat. Keputusan tersebut dianggap terlalu berat.
Ironisnya, pelanggaran serupa dari pemain Ratchaburi FC hanya diganjar kartu kuning.
Tak berhenti di situ, kontroversi lain muncul ketika gol Persib sempat dianulir karena dianggap offside oleh hakim garis.
Protes keras terjadi sebelum akhirnya Video Assistant Referee (VAR) menyatakan gol tersebut sah.
Rangkaian keputusan itu memperkuat anggapan sebagian pendukung bahwa laga berjalan tidak adil.
Komisi Disiplin klub pun bergerak cepat dengan mengirimkan surat protes resmi kepada AFC.
Manajemen berharap wasit yang memimpin pertandingan dapat diperiksa apabila ditemukan pelanggaran integritas.
Meski peluang laga ulang dinilai sangat kecil, langkah tersebut menjadi bentuk sikap resmi klub.
Dukungan Spiritual Sebelum Laga
Menariknya, jelang pertandingan krusial tersebut, Persib tidak hanya mempersiapkan aspek teknis.
Sehari sebelum laga, rombongan santri dari Bogor mendatangi Graha Persib di Jalan Sulanjana, Bandung.
Mereka datang membawa doa dan dukungan moral bagi skuad Maung Bandung.
Pimpinan rombongan, KH Herman Sudrajat, menyebut kunjungan itu sebagai ikhtiar batin untuk memberikan ketenangan serta keberanian kepada pemain menghadapi laga penting tingkat Asia.
Manajemen klub menyambut hangat kedatangan tersebut.
Wakil Operasional PT Persib Bandung Bermartabat Andang Ruhiyat menyebut dukungan spiritual menjadi energi tambahan bagi tim.
Menurutnya, perjuangan klub tidak hanya soal strategi di lapangan, tetapi juga kekuatan mental dan kebersamaan dengan masyarakat.
Operasi Comeback yang Gagal
Pelatih kepala Persib, Bojan Hodak, sebelumnya telah mengajak Bobotoh memenuhi stadion untuk menjadi pemain ke-12.
Latihan fisik intensif, analisis taktik lawan, hingga mental coaching dilakukan untuk mengejar defisit tiga gol.
Atmosfer GBLA memang sempat menjadi kekuatan tersendiri. Dukungan suporter membuat tekanan besar bagi tim tamu.
Namun strategi menyerang agresif tetap tidak mampu menghasilkan kemenangan besar yang dibutuhkan.
Kegagalan comeback menjadi pukulan telak bagi Persib yang menargetkan prestasi di kompetisi Asia musim ini.
Isu spekulasi pun sempat mencuat di kalangan suporter mengenai kemungkinan praktik mafia sepak bola dan taruhan.
Meski demikian, tudingan tersebut belum memiliki bukti resmi.
Yang jelas, malam di GBLA bukan sekadar soal skor 1-0. Itu menjadi malam ketika harapan runtuh, emosi meledak, dan sepak bola kembali memperlihatkan sisi paling panasnya di hadapan puluhan ribu pendukung setia.
Editor : Krisna Pambudi