RADAR TULUNGAGUNG - Ratusan warga Dusun Selojeneng Wetan, Desa Sumberdadi, Kecamatan Sumbergempol, Tulungagung, kembali menghidupkan tradisi malam 1 Sura dengan balutan kearifan lokal.
Kenduri agung yang digelar di pelataran Masjid Baiturrahman tersebut menjadi momentum untuk mengenang jejak dakwah wali sekaligus menjaga warisan budaya Jawa-Islam.
Ketua pelaksana sekaligus sesepuh desa, Muhammad Zaiful Bahri mengatakan, tradisi tersebut bukan sekadar rutinitas tahunan. Kenduri malam 1 Sura merupakan bentuk pelestarian cara dakwah para wali yang dahulu menyampaikan nilai agama melalui pendekatan budaya.
"Salah satunya terlihat dari keberadaan takir plonthang yang selalu hadir dalam kenduri. Itu bagian dari jejak metode dakwah para wali agar ajaran bisa diterima masyarakat," jelasnya.
Baca Juga: Malam 1 Sura di Pantai Popoh Tak Sekadar Tradisi, Jadi Strategi Bangkitkan Pariwisata Tulungagung
Menurut dia, istilah takir plonthang sendiri diyakini berasal dari penyampaian masyarakat zaman dahulu terhadap kalimat zikir yang diajarkan para wali.
Karena keterbatasan pemahaman bahasa Arab, penyebutan tersebut kemudian berkembang menjadi istilah takir plonthang.
"Takir plonthang itu sebenarnya dari kata zikir. Karena orang dulu belum banyak memahami bahasa Arab, akhirnya terdengar menjadi takir plonthang," jelasnya.
Tidak hanya nama, setiap bagian dalam sajian kenduri juga memiliki filosofi tersendiri.
Hiasan janur kuning pada takir disebut memiliki makna datangnya cahaya. Sementara tumpeng dimaknai sebagai ajakan untuk bekerja sungguh-sungguh dalam menjalankan kehidupan.
"Tumpeng itu dari makna tumindak sing mempeng, artinya manusia harus bersungguh-sungguh dalam berbuat baik," terangnya.
Selain tumpeng, warga juga membawa jenang dengan berbagai jenis.
Jenang merah dimaknai sebagai doa penolak bala, jenang sepuh sebagai wujud sedekah bumi, sedangkan jenang Sura menjadi simbol penghormatan terhadap bulan Muharam.
Zaiful berharap generasi muda tetap menjaga tradisi tersebut di tengah perkembangan zaman. Baginya, menjadi masyarakat Jawa yang memeluk Islam tidak berarti harus meninggalkan akar budaya leluhur.
"Harapannya, Jawa tetap lestari. Menjadi orang Islam yang Jawa, bukan berarti setelah mengenal Islam lalu melupakan adat Jawa, karena kita hidup di tanah Jawa," pungkasnya. (bac/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri