TULUNGAGUNG- Pertunjukan ketoprak Tulungagung dengan Lakon Gayatri Rajapadni–Gajah Mada Sumpah Palapa yang dilaksanakan di Lotu’s Garden pada Selasa (14/11/2023) lalu, menjadi sebuah persembahan untuk Hari Jadi Ke-818 Tulungagung.
Salah satu pesan yang terkandung ketoprak Tulungagung adalah agar semua seni dan budaya yang ada di Tulungagung bisa dilestarikan demi generasi penerus yang akan datang.
Pimpinan Ketoprak Cahyo Yuwono Tulungagung, Laksda (Purn) Harry Yuwono menyebut, pergelaran ketoprak Tulungagung yang diadakan malam itu juga untuk memberi wadah para seniman Tulungagung.
Baca Juga: Intip Awal Mula Kesenian Ludruk yang Ternyata Kembali Eksis
Karena, dewasa ini, banyak seniman yang sudah kehilangan panggung karena industri seni di Kota Marmer ini sudah lama menghilang.
“Sebenarnya kita ingin menggiatkan seniman yang mati suri karena tanggapan hampir sudah tidak ada lagi. Hidup di daerah seperti ini lebih tenteram kalau ada seni-seni seperti ini,” jelas Harry, sapaan akrab pria tersebut.
Poin pentingnya adalah bagaimana seni dan budaya yang ada ini harus bertahan di tengah gempuran zaman yang terjadi. Pergelaran seni yang secara rutin dilakukan, tujuan akhirnya adalah agar para generasi muda Tulungagung mau untuk mengenal dan melestarikannya.
“Intinya, seni itu harus di-uri-uri (dilestarikan) agar bisa diwariskan kepada generasi milenial atau generasi yang akan datang,” inginnya.
Diketahui, Lotu’s Garden telah beberapa kali membuat pergelaran seni ketoprak dan ludruk dengan lakon yang berkaitan dengan Tulungagung.
Sebelumnya, cerita tentang perjuangan Tumenggung Surontani yang membangun ketahanan pangan dan melawan kolonialisme Belanda. Kemudian, pernah juga membawakan cerita Treteg Ngujang yang menceritakan kisah Eyang Jayeng Kusumo, yang peninggalannya ada di daerah Demuk, Pucanglaban.
“Kalau lakon malam ini, Gayatri itu kan ada petilasannya di Kecamatan Boyolangu. Itu memiliki nilai-nilai luhur tersendiri. Bisa dikatakan, Ibu Gayatri itu tokoh pencetus Bhinneka Tunggal Ika,” jelasnya.
Harry menambahkan, banyak harapan-harapan yang tertuang melalui pergelaran Ketoprak dengan lakon Gayatri Rajapadni–Gajah Mada Sumpah Palapa.
Terutama, sebuah harapan besar agar Tulungagung semakin berbudaya dengan melestarikan seni dan budaya yang ada.
Hal itu diyakini juga akan menambah potensi pariwisata sehingga banyak wisatawan dari luar yang datang tidak hanya untuk menikmati keindahan alam, tapi juga menikmati seni dan budaya yang ada.
“Mudah-mudahan Tulungagung semakin jaya, semakin maju, semakin sukses, dan pada akhirnya rakyat semakin makmur,” tutupnya. (nul/c1/rka)
Editor : Didin Cahya Firmansyah