Trenggalek- Kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Trenggalek tak bisa dianggap sepele. Sebab di Bumi Menak Sopal tercatat ada 14 kasus karhutla selama periode musim kemarau tahun ini. Jumlah itu bisa meningkat, mengingat hingga kini hujan belum sepenuhnya turun secara merata.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek, St Triadi Atmono manyampaikan, kasus karhutla mayoritas terjadi di area hutan jati dan lahan milik warga. "Karhutla terjadi di empat desa/kelurahan di tiga kecamatan. Kondisi hutan yang kering membuat api dengan cepat meluas," ujarnya.
Data BPBD Trenggalek, karhutla kali pertama terjadi pada Minggu (21/7). Yakni di kawasan hutan jati Gunung Jaas, Petak 76C, Kelurahan Ngantru, Kecamatan Trenggalek. Luas lahan terbakar sekitar 11,7 hektare. Kasus lainnya melibatkan lahan milik warga di Desa Bendorejo, Kecamatan Pogalan. Luas lahan yang terbakar mulai dari beberapa meter persegi hingga 5 hektare.
Karhutla cukup besar terjadi pada Jumat (6/9). Yakni di Gunung Kedekan, Petak 116 B, Desa Jatiprahu, Kecamatan Karangan. "Luas area terbakar mencapai 5 hektare. Termasuk 0,1 hektare lahan milik Perhutani yang ditanami pohon jati, bambu, serta tumbuhan bawah," papar Triadi.
Dia melanjutkan, beberapa wilayah yang paling terdampak karhutla adalah Kecamatan Trenggalek, Pogalan, dan Karangan. "Beberapa lokasi, seperti Gunung Orak Arik di Desa Karangsuko, tercatat mengalami beberapa kali kebakaran dalam waktu singkat dengan luas area yang bervariasi," imbuhnya.
Di sisi lain, BMKG telah memprediksi bahwa musim kemarau akan berlanjut hingga Oktober. Meski beberapa wilayah Trenggalek sempat diguyur hujan, risiko karhutla masih tinggi. Kondisi kering dan angin kencang di musim kemarau berpotensi memicu kebakaran baru, terutama di area yang mudah terbakar seperti hutan jati dan lahan pemajakan.
“Kami mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap potensi kebakaran. Koordinasi dengan instansi terkait juga terus dilakukan untuk mencegah dan menanggulangi karhutla yang mungkin terjadi,” kata Triadi.
BPBD Trenggalek akan terus memantau situasi saat musim kemarau. Pihaknya juga tetap siaga untuk melakukan penanganan di lokasi yang terdampak karhutla. (kho/c1/wen)
Editor : Whendy Gigih PerkasaSumber : RADAR TRENGGALEK