Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Puncak Kemarau, Kualitas Udara di Tulungagung Menurun, DLH Beri Langkah untuk Mencegah

Mukhamad Zainul Fikri • Minggu, 22 Oktober 2023 | 20:00 WIB
AMAN: Tampak pengendara motor di Kelurahan Kutoanyar, Kecamatan Tulungagung, memakai masker.
AMAN: Tampak pengendara motor di Kelurahan Kutoanyar, Kecamatan Tulungagung, memakai masker.

 

TULUNGAGUNG- Secara umum, indeks kualitas udara di Tulungagung memang masih dalam kategori baik dengan 83,35 poin. Meski begitu, pada puncak musim kemarau ini, kualitas udara sedikit mengalami penurunan. Masyarakat diimbau untuk mengurangi penggunaan kendaraan bermotor serta tidak melakukan pembakaran sampah secara sembarangan.

Kabid Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tulungagung, Suroso menjelaskan, indeks kualitas udara sebenarnya menunjukkan posisi paling bagus dibandingkan indeks kualitas lingkungan hidup (IKLH) lainnya. Tulungagung berhasil memenuhi target indeks tersebut dan dalam kategori yang masih baik.

Pengujian terhadap indeks kualitas udara di Tulungagung mengambil empat titik lokasi pengambilan sampel yang berbeda. Pertama adalah daerah industri, tepi jalan raya, kawasan permukiman, hingga kawasan perkantoran. Parameternya adalah seberapa jauh polutan gas nitrogen dioksida (NO2) serta sulfur dioksida (SO2) mencemari udara Tulungagung.

“Paling rendah (kualitas udara terburuk) itu adalah saat pengujian di tepi jalan. Penyebabnya adalah polusi udara dari asap kendaraan bermotor itu. Tapi secara umum, berdasarkan hasil uji, kualitas udara dalam kondisi baik dari empat titik lokasi itu,” terang Suroso.

Kualitas udara juga sangat ditentukan dengan musim yang sedang berjalan.  Secara teori, Suroso mengamini bahwa pada musim kemarau panjang kali ini keberadaan polutan NO2 dan SO2 menjadi lebih banyak ketimbang saat musim hujan. Itu berarti kualitas udara di Tulungagung pada puncak musim kemarau ini sedikit mengalami penurunan.

“Musim itu juga berpengaruh. Musim hujan dan musim kemarau itu berpengaruh. Katakanlah pada saat musim hujan, konsentrasi NO2 dan SO2 itu akan tersapu oleh air hujan, terjadi reaksi di udara. Tapi pada puncak kemarau ini, akhirnya polutan itu menambah dan kualitas udara menjadi turun,” jelas pria tersebut.

Penurunan kualitas yang terjadi karena kemarau panjang untungnya tidak memengaruhi indeks kualitas udara secara mayor. Dengan begitu udara masih dalam kategori sangat aman. Dengan begitu, belum ada rekomendasi bagi masyarakat untuk memakai masker saat keluar dari rumah atau sejenisnya.

“Meskipun aman, tapi alangkah lebih baik jika menggunakan pengaman (masker) saat keluar rumah. Pergi pakai masker akan lebih baik daripada tidak, karena kaitannya juga dengan penyakit ISPA (infeksi saluran pernapasan akut) juga,” tuturnya.

Suroso menambahkan, pada prinsipnya, upaya menjaga kualitas udara di Tulungagung bukan hanya menjadi tugas DLH. Namun, tanggung jawab itu melekat kepada setiap individu di Bumi Lawadan ini.

Masyarakat juga diimbau untuk bisa mengurangi penggunaan kendaraan bermotor, serta tidak membakar sampah secara sembarangan jika tidak ingin kualitas udara terus menurun.

“Jarak 100-200 meter saja kita selalu pakai kendaraan bermotor. Itulah yang harus diubah, karena sangat berpengaruh pada kualitas udara kita. Memang perlu kesadaran bersama. Ini adalah kinerja agregat dari semua lapisan masyarakat,” tutup Suroso. (nul/c1/rka)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#tulungagung #kualitas udara