KEDUNGWARU, Radar Tulungagung – Pandemi coronavirus disease (Covid-19) yang belum juga usai turut berimbas pada sektor perekonomian. Salah satunya, distribusi kebutuhan pangan seperti telur menjadi terganggu. Bagaimana tidak, semenjak merebaknya virus korona, sejumlah pemerintah daerah mulai menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Adanya kebijakan ini membuat akses keluar-masuk ke daerah tertentu menjadi terbatas.
Rudiani, salah satu peternak ayam petelur asal Desa Bangoan, Kecamatan Kedungwaru mengatakan, distribusi yang tidak lancar turut berimbas pada harga telur yang tidak stabil. Bahkan, kondisi ini kian diperburuk dengan naiknya harga pakan ayam mencapai Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu per karung. “Harga telur menjadi tidak stabil. Terkadang tiga hari harga tinggi, kemudian bisa saja hari selanjutnya langsung turun drastis,” jelasnya.
Rudi mengatakan, jika sebelumnya dalam satu minggu dapat melakukan pengiriman dua hingga tiga kali, kini hanya satu kali pengiriman dalam satu minggu. Sebab, akses keluar masuk untuk kendaraan terbatas. Terutama untuk daerah-daerah terpapar Covid-19 seperti Jakarta. “Ini seminggu baru kirim sekali, mau kirim lagi juga masih ditunda karena stok di sana masih ada dan kendaraan juga dibatasi untuk masuk,” terangnya.
Meski distribusi ke luar daerah mengalami gangguan, dia bersyukur kondisi pasar setempat masih cukup baik. Bahkan, harga telur relatif stabil, yakni sekitar Rp 20 ribu per kilogram (kg). Dia mengaku hanya dapat pasrah dengan kondisi yang ada. Sebab, dia juga menyadari pembatasan wilayah menjadi salah satu upaya pemerintah untuk memutus rantai penyebaran Covid-19. “Mau bagaimana lagi, untungnya pasar di sini masih cukup kondusif. Hanya distribusi ke luar daerah yang terhambat,” tandasnya.
Editor : Didin Cahya Firmansyah