TRAVELLING - Pemukiman penduduk dan gugusan Gunung Budheg tampak indah dari atas perbukitan ini.
Keunikan lainnya adalah adanya batu yang berbentuk seperti payung atau jamur raksasa di tepian jurang, keberadaan batu tersebut menjadi alasan penamaan tempat ini dengan sebutan “Watu Payung”.
Batu ini mejadi ikonik destinasi wisata yang satu ini, sebab batu raksasa ini diyakini masyarakat berasal dari zaman Megalitikum. Batu itu pun menjadi spot foto para pengunjung dengan berlatarkan hijaunya perbukitan.
Tidak mengherankan bila tempat ini pernah viral dikunjungi banyak wisatawan beberapa tahun silam.
Diperlukan 30 menit mendaki bukit hingga sampai pada savana Watu Payung yang membuatnya menjadi Hidden Gem wisata dengan view indah.
Bahkan, savana ini tampak tidak realistis seperti lokasi di film fantasi saat musim penghujan tiba, karena bukit ditutupi rumput dan embun tipis sepanjang hari.
“Tempat ini terus berkabut tipis, dipadu dengan pemandangan yang didominasi hijaunya rerumputan, membuat tempat ini seolah berada dalam dongeng, lokasinya mirip-mirip dengan desa Hobbit di film Lord of the Rings,” jelas Youtuber Jelajah Jawa Timur.
Saat musim kemarau, daun-daun dari pohon jati di bukit ini berguguran, dan rumput yang menutupi keseluruhan bukit mengering, menyisakan pemandangan bentang alam yang memukau, khususnya pemandangan bukit Kinayungan.
Kontur perbukitan dengan pemandangan lampu kota saat malam membuat tempat ini menjadi spot camping favorit.
Apalagi ditambah dengan fasilitas yang cukup mendukung seperti musholla dan kamar mandi.
Medannya juga tidak terlalu sulit, sehingga anak-anak maupun orang dewasa bisa menikmati tempat ini.
Selain savananya yang unik, di bukit ini juga terdapat dua goa yang disebut dengan Goa Kembar dengan rerumputan yang begitu lebat dan hijau.
Meskipun letaknya tidak bersebelahan, namun dua goa ini secara umum memiliki bentuk yang sama.
“Yang sebenarnya bukan sebuah goa. Tapi, lebih cocoknya cerukan besar di dinding batu yang terus dialiri tetesan air walau tidak hujan,” ungkap Youtuber yang eksplor wilayah tersebut.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra