TULUNGAGUNG – Beragam kereta api melintasi dan berhenti Stasiun Tulungagung (TA). Baik kereta jarak jauh maupun kereta lokal.
Wajar saja, karena stasiun yang berada di Kelurahan Kampungdalem, Kecamatan Tulungagung merupakan stasiun terbesar di Tulungagung.
Jika dicermati secara seksama, nama-nama kereta yang melintas Stasiun Tulungagung mengandung hal yang berbau sejarah maupun kearifan lokal.
KA Brawijaya
Dikutip dari civitasbook.com nama Brawijaya berasal dari kata Bhra Wijaya. Gelar bhra adalah singkatan dari bhatara, yang bermakna "baginda". Sedangkan gelar bhre yang banyak dijumpai dalam Pararaton berasal dari gabungan kata bhra i, yang bermakna "baginda di". Dengan demikian, Brawijaya dapat juga disebut Bhatara Wijaya.
Meskipun sangat populer, nama Brawijaya ternyata tidak pernah dijumpai dalam naskah Pararaton ataupun prasasti-prasasti peninggalan Kerajaan Majapahit. Oleh karena itu, perlu diselidiki dari mana para pengarang naskah babad dan serat
KA Brantas
Nama kereta api ini identik dengan nama sungai terpanjang di Jawa Timur. Sungai yang berhulu di Kota Batu ini menyimpan sejarah peradabahan besar di Jawa Timur. Apalagi dahulu fungsinya sebagai jalur transportasi yang diandalkan masyarakat.
KA Majapahit
Kereta ini mengambil nama kerajaan terbesar di Nusantara yakni Majapahit atau Wilwatikta. Dikutip dari direktorimajapahit.id Kerajaan Majapahit (1293-1527) adalah kerajaan Hindu terbesar di Nusantara yang mencapai masa kejayaan pada abad ke-13 hingga 14 Masehi. Ibukota kerajaannya diintepretasikan terletak di Trowulan, Jawa Timur berdasarkan pertimbangan sebaran temuan arkeologis.
KA Matarmaja
Dari situs KAI diketahui jika ini merupakan akronim atau singkatan nama kota yang dilintasi kereta api ini. Yakni Malang Blitar, Madiun, dan Jakarta seperti dikutip dari roda-sayap.com.
Baca Juga: Kecil Tapi Dibutuhkan Masyarakat, Berikut Fakta Stasiun Rejotangan di Tulungagung
KA Gajayana
Nama Gajayana berasal dari nama yang diambil dari gelar raja Kerajaan Kanjuruhan bernama Sang Liswa yang memerintah sekitar 760–789. Raja tersebut terkenal di kalangan brahmana maupun rakyat untuk mampu membawa ketentraman di seluruh negeri. Adapun pusat Kerajaan Kanjuruhan berada di wilayah Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.
KA Kertanegara
Dikutip dari p2k.stekom.ac.id, Kertanegara meninggal tahun 1292, adalah raja terakhir yang memerintah Kerajaan Singhasari dengan gelar Śrī Mahārājadhiraja Kṛtanāgara Wikrama Dharmmottunggadewa.
Masa pemerintahan Kertanagara dikenal sebagai masa kejayaan Singhasari. Ia sendiri dipandang sebagai penguasa Jawa pertama yang berambisi menyatukan wilayah Nusantara. Menantunya, Raden Wijaya, selanjutnya mendirikan Kerajaan Majapahit sekitar 1293 sebagai penerus Wangsa Rajasa dari Singhasari.
KA Singasari
Kereta api ini mengambil nama dari kerajaan bercorak Hindu Buddha di Jawa Timur. Kerajaan Singhasari didirikan Ken Angrok pada 1222 M. Lokasi kerajaan ini sekarang diperkirakan di daerah Singasari, Kabupaten Malang. Kerajaan Singhasari hanya sempat bertahan 70 tahun sebelum mengalami keruntuhan.
KA Malioboro Ekspress
Penamaan kereta api ini mengambil nama jalan legendaris di Kota Jogja yakni kawasan Malioboro. Secara kereta api ini melayani relasi Malang-Purwokerto pergi pulang dan dioperasikan pertama kali pada 21 September 2012.
KA Malabar
Nama Malabar diambil dari Gunung Malabar yang terletak di selatan Stasiun Bandung, tepatnya di Pengalengan, Kabupaten Bandung. Meski demikian, bisa juga ini merupakan akronim dari relasi Malang-Bandung Raya.
KA Kahuripan
Nama Kahuripan diambil dari nama suatu kerajaan di Jawa Timur. Kerajaan ini didirikan Airlangga pada 1009 dan merupakan kelanjutan dari Kerajaan Medang yang runtuh tiga tahun sebelumnya atau 1006.
KA Commuter Line Dhoho
Penamaannya berasal dari nama Kerajaan Kadiri atau Daha. Ini merupakan salah satu kerajaan hasil pembelahan yang juga didirikan Airlangga. Kerajaan ini dipimpin Wangsa Isyana dan Berpusat di Dahanapura, adalah nama sebuah kota kuno di masa lalu yang sekarang menjadi bagian dari Kota Kediri.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra