Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Tumpeng Hasil Bumi Diarak Keliling Pantai Gemah Tulungagung, Simbol Doa dan Harapan Warga Keboireng Sambut Tahun Baru Islam

Rahiiq Al Bachri • Rabu, 17 Juni 2026 | 09:24 WIB
Anggota pokdarwis dan pengunjung menggotong tumpeng besar berisi hasil bumi mengelilingi area Pantai Gemah di agenda Grebeg Sura, Selasa (16/6/2026).(RAHIIQ/RADAR TULUNGAGUNG)
Anggota pokdarwis dan pengunjung menggotong tumpeng besar berisi hasil bumi mengelilingi area Pantai Gemah di agenda Grebeg Sura, Selasa (16/6/2026).(RAHIIQ/RADAR TULUNGAGUNG)

RADAR TULUNGAGUNG - Hamparan pasir Pantai Gemah, Desa Keboireng, Kecamatan Besuki, Tulungagung, berubah semarak saat ribuan warga mengikuti tradisi Grebeg Sura.

Bertepatan dengan momentum Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, warga membawa tumpeng dan gunungan sebagai wujud rasa syukur sekaligus doa menyambut lembaran tahun baru.

Tradisi yang telah berlangsung turun-temurun tersebut tidak sekadar menjadi kegiatan budaya.

Bagi masyarakat setempat, Grebeg Sura menjadi ruang untuk memanjatkan harapan agar Pantai Gemah kembali bergeliat sebagai salah satu penggerak ekonomi warga pesisir.

Baca Juga: Tradisi Malam 1 Suro Kian Disalahpahami, Ini Makna Megeng Napas dan Ngumbah Pusaka yang Sebenarnya Menurut Budaya Jawa

Kepala Desa Keboireng, Supirin mengatakan, Grebeg Sura merupakan bentuk rasa syukur masyarakat atas rezeki dan keselamatan yang telah diberikan selama satu tahun terakhir.

Lebih dari itu, momentum tersebut juga menjadi doa bersama untuk masa depan Pantai Gemah.

"Grebeg Sura ini bentuk rasa syukur masyarakat sekaligus harapan agar pariwisata Pantai Gemah kembali berkembang dan memberikan manfaat ekonomi bagi warga," katanya.

Menurutnya, keberadaan Pantai Gemah memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat sekitar.

Baca Juga: 7 Larangan Pernikahan dalam Adat Jawa yang Masih Dipercaya, dari Nikah Bulan Suro hingga Hitungan Weton 25

Banyak warga yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas wisata, mulai pedagang, pelaku usaha kecil, hingga penyedia jasa di kawasan pantai.

"Tradisi ini tidak hanya menjaga budaya, tetapi juga menjadi daya tarik wisata. Harapannya, masyarakat, pengunjung, dan pelaku usaha bisa kembali merasakan dampak positif dari ramainya wisata," imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Tulungagung Muhammad Ardian Candra yang hadir mewakili Plt Bupati Tulungagung mengapresiasi konsistensi warga Keboireng dalam mempertahankan tradisi lokal.

Menurut dia, kekuatan pariwisata tidak hanya berasal dari keindahan alam, tetapi juga dari keberadaan budaya yang melekat di masyarakat.

Baca Juga: Pantangan Pernikahan Jawa yang Masih Dipercaya, dari Jilu hingga Larangan Nikah Bulan Suro

"Tradisi seperti Grebeg Sura menjadi kekayaan daerah. Wisatawan tidak hanya datang menikmati pantai, tetapi juga mendapatkan pengalaman budaya yang menjadi ciri khas Tulungagung," katanya.

Candra menilai Pantai Gemah memiliki potensi besar karena menggabungkan panorama alam dan kekuatan tradisi masyarakat pesisir.

Kolaborasi antara pemerintah dan warga menjadi kunci agar potensi tersebut terus berkembang. 

"Pantai Gemah adalah salah satu kebanggaan wisata Tulungagung. Potensi alam dan budaya ini harus terus dijaga untuk mendukung ekonomi masyarakat," jelasnya. (bac/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
#grebeg sura #gunungan #pantai gemah #tumpeng #disbudpar