RADAR TULUNGAGUNG – Program angkutan sekolah gratis yang dijalankan Dinas Perhubungan (Dishub) Tulungagung terus dimaksimalkan untuk menekan angka kecelakaan pelajar sekaligus mendukung akses pendidikan yang aman dan nyaman.
Program yang berjalan sejak 2016 itu kini melayani berbagai rute di sejumlah kecamatan dengan armada bus sekolah hingga mobil penumpang umum (MPU).
Kabid Angkutan dan Sarana Dishub Tulungagung, Oki Sakti Nugrahajati mengatakan, saat ini terdapat sembilan bus sekolah dan 33 MPU berbasis kerja sama yang dioperasikan untuk mengangkut pelajar dari berbagai wilayah menuju sekolah.
“Untuk angkutan sekolah, kita ada 9 bus dan 33 MPU. Rutenya mencakup beberapa wilayah seperti Kalidawir, Ngunut, Ngantru, Campurdarat, Sendang, sampai Pagerwojo,” ujarnya.
Baca Juga: Angka Kecelakaan Pelajar di Tulungagung Masih Tinggi, Dishub Dorong Pemanfaatan Bus Sekolah
Menurut Oki, layanan tersebut memang diprioritaskan bagi pelajar SD hingga SMA/SMK.
Operasional kendaraan juga disesuaikan dengan jam masuk dan pulang sekolah agar siswa bisa berangkat tepat waktu dan pulang dengan aman.
Setiap hari, armada mulai beroperasi sejak dini hari. Beberapa kendaraan bahkan sudah berangkat pukul 05.00 hingga 05.30 untuk menjemput siswa di daerah yang cukup jauh dari pusat kota.
“Minimal jam 6 sudah harus jalan. Karena ada wilayah yang jaraknya cukup jauh ke kota,” terangnya.
Dia menjelaskan, layanan angkutan sekolah gratis tidak hanya menjangkau jalur perkotaan. Untuk daerah pegunungan dan akses jalan sempit, dishub memanfaatkan MPU agar tetap bisa melayani kebutuhan transportasi pelajar.
Baca Juga: Tekan Angka Kecelakaan Pelajar, Radar Tulungagung dan Satlantas Gelar Edutalktif di Tiga SMP
“Kalau daerah pegunungan, kita pakai MPU. Seperti arah Sendang dan Karangrejo juga ada layanan,” katanya.
Program ini, lanjut Oki, lahir sebagai bentuk komitmen pemerintah daerah dalam meningkatkan keselamatan pelajar di jalan raya.
Dengan adanya angkutan sekolah gratis, ketergantungan siswa terhadap kendaraan pribadi, khususnya sepeda motor, diharapkan bisa berkurang.
Dishub juga membuka peluang penambahan rute maupun armada apabila ada kebutuhan dari sekolah. Sekolah dapat mengajukan proposal resmi untuk usulan layanan baru sesuai jumlah siswa dan wilayah yang membutuhkan.
“Kalau ada permintaan dari sekolah dan memang pelajarnya banyak, nanti bisa kita fasilitasi. Sekolah bisa mengajukan proposal ke dishub,” jelasnya.
Selain gratis, sistem layanan juga dibuat terkoordinasi. Orang tua, siswa, dan pengemudi tergabung dalam grup komunikasi untuk memantau jadwal keberangkatan maupun kepulangan siswa setiap hari.
“Antar jemput, semuanya gratis. Ada grup koordinasi juga antara driver dan siswa supaya lebih mudah memantau,” ungkapnya.
Oki berharap program ini semakin dimanfaatkan masyarakat, terutama pelajar SMP yang masih rentan mengalami kecelakaan lalu lintas akibat mengendarai kendaraan sendiri.
“Harapannya bisa membantu mengurangi kecelakaan pelajar. Terutama adik-adik SMP agar lebih aman saat berangkat sekolah,” tandasnya. (sri/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri