Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

30 Sanggar Meriahkan Hari Tari Sedunia 2026 di Titik Nol Kilometer Tulungagung, Ribuan Warga Memadati Lokasi

Rinto Wahyu Hidayat • Senin, 27 April 2026 | 10:14 WIB
Suasana pagelaran tari pada Sabtu (25/4/2026) di Titik Nol Kilometer Tulungagung.
Suasana pagelaran tari pada Sabtu (25/4/2026) di Titik Nol Kilometer Tulungagung.

RADAR TULUNGAGUNG – Peringatan Hari Tari Sedunia 2026 di Kabupaten Tulungagung berlangsung meriah di Titik Nol Kilometer Alun-Alun Tulungagung, Sabtu (25/4/2026).

Kegiatan yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Tulungagung ini mengusung tema “Bumi Ngrowo Mataya” sebagai simbol semangat masyarakat dalam menjaga sekaligus mengembangkan kreativitas seni budaya daerah.

Acara yang berlangsung mulai pukuli 14.00 hingga 23.00 WIB tersebut menjadi ruang ekspresi bagi para pegiat seni tari di Tulungagung.

Puluhan sanggar tari menampilkan beragam pertunjukan, di antaranya Tari Praben Prekas, Tari Laksmi, Tari Bumi Langit, hingga Tari Boran yang memukau penonton.

Baca Juga: Cerita di Balik Jambore Bersih-Bersih Masjid di Tulungagung, 500 Relawan Tanpa Sponsor Bersatu Memuliakan Rumah Ibadah

Memasuki malam hari, suasana panggung semakin semarak dengan pertunjukan seni tradisional seperti jaranan, tayub, serta sendratari “Bentenging Katresnan” sebagai puncak acara.

Ribuan masyarakat tampak memadati kawasan Titik Nol Kilometer Tulungagung untuk menyaksikan rangkaian pertunjukan seni tersebut.

Plt Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh komunitas seniman, panitia, dan pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.

Menurut dia, seni tari tidak hanya sekadar gerak tubuh, tetapi merupakan perpaduan antara irama, kekompakan, dan penghayatan jiwa.

“Tari bukan hanya gerakan tubuh, tetapi keselarasan antara irama musik, gerakan, dan jiwa yang menjiwai. Dari situ, kita belajar tentang kehidupan yang harus dijalani dengan kekompakan, kebersamaan, dan saling menghargai,” ujarnya.

Baca Juga: Santunan Anak Yatim PG Modjopanggoong Tulungagung, Perkuat Kebersamaan Sambut Musim Giling Bulan Depan

Dia menambahkan, filosofi dalam seni tari mencerminkan kehidupan masyarakat yang harus berjalan harmonis, saling mendukung, dan bekerja sesuai bidangnya masing-masing demi terciptanya kehidupan yang ayem, tentrem, serta guyub rukun.

Pemkab Tulungagung, lanjutnya, bakal memberikan ruang dan fasilitas bagi generasi muda untuk berkreasi.

Hal tersebut sekaligus menjadi bentuk penghargaan kepada para guru tari dan orang tua yang telah membimbing anak-anak untuk berkarya dalam bidang seni budaya.

“Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus digelar setiap tahun sebagai upaya nguri-nguri budaya Jawa sekaligus menghibur masyarakat,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Disbudpar Tulungagung M. Ardian Candra menjelaskan bahwa tema “Bumi Ngrowo Mataya” memiliki makna filosofis yang mendalam.

Kata Mataya sendiri berarti menari, yang menggambarkan kemampuan masyarakat untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai budaya dan kearifan lokal.

 Plt Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin membuka secara resmi kegiatan Hari Tari Sedunia 2026 di Titik Nol Kilometer Tulungagung.
Plt Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin membuka secara resmi kegiatan Hari Tari Sedunia 2026 di Titik Nol Kilometer Tulungagung.

“Maknanya, masyarakat harus mampu ‘menari’ mengikuti perkembangan zaman, tetap selaras dengan alam dan dinamika kehidupan sosial budaya,” jelasnya.

Menurutnya, seni tari merupakan bagian penting dari warisan budaya yang menjadi identitas masyarakat Tulungagung.

Karena itu, momentum Hari Tari Dunia dipandang sebagai kesempatan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam menjaga serta merawat kekayaan budaya daerah.

Pada peringatan Hari Tari Sedunia tahun ini, sekitar 30 sanggar tari turut dilibatkan dalam rangkaian pertunjukan.

Para peserta berasal dari berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak usia taman kanak-kanak hingga remaja.

Keterlibatan generasi muda tersebut diharapkan menjadi sarana edukasi sekaligus proses regenerasi pelaku seni tari di masa depan.

Latihan rutin yang dilakukan sanggar-sanggar tari dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan seni budaya tradisional.

Baca Juga: Tradisi Ulur-Ulur Telaga Buret Tulungagung Kembali Digelar, Wujud Syukur Sumber Air dan Potensi Wisata Budaya

“Melalui kegiatan ini, kami ingin mendorong masyarakat Tulungagung menjadi masyarakat yang lebih berbudaya, maju, sejahtera, dan berbahagia,” ungkapnya.

Dia juga menambahkan, peringatan Hari Tari Sedunia tahun ini menjadi yang pertama kali diselenggarakan di Tulungagung.

Pemerintah daerah berharap kegiatan tersebut dapat berkembang menjadi agenda tahunan sekaligus event budaya yang mampu menarik minat wisatawan.

Selain menjadi ruang ekspresi bagi para seniman, kegiatan ini juga diharapkan dapat mendukung perkembangan ekonomi kreatif berbasis budaya di Tulungagung.

Melalui momentum Hari Tari Sedunia 2026, Pemkab Tulungagung mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga dan melestarikan seni tari sebagai bagian dari identitas budaya daerah.

“Semoga seni tari dari Tulungagung dapat terus lestari dan semakin dikenal luas, tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga hingga mancanegara,” pungkasnya. (rin/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
#plt bupati tulungagung #alun-alun tulungagung #titik nol kilometer #Sanggar tari