Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Delapan Sapi Mati, Warga Nyawangan Resah

Dharaka Russiandi Perdana • Rabu, 4 Desember 2019 | 17:55 WIB
delapan-sapi-mati-warga-nyawangan-resah
delapan-sapi-mati-warga-nyawangan-resah

SENDANG, Radar Tulungagung – Warga Desa Nyawangan, Kecamatan Sendang, resah. Pasalnya, ada delapan ekor sapi milik warga mati mendadak. Apalagi, sapi-sapi tersebut mati dalam rentang waktu dua bulan. Ada dugaan sapi tersebut keracunan. Namun, ada juga warga yang menduga sapi mereka diracun.


 Terkait hal ini, Kepala Desa Nyawangan H Sabar angkat bicara. Dia mengakui, ada sapi milik warganya mati mendadak. Yakni ada delapan ekor. Enam ekor milik warga Dusun Putuk dan dua ekor milik warga Dusun Klanggeran. “Kejadian terakhir sekitar dua minggu lalu. Empat hari kemudian, warga baru melapor. Akhirnya saya ketahui seluruhnya ada delapan sapi yang mati,” ungkapnya


 Pria ramah ini menambahkan, dia tidak menyaksikan langsung kematian sapi milik warganya. Namun melihat gejalanya, bisa jadi sapi tersebut mati karena diracun. Menurut cerita pemiliknya, sebelumnya sapi-sapi itu menunjukkan gejala aneh. Yakni gaduh atau polah sambil bersuara keras. Tak lama, sapi-sapi tersebut ambruk. “Dari semua keterangan warga, dapat saya simpulkan kematian sapi karena diracun. Sebab, satu hari sebelumnya, semua sapi sehat. Seperti janggal kalau sapi-sapi itu mati selain karena racun,” jelasnya


 Meski demikian, lanjut dia, pihak desa belum bisa berbuat banyak karena belum ada laporan lagi. Jika nanti ada laporan sapi mati lagi, maka Pemdes Nyawangan akan lapor ke Dinas Peternakan (Disnak) Tulungagung. “Sapi yang diracun adalah sapi yang cenderung gemuk dan banyak daging sehingga sangat merugikan pemiliknya. Saya berharap kejadian ini tidak terulang lagi,” harapnya.


 Pihak desa sendiri, kata Sabar, berusaha mengantisipasi agar kejadian tersebut tidak terulang. Tentunya, hal tersebut dilakukan bersama warga. “Kami memantau orang yang berpotensi dicurigai berdasarkan gerak-geriknya. Namun untuk memastikan terduga, kami harus meyakinkan beserta bukti, bukan asal menyebut nama orang,” jelasnya.


 Sutikno, kepala Dusun Putuk menambahkan, sapi yang dimiliki warganya pada mulanya sehat. Namun, tiba-tiba sapi meloncat seperti hilang kendali dan bersuara sekencang-kencangnya, lalu mati. Kejadian tersebut berlangsung dua bulan beruntun. Enam ekor sapi milik lima warganya mati. “Salah satunya milik Mujianto. Dia kehilangan dua ekor sapinya,” katanya.  (*)


 

Editor : Dharaka Russiandi Perdana