Harga Ayam di Pasar Ngemplak Tulungagung Tembus Rp 40 Ribu, Pembeli Makin Sepi

Rahiiq Al Bachri • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:54 WIB
Pedagang daging ayam di Pasar Ngemplak Tulungagung mengeluhkan harga yang masih tinggi dan berdampak pada penurunan jumlah pembeli.(RAHIIQ/RATU)
Pedagang daging ayam di Pasar Ngemplak Tulungagung mengeluhkan harga yang masih tinggi dan berdampak pada penurunan jumlah pembeli.(RAHIIQ/RATU)

 

RADAR TULUNGAGUNG – Harga daging ayam ras di Pasar Ngemplak Tulungagung bertahan di kisaran Rp 40 ribu per kilogram. 

Kenaikan harga mulai memukul pedagang karena pembeli, terutama pelaku usaha kuliner, memilih mengurangi jumlah belanja.

Sulastri, pedagang daging ayam di Pasar Ngemplak Tulungagung, mengatakan harga Rp 40 ribu tersebut telah bertahan lebih dari sepekan.

Padahal, dalam kondisi normal, harga ayam berada di kisaran Rp 30 ribu-Rp 32 ribu per kilogram.

“Kalau harga ayam sekitar Rp 30 ribu sampai Rp 32 ribu, penjualan biasanya lebih lancar. Tetapi sekarang ketika harganya mencapai Rp 40 ribu, ayam tidak begitu lancar terjual,” ujarnya.

Kondisi itu terlihat dari berkurangnya pembelian pelanggan. Pedagang makanan yang biasanya mengambil ayam dalam jumlah besar mulai menekan belanja karena kenaikan harga bahan baku membuat margin usaha mereka semakin tipis.

Baca Juga: Pasar Susu Mulai Pulih, Peternak Tulungagung Tak Lagi Khawatir Produksi Tak Terserap

“Misalnya, biasanya pedagang bakso mengambil sekitar 5 kilogram setiap hari, sekarang jumlahnya tidak sampai 5 kilogram,” katanya.

Data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jawa Timur per 20 Agustus 2026 mencatat harga daging ayam ras Rp 38.183 per kilogram.

Artinya, harga di tingkat pedagang Pasar Ngemplak sekitar Rp 1.817 lebih tinggi dibanding angka tersebut.

Bagi pedagang, persoalannya bukan sekadar harga mahal. Ketika harga naik, pembeli justru berkurang sehingga ayam yang sudah dipotong tidak selalu habis dalam sehari.

“Semenjak harga ayam mencapai Rp 40 ribu, setiap hari selalu ada sisa,” ungkap Sulastri.

Ayam yang tersisa terpaksa disimpan di freezer untuk dijual kembali. Namun, semakin lama disimpan, kualitas daging berisiko menurun.

Baca Juga: Kisah Gufron Herlambang, Pemuda Tulungagung Sukses Budi Daya Ikan Koi hingga Tembus Pasar Vietnam dan Filipina

Kondisi tersebut membuat pedagang berada dalam posisi serbasulit: menjual dengan harga tinggi berisiko tidak laku, sedangkan menurunkan harga bisa memangkas keuntungan.

Pedagang ayam lainnya yang telah berjualan sekitar 25 tahun mengaku kerap terpaksa menurunkan harga ketika dagangan tidak kunjung habis.

Ayam yang seharusnya dijual Rp 40 ribu per kilogram bisa dilepas Rp 35 ribu-Rp 38 ribu agar tidak terlalu lama tersimpan.

“Kalau tidak laku, terpaksa dijual lebih murah. Untuk pelanggan yang membeli sebagai pedagang, biasanya harganya sekitar Rp 36 ribu,” tuturnya.

Langkah tersebut membuat keuntungan semakin tipis. Bahkan, dalam kondisi tertentu, pedagang mengaku harus menanggung kerugian karena harga jual tidak mampu menutup modal.

“Sebenarnya kami rugi. Bukan saya saja, tetapi hampir semua pemotong dan pedagang ayam merasakan kondisi yang sama,” katanya.

Penurunan permintaan paling terasa dari pelaku usaha kuliner. Pelanggan yang sebelumnya mampu membeli hingga 10 kilogram, kini hanya mengambil sekitar 2 kilogram.

Pedagang mi ayam yang biasanya membeli 3 hingga 5 kilogram juga mulai mengurangi belanja.

“Pedagang mi ayam yang biasanya mengambil 3, 4, sampai 5 kilogram juga sekarang mengurangi pembelian. Mereka tidak bisa membeli banyak karena harga ayam terlalu mahal, dan kalau dijual kembali ke konsumen, keuntungan mereka menjadi sedikit,” jelasnya. (bac/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
pedagang pasar ngemplak kuliner harga ayam