TULUNGAGUNG – Demam berdarah dengue (DBD) menjadi penyakit yang patut diwaspadai. Terlebih pada musim penghujan sekarang ini. Berdasarkan data yang dihimpun Jawa Pos Radar Tulungagung, sepanjang 2019 hingga pertengahan Januari, tercatat 183 kasus dengan dua kasus meninggal. Jumlah tersebut meningkat jika dibandingkan tahun lalu dengan periode yang sama. “Memang naik, Januari tahun lalu ada 11 kasus. Sekarang mencapai 183 kasus dengan dua kasus meninggal,” jelas Kasi Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung Didik Eka Minggu (20/1).
Curah hujan tinggi menjadi faktor meningkatnya angka kasus DBD. Dinkes mencatat, sepanjang tahun 2017 terjadi sebanyak 128 kasus dengan empat kasus meninggal. Sementara pada tahun 2018, ada 419 kasus dengan enam kasus meninggal.
Dia mengungkapkan, siklus hidup nyamuk Aedes aegypti sebenarnya bukan saat hujan terus-menerus. Melainkan ketika cuaca tak menentu. Sehari hujan, sehari tidak. Ketika tidak turun hujan inilah telur-telur nyamuk berada di genangan air menetas. “Hujan tidak menentu membuat kelembapan udara tinggi. Jadi mendukung proses perkembangan telur-telur nyamuk,” terangnya.
Dia menambahkan, kurangnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) juga menjadi faktor.
Penyakit DBD merupakan penyakit menular disebabkan virus dengue yang ditularkan nyamuk jenis Aedes aegypti. Nyamuk itu senang berada di genangan air dan pada daerah lembap. Seperti pada tempat penyimpanan air, talang hujan, dan tempat-tempat penyimpanan air lainnya. Nyamuk yang memiliki ciri khas tubuh berwarna belang hitam putih ini kerap mencari mangsa pada pagi dan sore hari.
Ada tiga fase penyakit DBD. Gejala paling khas ketika terjangkit DBD adalah mengalami demam tinggi. Pada fase ini penderita akan mengalami demam tinggi secara tiba-tiba setidaknya selama dua hingga lima hari. Demam disertai nyeri pada seluruh tubuh dan kulit memerah.
Fase selanjutnya disebut fase kritis. Fase inilah yang perlu diwaspadai. Pasalnya, demam akan turun dan penderita merasa sembuh. “Fase ini terkadang menjadi pengecoh. Sebab, suhu tubuh turun dan penderita merasa sembuh. Padahal, perlu diwaspadai trombosit turun,” jelasnya.
Fase terakhir dari DBD adalah fase penyembuhan. Pada fase ini penderita akan kembali mengalami demam. Untuk itu, penderita dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang dapat meningkatkan jumlah trombosit. Seperti mengonsumsi jambu biji.
Untuk menekan jumlah kasus DBD, dinkes mengimbau masyarakat untuk melakukan PSN di rumah dan lingkungan masing-masing. Setidaknya seminggu sekali periksa dan buang genangan air di setiap tempat yang dijadikan penampungan air. Membuang barang-barang sudah tidak terpakai agar tidak dijadikan sarang nyamuk. Menutup wadah atau tempat-tempat penampungan air agar nyamuk tidak bisa masuk dan bertelur. Menghindari gigitan nyamuk dengan menggunakan losion antinyamuk dan memasang kasa pada ventilasi juga menjadi upaya preventif. “Kesadaran untuk melakukan upaya preventif memang harus terus digalakkan. Ini untuk menekan angka DBD,” pungkasnya.
Editor : Didin Cahya Firmansyah