TULUNGAGUNG-Puluhan warga di Kelurahan Panggungrejo, Kecamatan/Kabupaten Tulungagung, menggelar aksi penolakan ganti untung proyek tol Kediri-Tulungagung, Minggu (29/10/2023).
Mereka menggelar protes dengan membentangkan spanduk bertuliskan penolakan ganti untung proyek tol Kediri-Tulungagung.
Berbagai alasan muncul terkait aksi warga.
Isu utama yakni masih rendahnya ganti untung untuk proyek tol Kediri-Tulungagung, yang kini berproses.
Warga tak mengira jika harga ganti untung proyek tol Kediri-Tulungagung, yang diberikan lebih rendah dari harga di pasaran untuk luasan per meter persegi.
Termasuk dirasakan Sugandi yang memiliki tanah bakal terdampak proyek tol Kediri-Tulungagung. "Sudah muncul untuk harga per meter persegi," katanya.
Dia memiliki lahan sekitar 1.745 meter persegi. Dari hasil rapat warga terdampak proyek tol Kediri-Tulungagung, terakhir di kantor Kelurahan Panggungrejo, harga sudah ditetapkan pihak pengembang per meter persegi Rp 450 ribu.
Jika dibandingkan di pasaran memang hampir sama. Namun, kata dia, perlu diingat adalah jika warga ini tidak menjual tanahnya tetap terdampak tol.
"Ini dibeli katanya harganya tinggi. Tanah saya direncanakan untuk pensiun dari karyawan," ungkapnya.
Apalagi lokasi tanah di Kelurahan Panggungrejo ini merupakan ring satu atau akses utama exit tol Kediri-Tulungagung.
Dia dan sejumlah warga direncanakan akan ada rapat terkait tol Kediri-Tulungagung, pada Selasa (31/10/2023) di Kelurahan Panggungrejo.
Rapat itu dengan harapan bisa menemukan titik temu untuk harga. "Kami tidak pernah nego harga tiba-tiba ada patokan harga," tandasnya.
Hal sama dirasakan Mia warga setempat yang ikut aksi. Dia atau orang tuanya memiliki lahan 1.861 meter persegi. Harga ganti untung Rp 480 ribu per meter persegi.
Baca Juga: Terdampak Proyek Tol Kediri-Tulungagung, Begini Curahan Hati Jamaah Masjid As-Sholihin
Jika dibandingkan di pasaran tentu selisih tidak banyak. Namun karena tidak dijual dan terkena dampak tol Kediri-Tulungagung, maka dilepas.
Meski begitu perlu ada harga ganti untung yang pantas dan lebih tinggi dari pasaran.
Warga lain di sekitar lokasi mengelukan hal sama. Lokasi bidang tanah dekat jalur antarkabupaten Tulungagung-Trenggalek, ditawar Rp 2,3 juta per meter persegi.
Padahal harga di pasaran sudah sekitar Rp 4 juta. "Kami berjuang untuk dapat hak layak," ujar perempuan enggan disebut namanya ini.
Baca Juga: Pengukuran Beres, Appraisal Tol Kediri-Tulungagung Selesai di Akhir 2023
Bahkan ada satu orang memiliki tanah 5 hektare dan diberikan harga murah. Artinya memang perlu pembahasan ulang terkait ganti untung ini.
Dari aksi tersebut, sejumlah warga berencana akan memasang spanduk penolakan di sejumlah titik. Sebab sudah ada alat peraga dan akan dipasang sejumlah warga.
Warga terus berjuang untuk mendapatkan hak layak sebagai ganti untung proyek tol Kediri-Tulungagung.
Selain itu, ada sejumlah warga menyayangkan proses negoisasi yang tak pernah terjadi dan sudah tanda tangan melepas lahan.
"Katanya musyawarah, tapi tiba-tiba muncul penetapan harga, kami belum pernah ada negosiasi selama ini. Jika rapat di kelurahan, hanya sosialisasi biasa," pungkasnya.(din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah