KOTA, Radar Tulungagung - Pandemi Covid-19 mengancam semua sektor usaha. Namun, tidak untuk pedagang tembakau kering. Pasalnya, mereka kebanjiran pembeli karena banyak perokok filter yang beralih ke kretek alias rokok lintingan.
Salah satu pedagang tembakau, Sunyoto mengatakan, tembakau kering mulai banyak diburu sejak tiga bulan lalu. Tepatnya pada awal status kegawatdaruratan Covid-19 diumumkan pemerintah daerah. Bahkan, permintaan tembakau kering disebut meningkat 80 persen dari hari biasa. "Covid-19 membuat ekonomi masyarakat turun. Lantas dengan harga rokok kemasan yang tinggi, para perokok ini pindah ke tembakau lokalan dengan melinting manual," katanya.
Pria asal Desa Moyoketen, Kecamatan Boyolangu, ini menjelaskan, hampir semua jenis tembakau diburu dan laris di pasaran. Termasuk tembakau lokal Tulungagung, artomoro, dan radukan-radukan petani. Bahkan untuk memenuhi permintaan, pihaknya juga mendatangkan tembakau dari luar kota seperti Garut, Probolinggo, Bondowoso, Sumedang, dan lainnya. "Semua sama. Banyak dicari," tegasnya
Sementara untuk harga, kata Sunyoto, tembakau lokal Tulungagung dihargai Rp 60 ribu per kilogram (kg). Sedangkan yang tanpa gula, lebih mahal yakni Rp 75 ribu per kg. Untuk tembakau luar kota seperti tembakau Garut dihargai Rp 80 ribu per kg. "Bermacam-macam harganya itu. Tergantung jenis tembakau juga," tuturnya.
Untuk sementara ini, pihaknya lebih banyak mendatangkan tembakau dari luar kota. Itu karena Tulungagung belum masuk masa panen. Panen di Tulungagung diprediksi bulan Oktober mendatang. "Namanya tembakau kering itu benar benar harus kering. Nol kadar airnya. Makanya, perawatan selama penyimpanan harus diperhatikan. Agar tidak menjamur atau bahkan dimakan hama," tuturnya.
Sementara itu, penikmat rokok linting, Hariono mengaku mulai pindah ke tembakau kering sejak dua bulan lalu. Ketika itu, harga rokok kemasan dirasa tinggi. Lantas memilih tembakau kering meskipun harus repot melinting secara manual. Meski demikian, tembakau kering ini diakuinya memiliki banyak pilihan rasa. "Ya lebih murah saja. Banyak pilihan rasanya," tegas warga Desa/Kecamatan Kedungwaru ini. (*)
Editor : Choirurrozaq