Radar Tulungagung - Larung Sembonyo kembali digelar masyarakat Dukuh Sidem, Desa Besole, Kecamatan Besuki, Minggu (12/7). Tradisi yang rutin dilaksanakan setiap bulan Sura itu menjadi ungkapan rasa syukur masyarakat kepada Allah SWT atas hasil bumi dan hasil laut yang menjadi sumber penghidupan warga.
Prosesi diawali dengan kirab Muter Gelang mengelilingi kampung. Selanjutnya masyarakat berjalan menuju Pantai Sidem untuk mengikuti prosesi larung sesaji sebagai puncak rangkaian Sedekah Bumi.
Juru Kunci Larung Sembonyo Bakat menjelaskan, tradisi tersebut merupakan warisan leluhur yang tetap dipertahankan karena mengandung nilai religius. Menurut dia, larung sesaji bukanlah bentuk penyembahan kepada selain Allah SWT, melainkan simbol rasa syukur atas rezeki yang diterima masyarakat.
"Larung Sembonyo merupakan upacara adat Sedekah Bumi sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas hasil bumi dan hasil laut yang menjadi sumber penghidupan masyarakat Sidem," ujarnya.
Dia menambahkan, doa yang dipanjatkan sebelum prosesi larung juga dimaksudkan untuk memohon keselamatan dan keberkahan bagi masyarakat. Selain itu, doa tersebut menjadi bentuk penghormatan kepada para leluhur yang pertama kali membuka kawasan Sidem.
"Kami tetap hanya menyembah Allah SWT. Nilai utamanya adalah bersyukur kepada Allah serta menghormati para leluhur yang telah berjasa membuka wilayah ini," tegasnya.
Kepala Desa Besole Suratman berharap tradisi tersebut terus dilestarikan sebagai pengingat pentingnya rasa syukur kepada Tuhan sekaligus menjaga nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
"Tradisi ini harus terus dilestarikan karena menjadi wujud syukur dan kebersamaan warga Sidem," tuturnya.
Editor : Rahiiq Al Bachri