TULUNGAGUNG - Reco Pentung Tulungagung pernah menjadi salah satu pabrik rokok terbesar di Jawa Timur pada era 1980-an hingga awal 1990-an. Di balik kejayaan itu, tersimpan kisah perjuangan pendirinya, Haji Sumiran Karsodiwiryo, yang memulai usaha dari melinting rokok rumahan hingga sukses membangun kerajaan bisnis kretek legendaris.
Nama Reco Pentung Tulungagung masih melekat kuat di ingatan masyarakat. Lagu promosi “Rokok Reco Pentung” bahkan sempat populer di berbagai daerah di Pulau Jawa. Pabrik rokok tersebut dikenal sebagai simbol kejayaan industri lokal Tulungagung sebelum akhirnya runtuh akibat persaingan industri dan tekanan ekonomi nasional.
Kisah perjalanan Reco Pentung kembali diungkap oleh Mulyati, putra keempat Haji Sumiran Karsodiwiryo. Dalam penuturannya, ia menceritakan bagaimana sang ayah memulai usaha rokok dengan penuh keterbatasan sejak masa penjajahan hingga mampu menguasai pasar kretek Jawa Timur.
Perjuangan Haji Sumiran Bangun Reco Pentung dari Nol
Haji Sumiran dikenal sebagai sosok pekerja keras yang memulai bisnis rokok secara sederhana. Pada awal perjuangannya, ia membuat dan melinting rokok sendiri di rumah bersama keluarga.
“Awal-awal itu dipasarkan sendiri. Bahkan waktu masih kecil sudah ikut membantu,” ujar Mulyati dalam penuturan yang diunggah di kanal YouTube lokal Tulungagung.
Pada masa itu, produksi rokok dilakukan secara manual. Sumiran juga belajar meracik tembakau secara otodidak. Ia mencoba berbagai campuran bahan demi menemukan cita rasa khas yang berbeda dari produk lain di pasaran.
Tak hanya itu, perjuangan ekonomi keluarga juga penuh tantangan. Untuk bertahan hidup, keluarga Sumiran sempat berdagang kecil-kecilan sambil terus mengembangkan usaha rokok rumahan. Produk rokok pertama mereka perlahan dikenal masyarakat karena memiliki aroma dan rasa khas.
Memasuki era 1970-an hingga 1980-an, Reco Pentung Tulungagung berkembang pesat. Distribusi rokok mulai menjangkau berbagai kota di Jawa Timur hingga luar daerah. Nama Reco Pentung semakin besar dan menjadi salah satu merek kretek lokal yang disegani.
Masa Kejayaan Reco Pentung Pernah Capai Puncak di Era 1990-an
Puncak kejayaan Reco Pentung terjadi pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an. Saat itu, perusahaan disebut mempekerjakan ribuan karyawan dan menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat Tulungagung.
Mulyati menyebut ayahnya dikenal sebagai pengusaha pribumi yang berani bersaing dengan perusahaan rokok besar nasional. Reco Pentung bahkan sempat menjadi kebanggaan warga Tulungagung karena mampu bertahan di tengah ketatnya industri kretek Indonesia.
Selain memproduksi rokok kretek tradisional, perusahaan juga terus melakukan inovasi produk agar mampu bersaing di pasar nasional. Keberhasilan itu membuat nama Haji Sumiran semakin dikenal luas.
Tak hanya sukses dalam bisnis, Sumiran juga dikenal dekat dengan masyarakat sekitar. Banyak warga menggantungkan hidup dari keberadaan pabrik rokok tersebut. Perusahaan itu disebut membawa dampak ekonomi besar bagi Tulungagung pada masanya.
“Reco Pentung pernah berada di masa paling jaya,” ungkap Mulyati.
Namun memasuki pertengahan 1990-an, kondisi industri rokok mulai berubah. Persaingan semakin ketat, biaya produksi meningkat, dan dominasi perusahaan besar membuat industri rokok lokal kesulitan bertahan.
Reco Pentung Runtuh, Nama Haji Sumiran Tetap Dikenang Warga
Sekitar tahun 1995, Reco Pentung mulai mengalami kemunduran. Situasi ekonomi dan tekanan industri membuat perusahaan perlahan kehilangan kekuatan bisnisnya.
Meski sempat bertahan beberapa tahun, kejayaan Reco Pentung akhirnya benar-benar meredup. Banyak aset perusahaan terbengkalai dan aktivitas produksi berhenti total.
Haji Sumiran sendiri meninggal dunia pada 1997. Meski demikian, namanya tetap dikenang warga Tulungagung sebagai sosok pengusaha lokal yang berhasil membangun industri besar dari nol.
Hingga kini, kisah perjuangan Haji Sumiran masih sering dibicarakan masyarakat. Beberapa bangunan peninggalan Reco Pentung dan kompleks makam keluarga di kawasan Pantai Popoh juga masih menjadi perhatian warga maupun konten kreator lokal.
Bagi masyarakat Tulungagung, Reco Pentung bukan sekadar merek rokok. Nama itu dianggap sebagai simbol perjuangan, kerja keras, dan kebangkitan ekonomi rakyat kecil yang pernah berjaya di Jawa Timur.
Editor : Dyah Wulandari