TULUNGAGUNG - Jembatan ngujang satu sebuah jembatan yang menghubungkan Kecamatan Ngantru dengan Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung, sering sekali digunakan oleh masyarakat sebagai tempat pesugihan, karena terdapat monyet Ngujang yang diduga adalah monyet mistis yang bisa membawa keuntungan bagi orang yang menggunakannya.
Diluar keberadaan monyet ngujang yang diduga sering digunakan untuk pesugihan, ternyata jembatan Ngujang menjadi tempat yang bersejarah bagi masyarakat Tulungagung.
Satu simbol bersejarah yang ada adalah Monumen Batalyon yang berada di sebelah utara Jembatan Ngujang tepat di sebelah tenggara simpang tiga utara jembatan.
Monumen ini berada di Desa Bendosari Kecamatan Ngantru Kabupaten Tulungagung. Pasalnya Monumen Batalyon Sikatan merupakan lambang perjuangan masyarakat Tulungagung khususnya tentara batalyon sikatan.
Patung atau monumen Batalyon Sikatan ini adalah lambang perjuangan dari sekelompok Pejuang Sikatan dengan para tentara NICA yang ingin menguasai daerah Tulungagung. Monumen Batalyon yang di bagun tegak di simpang tiga jembatan Ngujang.
Sengaja di bagun disana karena Tempat Monumen Batalyon Sikatan Berdiri adalah adalah titik perlawanan para pejuang batalyon sikatan dengan para tentara NICA.
Baca Juga: Tiga WNA di Tulungagung Tak Boleh Nyoblos Pemilu 2024, Begini Kronologinya
Bersangkutan senjata seadanya yang masih menggunakan bambu runcing, pada masa tersebut para pejuang dari Indonesia yang ada di Tulungagung kembali menang melawan tentara NICA dan berhasil menewaskan jendral dari pasukan mereka yang bersangkutan senjata perang yang modern pada masa itu.
Markas tentara Batalyon Sikatan yang terletak di Desa Tapan Kecamatan Kedungwaru Kabupaten Tulungagung.
Monumen ini diresmikan pada tanggal 28 April 1986 oleh EX DAN MOBAT SIKATAN bernama R. Moch. Sabirin Mochtar yang saat itu menjabat sebagai Mayor Jenderal TNI Purn.
Baca Juga: Pantai Dlodo: Surga Tersembunyi di Selatan Tulungagung
Namun pada saat proses perenovasian jembatan ngujang monumen ini digusur dan dipindahkan terlebih dahulu dari posisi awalnya. Monumen tersebut dipindahkan sejauh kurang lebih 50 meter keselatan dari posisi awalnya.
Selain dari Monumen Batalyon Sikatan tersebut juga masih banyak lagi tempat–tempat bersejarah di kabupaten Tulungagung pada masa penjajahan Belanda dalam bentuk perlawanan melawan para penjajah Belanda maupun bangunan bekas – bekas penjajahan Belanda.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra