Radar Tulungagung - Libur MBG berdampak langsung pada penjualan sayur di Tulungagung. Volume penjualan menurun setelah pasokan ke dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berhenti. Meski begitu, pedagang memastikan kondisi tersebut belum mengarah pada kerugian.
Libur MBG membuat penjualan sayur di Tulungagung mengalami penyesuaian. Pedagang kehilangan salah satu sumber permintaan besar, tetapi stabilitas laba masih terjaga. Kondisi ini dipengaruhi oleh mulai normalnya harga komoditas di pasaran.
Penurunan volume penjualan sayur akibat libur MBG di Tulungagung memang tidak terhindarkan. Namun, pelaku usaha menilai situasi ini lebih sebagai koreksi pasar dibanding tekanan yang merugikan.
Volume Penjualan Turun, Laba Tetap Aman
Pedagang sayur di Tulungagung, Udin, mengakui dampak paling terasa dari libur MBG adalah berkurangnya volume penjualan. Sebelumnya, permintaan dari dapur MBG menjadi salah satu penopang utama transaksi harian.
"Jelas secara volume penjualan turun karena biasanya ada pesanan MBG, sekarang sudah tidak ada," ujarnya.
Meski omzet ikut menurun, Udin menegaskan hal itu tidak otomatis berarti kerugian. Ia justru melihat kondisi usahanya tetap stabil, bahkan keuntungan tidak mengalami penurunan signifikan.
"Omzet turun itu bukan berarti rugi. Laba tetap stabil, bahkan sejak MBG libur justru meningkat," katanya.
Menurutnya, kondisi ini dipengaruhi oleh harga sayuran yang kini mulai kembali normal setelah sebelumnya sempat melonjak akibat tingginya permintaan dari program MBG.
Harga Normal Jadi Penopang Stabilitas
Udin menjelaskan, stabilnya laba tidak lepas dari perubahan harga di tingkat pasar. Saat permintaan tinggi, harga sempat naik, tetapi kini kembali seimbang.
Normalisasi harga membuat aktivitas perdagangan lebih terkendali. Pedagang tidak lagi terbebani fluktuasi ekstrem yang sebelumnya terjadi saat permintaan melonjak.
Namun, dampak berbeda dirasakan pelaku usaha yang baru masuk sebagai pemasok khusus MBG. Mereka menghadapi tantangan lebih berat karena telah menyiapkan stok dalam jumlah besar.
"Ada pemain baru yang hanya berfokus memasok MBG. Ketika program libur, buffer stock mereka belum habis sementara harga terus turun," jelasnya.
Sementara itu, pelaku usaha lama dinilai lebih mampu beradaptasi. Mereka hanya kehilangan peluang mendapatkan keuntungan lebih besar, bukan mengalami kerugian signifikan.
"Kalau yang sudah lama ya hanya kehilangan momentum mendapat keuntungan lebih besar saja," imbuh Udin.
Dampak Serupa pada Komoditas Lain
Fenomena serupa juga terjadi pada komoditas telur. Peternak sekaligus supplier MBG, Jantur, menyebut penurunan harga sudah terjadi sebelum program MBG libur.
"Harga telur memang sudah mulai turun sebelum MBG libur. Kemungkinan karena permintaan menurun sesuai mekanisme pasar," katanya.
Menurut Jantur, fluktuasi harga merupakan hal yang lazim dalam usaha peternakan. Meski harga saat ini belum mencapai titik impas atau break even point (BEP), pelaku usaha tetap harus bertahan.
"Dengan harga sekarang memang belum BEP, tetapi peternak tetap harus bertahan sampai harga kembali membaik," ujarnya.
Ia menambahkan, jika kondisi berlangsung lama, peternak biasanya akan mengurangi populasi ayam. Namun langkah tersebut juga memiliki risiko tersendiri terhadap keberlanjutan usaha.
Di sisi lain, Jantur berharap pemerintah lebih memperkuat sektor peternakan lokal. Ia menilai peningkatan penyerapan hasil produksi dalam negeri melalui program seperti MBG jauh lebih penting dibanding membuka peluang impor.
"Produksi telur dalam negeri sebenarnya cukup. Daripada impor, lebih baik pemerintah mendukung peternak lokal melalui bantuan permodalan, pendampingan, dan kebijakan yang berpihak," pungkasnya.
Penurunan penjualan sayur di Tulungagung akibat libur MBG memang nyata. Namun bagi pedagang berpengalaman, kondisi tersebut belum mengganggu stabilitas usaha, terbukti dari laba yang tetap terjaga meski volume penjualan menurun.
Editor : Rahiiq Al Bachri